
CSRINDONESIA – Di sebuah sudut rumah sakit yang sepi di Jakarta, seorang anak lelaki berusia 9 tahun sedang menggambar di atas ranjangnya. Tangannya lemah, tapi matanya menyala saat ia mengguratkan sebuah bintang dan menulis kata “pilot” di bawahnya. Impian itu bukan sekadar coretan, melainkan harapan yang disulut kembali oleh tangan-tangan yang peduli. Bagi anak-anak dengan penyakit kritis, mimpi bukan pelarian, melainkan jembatan menuju semangat hidup.
Hari Anak Nasional 2025 tak sekadar peringatan seremonial tahun ini. Ia menjadi panggung konkret bagi upaya memperpanjang napas dan masa depan anak-anak rentan. Di tengah tantangan sistemik seperti keterbatasan akses pendidikan dan tingginya angka kematian akibat penyakit kritis, Bank DBS Indonesia menyalakan lilin-lilin kecil yang mampu menerangi jalan pulang bagi mereka yang hampir menyerah.
Lewat kolaborasi bersama Make-A-Wish® Indonesia dan Yayasan Mahija Parahita Nusantara, DBS Indonesia menyusun langkah yang tak hanya strategis tapi juga menyentuh sisi terdalam kemanusiaan. Komitmen ini bukan basa-basi, tapi lahir dari keprihatinan yang dilandasi angka dan realitas yang mencemaskan.
Menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 11.000 kasus baru kanker menyerang anak-anak Indonesia setiap tahun. Leukemia mendominasi dengan 34,8 persen, sementara penyakit jantung bawaan dan pneumonia menjadi penyebab utama kematian balita. Angka-angka ini bukan statistik belaka, melainkan wajah dari ribuan anak yang harinya tak diisi bermain, melainkan berjuang hidup.
Make-A-Wish® Indonesia memahami bahwa harapan bisa menjadi terapi paling mujarab yang tak dijual di apotek. Survei global mereka menunjukkan bahwa 98 persen anak dan keluarga yang terlibat dalam program pewujudan harapan mengakui dampak positifnya terhadap kondisi psikologis dan motivasi hidup. Maka, Bank DBS Indonesia, melalui DBS Foundation, tidak hanya menyokong finansial tetapi turut menjadi bagian dari proses penyembuhan emosional itu.
Program Adopt-A-Wish menjadi jantung dari kolaborasi ini. Sebanyak 20 master trainer dari internal bank dilatih untuk kemudian menularkan semangat itu kepada 200 karyawan lainnya. Mereka tak hanya dilatih secara teknis, tapi juga diundang menyelami empati dalam workshop yang menggugah kesadaran sosial. Semua dilakukan melalui program relawan People of Purpose, di mana karyawan bank meninggalkan zona nyaman meja kerja mereka untuk terjun langsung menjadi pengantar harapan.

“Di balik setiap wish, ada kekuatan harapan yang menguatkan seorang anak dan keluarganya dalam menghadapi masa sulit,” kata CEO Make-A-Wish® Indonesia Imelda Tanoyo. Baginya, harapan adalah mata uang paling berharga yang bisa ditransfer tanpa biaya, tetapi bernilai abadi.
Tapi cerita belum berhenti di sana. Bank DBS Indonesia juga menapaki sisi lain dari ketidaksetaraan, yaitu akses pendidikan. Di negeri yang menargetkan Indonesia Emas 2045, faktanya masih ada 38.540 anak SD yang putus sekolah. Persentasenya memang kecil, hanya 0,16 persen, tetapi bagi anak-anak itu, pendidikan adalah kemewahan yang tak bisa dibeli, bahkan dengan mimpi.
Untuk itulah DBS Indonesia memperkuat kerja sama dengan Yayasan Mahija Parahita Nusantara. Yayasan yang sejak 2020 konsisten memperjuangkan hak-hak pekerja sampah ini menjadi mitra strategis dalam menghadirkan pendidikan nonformal lewat Mahija Mobile School. Pendidikan dibawa langsung ke komunitas Duren Sawit dan Johar Baru. Anak-anak tak perlu melintasi jarak atau menghadapi stigma untuk bisa belajar. Relawan DBS Indonesia yang tergabung dalam People of Purpose kini menjadi kakak pengajar bagi lebih dari 100 anak-anak dari keluarga pemulung.
Mereka tak hanya membawa buku dan papan tulis, tapi juga membawa martabat. Selama tiga bulan, sesi belajar, bermain, dan berbagi pengetahuan akan terus berjalan. Donasi berupa perlengkapan belajar dan permainan edukatif juga disalurkan, membuktikan bahwa keberpihakan bisa diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.
“Pendidikan masih menjadi hal yang terbilang mewah bagi sebagian besar masyarakat rentan,” ujar Mona Monika, Head of Group Strategic Marketing & Communications Bank DBS Indonesia. Pernyataan itu bukan klaim kosong. Bank ini, bersama DBS Foundation, bahkan telah mengalokasikan lebih dari Rp100 miliar dalam tiga tahun untuk program peningkatan kualitas hidup kelompok rentan di Indonesia, mulai dari perempuan, petani kecil, pemuda, hingga penyandang disabilitas.
Langkah ini adalah bagian dari janji besar DBS Group, yang sejak 2023 mencanangkan penggalangan dana filantropis senilai SGD 1 miliar selama satu dekade untuk mendorong komunitas rentan di seluruh Asia.
Melalui Mahija, gerakan ini menjadi lebih membumi. Yayasan yang dibentuk bersama Coca-Cola Europacific Partners dan Dynapack Asia ini telah memberdayakan lebih dari 21.500 pekerja sampah di Jabodetabek. Dari limbah botol PET, Mahija membangun ekosistem berkelanjutan yang tak hanya menjaga lingkungan, tapi juga mengangkat derajat para pelaku daur ulang dan keluarganya.
Ketua Dewan Pengurus Mahija, Ardhina Zaiza, percaya bahwa kolaborasi adalah kunci perubahan progresif. “Kami percaya setiap langkah kolaboratif akan membawa dampak positif dan perubahan yang progresif bagi setiap anak,” ucapnya.
Di tengah dunia perbankan yang sering diasosiasikan dengan profit dan hitung-hitungan angka, langkah Bank DBS Indonesia membuktikan bahwa kapital bisa memiliki nurani. Harapan dan pendidikan, dua hal yang tampak sederhana, justru menjadi fondasi utama masa depan bangsa.
Saat anak-anak menuliskan impian mereka di papan tulis Mahija Mobile School, atau saat mereka menggambar pesawat dari ranjang rumah sakit dengan penuh senyum, kita diingatkan bahwa masa depan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tapi tentang siapa yang masih bisa bermimpi dan siapa yang membantunya mewujudkan.
Hari Anak Nasional 2025 menjadi panggung di mana mimpi dan harapan tak lagi menjadi hak eksklusif mereka yang lahir di tempat nyaman. Bersama DBS, mimpi itu kembali menjadi milik semua anak Indonesia. |WAW-CSRI













