CSR-INDONESIA.COM — Sore itu di Kelapa Gading Jakarta Utara Selasa, 27 Januari Jaya Suprana genap berusia 77 tahun. Ia Lahir di Denpasar, Bali, ia menjalani waktu yang kuat dan penuh warna.
Bagi Jaya Suprana bukan sebagai manusia biasa, kenadari ia selalu bersikap biasa, tapi ia adalah seniman pengusaha dan manusai penuh rauang dan Zaman.
Ia sebagai pengingat, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan hati nuraninya, bagi Jaya Suprana, kebudayaan bukan sekadar seremoni atau romantisme masa lalu. Jaya sealu memberikan cermin kejujuran bangsa dalam memandang dirinya sendiri.
Langkah yang ia jalani adalah saat memasuki usia 77 tahun dan ia mendirikan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) 36 tahun dan 17 tahun Jaya Suprana Jaya Suprana School of Performing Arts (JSSPARTs). Jaya Suprana Ide gila Jaya dengan MURI mencatat prestasi anak bangsa yang sering luput dari perhatian, dari yang sederhana hingga luar biasa, bagi Jaya bentuk penghormatan pada daya cipta manusia Indonesia dan dijadikan pencatat rekor.
Makna, dan Kemanusiaan dalam Perayaan Itu
Perayaan 77 tahun Jaya Suprana, 36 tahun Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), dan 17 tahun JSSPArts bukan sekedar acara seremonial, melainkan sebuah perayaan kebudayaan yang sarat makna. Malam itu, seni tidak hanya dipertunjukkan sebagai hiburan, tetapi dihadirkan sebagai ruang perenungan—tentang kualitas, inklusivitas, tradisi, dan kemanusiaan yang terus diuji oleh zaman.
Suasana syahdu membuat Auditorium Ki Nartosadho ketika satu demi satu karya dipersembahkan, membentuk mozaik estetika yang kaya. Setiap penampil menghadirkan bukan hanya keahlian artistik, tetapi juga pesan simbolik yang saling berkelindan. Seni, dalam perayaan ini, tampil sebagai bahasa nilai. Dubuka oleh Kwartet Punakawan menghadirkan warna Nusantara dengan humor, sindiran, dan kebijaksanaan yang khas. Tawa yang mereka hadirkan bukan tawa kosong, melainkan tawa yang mengandung kritik sosial, refleksi budaya, dan kearifan lokal. Mereka menempatkan seni sebagai ruang dialog—tempat tradisi dan modernitas, kritik dan kasih, bertemu tanpa saling meniadakan.
Kwartet Punakawan dimainkan oleh Jubing gitaris piawai, Heru Kusnadi, Junedi di perkusi dan Drum dan piano bisanya langsung oleh Jaya Suprana kali ni dimainkan putra Jubing yang semakin matang berpiano.
Sekadar mengingatkan bahwa seni memiliki peran penting dalam menjaga kewarasan kolektif, termasuk bahwa Kwartet Punakawan pertama pentas yang menarik dan penuh kenangana adalah kelompok ini penta di Lapas Cipinnag bersama 3000 para napi dan berbuka puasa disajikan makan mie dari Indofood masa di lapas itu. Dan setelah itu banayaka pentas Kwartet Punakawan ke Australia, Istana presiden dan beberaoa kota dunia. Di dunia tengah yang semakin bising dan terpolarisasi, humor yang cerdas dan seni yang reflektif menjadi bentuk perlawanan yang paling manusiawi. Dan Kwartet Punakawan selalu tampil prima dan jenaka dengan nanda yang syahdu.
Di antara penampilan yang paling kuat secara simbolik adalah permainan piano Ivana Fidelia Tjandra yang sangat sublim dalam Tembang Alit karya Jaya suprana ada juga tampilnya Michael Anthony asuhan Ivana di JSSPAr ts membawakan “Fragmen” yang keren. Ada Ade Wonder Irawan yang dikenal adalah putra dari pasangan Irawan Subagio dan Endang Mardeyani. Lahir 15 Januari 1994 di Colchester, Inggris, Ade mengembangkan kemampuan bermain piano secara otodidak sejak usia dini. Saat menetap di Chicago, sang ibu Endang Mardeyani adalah seorang diplomat. Ade mendapat kesempatan yang begitu luas untuk mengasah bakatnya. Saat berusia 12 tahun, ia sudah tampil secara reguler di Jazz Links Jam Session di Chicago Cultural Center.
Ade pernah tampil bersama sejumlah pemain jazz dan blues papan atas Amerika Serikat, seperti Coco Elysses-Hevia, Robert Irving III, Peter Saxe, Ramsey Lewis, John Faddis, Dick Hyman, Ernie Adams, dan Ryan Cohen.














