Home Artificial intelligence (AI) Bukan Mesin yang Musnahkan Lapangan Kerja, Tapi Negara Gagal Siapkan Tenaga Kerja

Bukan Mesin yang Musnahkan Lapangan Kerja, Tapi Negara Gagal Siapkan Tenaga Kerja

15
IST
IST

CSR-INDONESIA.COM – Di sebuah gudang logistik, seorang pekerja menatap layar tablet. Bukan untuk menghitung stok secara manual seperti satu dekade lalu, melainkan memverifikasi rekomendasi sistem kecerdasan buatan yang telah memetakan kebutuhan inventori hingga berminggu ke depan. Waktu yang dulu habis untuk pekerjaan administratif kini berubah menjadi ruang untuk mengambil keputusan. Di titik inilah ekonomi global sedang bergerak.

Laporan terbaru LinkedIn bersama Access Partnership menunjukkan bahwa kecerdasan buatan generatif bukan sekadar teknologi baru, melainkan pengungkit ekonomi berskala triliunan dolar. Jika diterapkan secara menyeluruh di lima ekonomi besar dunia Amerika Serikat Inggris Jerman Prancis dan India teknologi ini berpotensi membuka kapasitas produktif hingga 6,6 triliun dolar AS dalam bentuk waktu kerja yang dapat dialihkan untuk inovasi dan penciptaan nilai baru.

Angka ini bukan janji futuristik. Ini adalah kalkulasi konkret berbasis analisis tugas kerja lintas sektor yang saat ini sudah dapat dibantu atau dipercepat oleh kecerdasan buatan generatif.

Pertarungan Baru Bukan Lagi Modal Tapi Kecepatan Adopsi

Amerika Serikat berada di garis depan dengan potensi nilai ekonomi sebesar 4,1 triliun dolar AS setara sekitar 15 persen dari PDB negara itu pada 2023. Jerman dan India justru menunjukkan rasio yang lebih agresif dengan potensi nilai setara 18 persen PDB masing-masing. Prancis dan Inggris menyusul dengan kisaran 16 hingga 17 persen PDB.

Namun angka besar ini menyembunyikan ironi. Kurang dari setengah perusahaan saat ini menggunakan kecerdasan buatan generatif secara menyeluruh di seluruh organisasi. Mayoritas masih berhenti pada eksperimen terbatas di satu divisi atau fungsi tertentu. Artinya sebagian besar potensi ekonomi tersebut masih mengendap sebagai peluang yang belum diambil.

Kesenjangan ini paling terasa di usaha kecil dan menengah. Padahal lebih dari 90 persen bisnis di dunia dan sekitar separuh tenaga kerja global berada di sektor ini. Tingkat adopsi kecerdasan buatan generatif di UKM masih tertinggal dibanding perusahaan besar meskipun ketika digunakan UKM justru cenderung lebih inovatif terutama dalam desain produk dan pengembangan layanan.

Produktivitas Bukan Tujuan Akhir

Narasi lama tentang otomatisasi sering berhenti pada efisiensi. Laporan ini mematahkan pandangan tersebut. Tujuh dari sepuluh perusahaan yang menggunakan kecerdasan buatan generatif memanfaatkannya untuk inovasi dan kreativitas bukan sekadar menggantikan tugas berulang. Hanya enam dari sepuluh yang memprioritaskan otomasi pekerjaan repetitif.

Hasilnya terasa nyata. Tiga perempat perusahaan pengguna melaporkan penghematan waktu kerja yang signifikan. Setengah dari mereka mencatat kenaikan pendapatan sebesar sepuluh persen atau lebih dalam kurun dua tahun sejak adopsi.

Waktu yang dihemat tidak menguap. Ia dialihkan ke riset pengembangan bisnis dan peningkatan kompetensi karyawan. Di sinilah kecerdasan buatan generatif menunjukkan wajahnya yang lebih strategis bukan pengganti manusia melainkan pengganda kapasitas manusia.

Mitos Kehilangan Pekerjaan Mulai Retak

Di tengah kekhawatiran publik tentang pengangguran massal data menunjukkan arah yang berbeda. Enam puluh tiga persen perusahaan yang mempertimbangkan dampak kecerdasan buatan generatif justru berencana menambah jumlah karyawan. Alasan utamanya adalah kebutuhan untuk mengembangkan solusi berbasis AI memenuhi permintaan pelanggan yang meningkat dan membuka lini bisnis baru.

Kecerdasan buatan generatif menciptakan jenis pekerjaan baru dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perekrutan untuk peran teknis AI meningkat empat kali lipat dalam delapan tahun terakhir. Posisi seperti AI Engineer menjadi salah satu pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat dan Inggris.

Namun pasokan tenaga kerja tidak bergerak secepat permintaan. Talenta teknis AI global masih kurang dari satu persen total angkatan kerja. Kesenjangan inilah yang membuat keterampilan bukan lagi isu sumber daya manusia semata melainkan agenda ekonomi nasional.

Tiga Keterampilan yang Menentukan Nasib Pekerja

Laporan ini menegaskan bahwa masa depan kerja tidak ditentukan oleh satu jenis kemampuan saja. Ada tiga lapis keterampilan yang menjadi penentu.

Pertama keterampilan teknis AI kemampuan merancang mengembangkan dan memelihara sistem kecerdasan buatan. Kedua literasi AI kemampuan memahami dan menggunakan alat seperti ChatGPT atau Copilot secara kritis dan produktif. Ketiga keterampilan manusia seperti komunikasi kepemimpinan dan berpikir kritis yang justru meningkat nilainya ketika mesin mengambil alih pekerjaan operasional.

Ironisnya lebih dari separuh perusahaan menyebut kekurangan keterampilan teknis dan literasi AI sebagai hambatan utama adopsi. Pada saat yang sama hanya sekitar separuh perusahaan yang berencana melatih ulang tenaga kerjanya dalam keterampilan AI dasar.

Siapa yang Paling Rentan Tertinggal

Dampak kecerdasan buatan generatif tidak merata. Pekerjaan administratif asisten hukum dan pustakawan termasuk kategori yang paling terpapar karena sebagian besar tugasnya dapat direplikasi oleh AI. Namun tidak ada satu pun pekerjaan yang sepenuhnya bisa digantikan. Yang berubah adalah komposisi tugas di dalamnya.

Kelompok perempuan pekerja muda dan lulusan sarjana tercatat lebih terpapar perubahan ini. Bukan karena mereka lebih lemah secara kompetensi melainkan karena mereka banyak berada di pekerjaan yang mengandalkan keterampilan analitis dan penulisan yang kini dapat dibantu oleh AI. Tanpa reskilling terarah kelompok ini berisiko terdorong keluar dari lintasan pertumbuhan karier.

Negara yang Bergerak Cepat Akan Menang

India dan Amerika Serikat memimpin tingkat adopsi dengan angka masing-masing 62 persen dan 51 persen. Eropa tertinggal akibat keterbatasan talenta dan regulasi yang lebih ketat. Namun sejumlah inisiatif menunjukkan arah perubahan mulai bergeser mulai dari program nasional AI for All di India hingga kolaborasi publik swasta di Jerman Prancis dan Inggris yang fokus pada peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Kesimpulan laporan ini lugas. Negara dan perusahaan yang berinvestasi lebih awal dalam keterampilan AI akan mendefinisikan masa depan ekonomi global. Yang menunda akan tertinggal bukan karena kurang teknologi melainkan karena kekurangan manusia yang siap menggunakannya.

Di tengah mesin yang semakin cerdas satu hal menjadi jelas. Pertumbuhan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi tercanggih melainkan siapa yang paling cepat menyiapkan manusianya untuk berpikir bekerja dan berinovasi bersama teknologi tersebut. |WAW-CSRI