CSR-INDONESIA.COM – Pukul tujuh pagi di Bandara Soekarno Hatta. Deretan troli bagasi bergerak pelan seperti arus sungai. Tidak semua penumpang tampak tergesa. Beberapa justru terlihat santai. Seorang penumpang membuka aplikasi di telepon genggamnya, memilih kursi, memesan makanan khusus, lalu menutup layar dengan ekspresi puas. Ia belum terbang, tetapi pengalaman perjalanannya sudah dimulai.
Di titik inilah industri penerbangan berubah arah. Perjalanan tidak lagi dimulai saat roda pesawat meninggalkan landasan. Ia dimulai jauh sebelumnya, bahkan sejak seseorang membuka aplikasi.
Singapore Airlines Indonesia tampaknya memahami perubahan itu. Bagi maskapai ini, penerbangan bukan sekadar aktivitas memindahkan manusia dari satu kota ke kota lain. Ia menjadi ekosistem pengalaman. Dan di tengah ekosistem itu berdiri satu nama yang perlahan bergeser makna
KrisFlyer.
Selama bertahun tahun program loyalitas maskapai dipahami sederhana. Terbang, kumpulkan miles, tukar tiket. Hubungan maskapai dengan pelanggan bersifat transaksional. Penumpang datang, duduk, makan, lalu pergi.















