CSRINDONESIA.COM – Kabut pagi masih menyelimuti kawasan Serpong ketika sekelompok perempuan dengan semangat yang tak terhalangi menyusuri petak-petak lahan hijau. Tanggal 30 Januari 2026 bukan sekadar hari Jumat biasa. Di tangan mereka, bukan tas mewah atau laptop, melainkan keranjang anyaman yang siap menampung keharuman. Mereka adalah Malahayati, sebuah nama yang lahir dari semangat Pramuka Putri SMAN 68 Jakarta tahun 1984, kini menjelma menjadi perkumpulan profesional yang tangan-tangannya telah menyentuh kehidupan dari Purwakarta hingga negeri jiran. Hari itu, mereka melakukan panen pertama bunga sedap malam di sebuah kebun percobaan seluas 6 hektar, lahan milik negara yang menemukan denyut hidup baru.
Kebun itu sendiri adalah buah pemikiran alumni SMAN 68 angkatan 86, yang menyawerkan ide untuk menghidupkan lahan di bawah Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BPMP) Kementerian Pertanian. Lahan itu tak lagi diam. Ia dipilih menjadi tempat mengejar waktu, mengejar permintaan pasar di momen Lebaran dan Imlek 2026. Bunga sedap malam dipilih dengan perhitungan matang, masa tanam sembilan bulan menjanjikan rentetan panen berkelanjutan. Namun di balik kalkulasi bisnis itu, ada narasi yang lebih dalam. Ini tentang pemberdayaan.
Di sela rumpun-rumpun sedap malam yang siap dipetik, juga tumbuh pokcoy, anggrek, pisang, dan cabai. Sebuah mosaik pertanian yang dikelola dengan teliti di bawah bimbingan dua ahli, Sri Nawangsih Ernawati dari IPB dan Musalamah dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Hias BPMP. Tujuannya jelas, memberdayakan petani perempuan sekitar Serpong. Memberi mereka bukan sekadar proyek, tetapi pengetahuan dan peningkatan pendapatan yang berkelanjutan. “Rencana kami, lahan ini akan dijadikan edukasi wisata untuk masyarakat luas,” ujar Ibu Ketty, selaku Marketing BPMP. Sebuah visi yang mengubah lahan perakitan alat pertanian menjadi lahan perakitan kemandirian.
Malahayati bukan nama asing dalam peta kesukarelawanan. Jejak mereka tercatat dari aksi sosial di Batam, Belitung, hingga Ujung Kulon. Mereka bahkan menggagas program cuci tangan bersih, sebuah inisiatif sederhana yang dampaknya luar biasa. Pada 2023, program “Malahayati Berbagi” mereka diakui secara nasional, meraih penghargaan CSR Indonesia Awards untuk kategori “Kepedulian Sosial”. Penghargaan itu bukanlah akhir, melainkan batu pijakan. Kini, dengan kolaborasi bersama BPMP, mereka melangkah lebih jauh. Mereka tidak hanya memanen bunga, tetapi juga menabur benih minat. Edu Wisata yang digadang-gadang adalah upaya membumikan ilmu pertanian modern, membuatnya menarik dan terjangkau bagi masyarakat luas.
Panen hari itu pun lebih dari sekadar aktivitas pertanian. Itu adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang. Perjalanan sekelompok alumni yang memutuskan untuk mengubah ikatan alma mater menjadi energi sosial. Perjalanan petani perempuan yang menemukan ruang untuk berkarya dan belajar. Perjalanan sebuah lahan pemerintah yang menemukan relevansinya langsung dengan masyarakat. Setangkai sedap malam yang dipetik mungkin akan menemani perayaan di meja-meja keluarga. Namun harumnya yang lembut dan gigih, adalah metafora yang sempurna untuk perjuangan sunyi para perempuan Malahayati dan mitra petani mereka. Mereka membuktikan, bahwa di tanah yang dikelola dengan hati, yang tumbuh bukan hanya tanaman, tetapi juga optimisme. Dan di Kebun Badan Perakitan itu, optimisme itu sedang mekar, beraroma sedap malam, siap menyebar ke mana angin membawanya. |CSRI.
















