
CSRINDONESIA – Di tengah gunungan sampah yang kian menggila, sebuah mesin mungil berdiri di halaman SMAN 2 Sukabumi. Bukan vending machine pemuas dahaga, melainkan kebalikannya. Di sinilah kisah revolusi dimulai, bukan dengan demonstrasi, tetapi dengan kemasan plastik kosong yang dimasukkan ke mesin, ditukar menjadi insentif digital. Satu-satu, pelan-pelan, seperti membalik sejarah kota kecil ini dalam menghadapi krisis ekologisnya.
Sukabumi bukan satu-satunya kota yang tenggelam dalam krisis sampah. Namun, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Sukabumi tahun 2024, kota ini menghasilkan 184,41 ton sampah per hari. Sekitar 60 persennya adalah sampah organik, sisanya anorganik, mayoritas plastik. Dengan hanya satu Tempat Pembuangan Akhir yang sudah melebihi kapasitas di Cikundul, kota ini ibarat menabung bom waktu dalam kantong kresek.
Di sinilah SMA Negeri 2 Sukabumi mengambil posisi. Kepala Sekolah Rachmat Mulyana menyadari bahwa sekolah tak bisa lagi sekadar mengajarkan perubahan dari buku teks. Ia dan murid-muridnya memulai langkah kecil: memilah sampah di lingkungan sekolah. Namun, seperti banyak program lingkungan yang berbasis semangat tanpa sistem, inisiatif itu terengah-engah, kehilangan arah setelah beberapa bulan.
Sampai kemudian datang sebuah ide tak biasa dari Ruswanto, pendiri Sahabat Lingkungan, komunitas muda yang menamakan diri mereka Saling.id. Mereka tidak datang membawa pidato, melainkan teknologi. Sebuah mesin yang disebut Reverse Vending Machine, RVM, yang bekerja terbalik dari mesin minuman. Di sini, anak-anak tidak membeli, tetapi menyetor sampah plastik dan mendapatkan imbalan uang digital.
“Pemilahan tidak cukup. Kami butuh sistem yang membentuk kebiasaan baru. RVM adalah cara kami menyederhanakan daur ulang sekaligus mengedukasi publik,” ujar Ruswanto.
RVM bukan sekadar mesin. Ia adalah alat perubahan. Setiap botol yang dimasukkan akan dicacah, diolah, dan dijadikan bahan baku baru. Produk-produk hasil daur ulang dijadikan hiasan, dijual, dan menjadi ladang ekonomi baru bagi warga sekitar. Inilah yang disebut ekonomi sirkular, ketika sampah bukan lagi akhir, tetapi awal dari nilai baru. Gagasan yang sebelumnya terdengar abstrak, kini menjelma nyata di halaman sekolah negeri.
Lebih dari sekadar teknologi, program yang dinamai Your Waste Solution ini adalah satu dari tiga proyek iklim dalam program Climate Skills yang didukung oleh HSBC dan British Council. Di dua lokasi lain, di Bandung Barat dan Cianjur, inisiatif serupa dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan tantangan lokal. Di Sukabumi, fokusnya adalah plastik. Di tempat lain mungkin soal air, energi, atau pangan.
Summer Xia, Direktur British Council untuk Indonesia dan Asia Tenggara, menyebut proyek ini sebagai bukti bahwa perubahan bukan monopoli elit. “Krisis iklim bukan hanya butuh kesadaran, tapi keberanian dan aksi nyata. Anak muda bisa menjadi motor perubahan,” ujarnya.
Dalam ekosistem pendidikan yang sering kali terjebak kurikulum kaku dan tuntutan akademik, SMAN 2 Sukabumi membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi laboratorium masa depan. Mesin kecil itu, yang menerima botol plastik dan membalasnya dengan rupiah digital, mungkin terdengar sepele. Tapi ia membawa gagasan besar bahwa setiap aksi kecil yang didukung sistem dan komunitas bisa menjadi gerakan. Bisa jadi revolusi.
Jika di kota-kota besar, perubahan sering datang dari perusahaan raksasa atau inisiatif negara, di Sukabumi perubahan dimulai dari tangan siswa SMA. Dari sekeping plastik yang tak dibuang sembarangan. Dari keberanian untuk mencoba sistem baru yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dari harapan bahwa bumi yang rusak bisa diperbaiki, sedikit demi sedikit, dari sekolah biasa di sudut Jawa Barat. |WAW-CSRI













