Home CSR Agraris PRODUKSI BERAS NASIONAL OPTIMIS 40 JUTA TON TANPA PROYEK SAWAH 1 JUTA...

PRODUKSI BERAS NASIONAL OPTIMIS 40 JUTA TON TANPA PROYEK SAWAH 1 JUTA HA

25

PRODUKSI BERAS NASIONAL OPTIMIS 40 JUTA TON TANPA PROYEK SAWAH 1 JUTA HA

 

Oleh : Dr. Ir. Memet Hakim, MM

Wanhat Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB) Pengamat Pertanian

 

Proyek sawah di lahan gambut 1 juta ha, diduga akan menjerat Menteri Pertanian Amran Sulaiman, apalagi dilaksanakan bersama RRC. Kenapa di Kalimantan sawah tidak berkembang dan tidak ideal dikembangkan ? Saat Presiden Suharto masih ada proyek 1 juta ha sawah, gagal, proyek food estate di jaman Jokowi gagal juga. Keduanya merupakan pengalaman yang baik untuk dijadikan pedoman. Untuk meningkatkan produksi Nasional beras dari 30 juta ton menjadi 40 juta ton masih ada alternatif lain yang lebih realistis.

Ada kesalahan mendasar di dalam mindset para pemegang keputusan dalam mengelola suatu Negara yang berdaulat yang menganggap pangan sebagai komoditi biasa. Ini yang harus diperbaiki. Pertama petani itu harus punya pendapatan yang wajar dan cenderung berpendapatan tinggi, kedua Harga beras tidak harus murah, tetapi wajar, sehingga konsumen non petani dapat membelinya, ketiga Pemerintah lewat Bulog harus mau membeli Gabah petani setiap saat minimal 20 % dari kapasitas Nasional, keempat Koperasi yang selama ini tidak berkembang harus menjadi Lembaga terdepan untuk membeli Gabah Kering Panen dan diolah menjadi beras.

Indonesia pernah mempunyai karya besar di bidang pangan yakni ditahun 1960-1970an dengan program Bimas dan Inmas yang mengantarkan Indonesia menjadi swasembada pangan, bahkan menjadi eksportir beras. Artinya “swasembada pangan bisa dicapai, jika ada kemauan kuat dari pemerintah dan para wakil rakyatnya”. Untuk itu diperlukan kemauan politik yang kuat. Program ini tidak lepas dari dukungan pabrik pupuk yang dibangun di Indonesia. Indonesia yang kaya akan gas alam, mempunyai banyak potensi untuk menghasilkan pupuk Urea, tetapi pupuk KCl tetap harus diimpor karena tidak tersedia di Indonesia. Pupuk Phosphat walau tersedia kadarnya rendah, maka dari itu sebagian masih di impor.

Sebagai gambaran Produksi Beras sejak tahun 2018 sampai sekarang cenderung stagnan dan bahkan menurun, padahal konsumsi beras Nasional selalu meningkat karena pertumbuhan penduduk, termasuk TKA RRC dan wisatawan yang datang. Artinya ada penurunan produksi akibat luasan dan produktivitas berkurang.

Konsumsi beras Nasional sekitar 2,5 juta ton/bulan. Artinya untuk bisa swasembada diperlukan30+5juta ton = 35 juta juta ton (cadangan 2 bulan) atau 30 + 7.5 juta ton = 37.5 juta ton (cadangan nasional 3 bulan). Jadi untuk mencapai swasembada beras, setidaknya produksi beras nasional perlu ditingkatkan antara sebesar 17%-25%. Mungkinkah ? Tentu sangat mungkin bahkan lebih dari itupun  bisa dilakukan.

Intensifikasi pertanian secara massal (INMAS) yang sukses pada tahun 1960-1970 an, bagus sekali jika dilakukan kembali dengan cara a.l. menjalankan program panca usaha tani yang berarti usaha meningkatkan produktivitas lahan pertanian terdiri dari:1. Pengolahan lahan, 2. Penggunaan pengairan (irigasi). 3. Penggunaan pupuk, baik pupuk kandang, pupuk hijau, maupun pupuk buatan, 4. Penggunaan bibit unggul dan 5. Pengendalian Hama Terpadu.  Kerahkan Mahasiswa dan Siswa SMK Pertanian untuk dimanfaatkan kembali dalam bentuk KKN untuk membantu program ini.

Tabel 1. Perkembangan Luas Areal Sawah 2020-2024*

No Uraian 2020 2021 2022 2023 2024  ˃ 2025
1 Luas Sawah Nasional 10.66 10.52 10.45 10.21 10.46 12.03
2 Luas baku 7.46 7.46 7.46 7.46 7.46 7.46
Prosentasi Tanam 143% 141% 140% 137% 140% 161%
1 Ton Padi GKG 54.65 54.42 54.75 53.63 55.42 63.73
2 Ton Beras 31.33 31.36 31.54 30.90 31.89 40.79
Rendemen (%) 57.33% 57.63% 57.61% 57.62% 57.54% 64.00%

Sumber : BPS, 2020-2024 Data box 2020-2024. *) Prediksi

 

Untuk mencapai jumlah diatas rasanya tidak terlalu sulit, apalagi jaringan petugas pertanian sangat tersebar sampai Tingkat Desa. Bhahkan mau meningkat lebih dari 33 % juga masi besar peluangnya, al menambah luas areal irigasi, mengganti bibit dengan bibit ya ng lebih unggul dan meingkatkan peran agronomi dalam bentuk panca usaha. Masalahnya harus ada “kemauan politik yang kuat dan konsisten serta perubahan minset di dalam melihat peran dan produk pertanian”. Perhitungan peningkatan produksi beras Nasional diuraikan sebagai berikut :

Tabel 2. Proyeksi Pertambahan Produksi Beras Nasional (2025-2030)

Uraian Luas, % Peningkatan
Prediksi 2024  2025-2030 Pertambahan Beras Nasional
1. Meningkatkan Luas Tanaman Padi (Ha) sebesar 15% 10.46 12.03 1.57 4.54
    Luas Sawah Baku tidak berubah 7.46 7.46
2. Meningkatkan “Konversi” GKG ke Beras (6.46%) 58% 64.00% 6.46% 1.96
3. Meningkatkan Protas dengan INMAS/Panca Usaha (5%) 0% 5% 5% 1.51
4. Pergantian Varitas unggul (Pot. ˃ 4.5 ton Beras/ha) 2.90 3.30 0.40 4.85
5. Penambahan Subsisi Pupuk (Juta ton) Total ditingkatkan) 2.90 3.10 0.20 2.45
6. Perbaikan HPP GKP ( missal 2024 Rp 6000 jadi Rp 7000) 2.90 3.20 0.30 3.65
7. Total Pertambahan Produksi Beras Nasional 18.97

 

Dengan adanya tambahan produksi beras sebanyak 18.97 juta ton, maka produksi beras Nasional menjadi 31 juta + 19 Juta = 40 juta ton beras, suatu jumlah yang lebih dari cukup untuk konsumsi Dalam Negeri. Rincian kenaikkan produksi sebagai berikut :

  1. Meningkatkan areal tanam di sawah ber-irigasi, cukup dengan memperpaiki saluran irigasi yang telah ada dan memanfaatkannya. Dari sektor ini diperkirakan areal persawahan yang dapat ditanami 2x setahun akan meningkat sebesar 15 % dari 46 juta ha menjadi 12.03 juta ha. Artinya sawah yang ditanam 2x per tahun menjadi lebih luas. kenaikkan jumlah sawah yang dapat ditanami 2x dari 140% menjadi 161 %. Jika dilakukan secara bertahap dalam waktu 3-4 tahun tentu tidaklah berat. Langkah ini dapat meningkatkan produksi nasional sebesar 15 % atau 4.54 juta ton beras. Jumlah ini akan lebih besar lagi jika seluruh areal sawah dapat ditanami sebanyak 2x per tahun dan atau luas bakunya bertambah.
  2. Meningkatkan konversi Gabah Kering Panen sebesar 6.46 % dari realisasi saat ini dari 57.5% menjadi 64 % sesuai dengan pedoman teknis yang ada. Artinya kehilangan saat pengolahan (losses) ditekan sedapat mungkin. Langkah ini dapat meningkatkan produktivitas sebesar 1.96 juta ton beras per tahun
  3. Meningkatkan produktivitas dengan Intensifikasi Massal (INMAS), melakukan kembali Gerakan ini dengan memanfaatkan para Mahasiswa san Siswa SMK Pertanian di seluruh Indonesia untuk memberikan penyuluhan di lapangan. Langkah ini diprediksi dapat meningkatkan produktivitas sebesar 5%, inipun tentu tidaklah berat. Langkah ini dapat meningkatkan produksi beras Nasional sebesar 1.51 juta ton /tahun.
  4. Akselerasi Penggantian Varitas unggul dengan varitas terbaru yang reratanya potensi mencapai 4.5 ton beras/ha, jika dalam tempo 5 tahun meningkat sebesar 0.4 ton beras/ha yakni dari rerata 2.90 ton/ha menjadi 3.30 ton/ha tentu bukan perkara yang sulit.
  5. Penambahan jumlah dan nilai pupuk disubsidi sebesar 60 %-70% dari harga pasar sejumlah dari 10 juta ton akan lebih memadai, sehingga produktivitas akan meningkat.
  6. Perlu penataan lagi fungsi Bulog dan Organisasi Petani agar Harga Pembelian Pemerintah (HPP) oleh Bulog lebih realisistis dan membuat petani bergairah kembali menanam padi. Diperkirakan peningkatan produktivitasnya dapat mencapai sebesar 0.3 ton beras/ha, sehingga totalnya menjadi 3.65 juta ton. Dengan pedoman Harga GKP minimal 50 % dari harga pasar, motivasi petani untuk menenam padi akan meningkat, semua pihak akan diuntungkan.
  7. Revitalisasi koperasi di Desa, Kecamatan, Kabupaten sampai Provisi agar menjadi ujung tombak dalam penerimaan hasil Gabah petani dan sekali gus menjadi ujung tombak distribusi sembako di daerah.

Perhitungan pada Tabel 2 jelas sekali bahwa, jika pemerintah mau secara sungguh2 dalam tempo 5 tahun, produksi beras dari 31 juta ton akan bertambah 19 juta ton menjadi 40 juta ton. Kebutuhan beras setahun 30 juta ton, cadangan 3 bulan 7.5 juta jadi 37.5 juta ton sudah terlampaui. Pemerintah baru kedepan perlu lebih focus masalah pangan, bukan membuat proyek asalan yang terkesan politis.

Indonesia perlu menetapkan Areal Pertanian Pangan secara permanen, sehingga tanah-tanah subur tidak beralih fungsi menjadi perumahan di pinggiran kota. Perumahan sebaiknya di tempatkan di daerah yang kurang atau tidak subur, sehingga produksi pangan Nasional terjaga.

Proyek pengembangan sawah 1 juta ha di lahan gambut, diperkirakan hanya mengulangi kegagalan yang telah dialami. Bayangkan biayanya yang sangat besar jika membuat proyek baru seluas 1 juta ha x Rp 30 juta/ha = Rp 30 trilyun, tidak ada jaminan berhasil, karena secara teknis juga sulit dilakukan.

Masalah SDM yang belum tersedia dan terlatih tentu perlu transmigrasi baru lagi. Jangan sampai untuk pengembangan padi Indonesia dengan mendatangkan rakyat RRC, karena akan banyak masalah sosial kelak, apalagi banyak proyek RRC yang bermasalah.  Akan lebih baik dana tersebut digunakan untuk melaksanakan ke 7 butir Langkah diatas.

Bandung. 06 Juli 2024