Editorial : Generasi Sisyphus dan Kebudayaan yang Lelah
ZAMAN ini melahirkan generasi yang lelah, tetapi tidak pernah diizinkan mengakui kelelahan itu. Kita hidup dalam kebudayaan yang memuja produktivitas, merayakan kesibukan, dan mengukur nilai manusia dari performanya. Dalam lanskap seperti ini, figur Sisyphus—tokoh yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali—bukan lagi mitos kuno. Ia adalah potret keseharian kita.
Albert Camus melalui Le Mythe de Sisyphe menyebut absurditas sebagai benturan antara kebutuhan manusia akan makna dan kebisuan dunia. Hari ini, absurditas itu tidak lagi datang dari alam semesta yang diam, tetapi dari sistem sosial yang bising. Kita dibanjiri narasi sukses, motivasi, dan peluang tanpa henti, namun justru semakin kehilangan arah. Kita terus bergerak, tetapi jarang bertanya ke mana.
Budaya kerja modern menjanjikan fleksibilitas dan kebebasan. Namun di balik jargon itu tersembunyi bentuk kontrol baru. Jika dulu manusia diawasi oleh atasan, kini ia diawasi oleh target, rating, dan algoritma. Pengawasan tidak lagi eksternal; ia telah diinternalisasi. Kita mengawasi diri sendiri, memaksa diri sendiri, mengeksploitasi diri sendiri—atas nama ambisi dan relevansi.
Masalahnya bukan kerja keras. Masalahnya adalah ketika kerja keras dijadikan ukuran moral. Seseorang yang tidak produktif dianggap malas; yang beristirahat dianggap kurang gigih. Waktu luang dicurigai. Keheningan dianggap kemunduran. Dalam kebudayaan seperti ini, manusia kehilangan hak untuk sekadar menjadi.
Media sosial memperparah kondisi tersebut. Kehidupan dipertontonkan sebagai rangkaian pencapaian. Kegagalan disunting, kesedihan dikurasi, dan keberhasilan dipamerkan. Kita hidup dalam kompetisi citra yang tak pernah resmi diumumkan, tetapi selalu terasa. Setiap orang adalah manajer bagi mereknya sendiri. Setiap momen berpotensi menjadi konten.
Konsekuensinya jelas: kecemasan kolektif. Ketakutan tertinggal. Rasa tidak pernah cukup. Kita membandingkan proses hidup kita yang kompleks dengan potongan hidup orang lain yang telah dipoles. Batu Sisyphus kini bernama “validasi”.
Ironisnya, semua ini sering dibungkus dengan bahasa pemberdayaan. Kita didorong untuk “menjadi versi terbaik diri sendiri”, untuk “tidak menyerah”, untuk “selalu berkembang”. Kalimat-kalimat itu terdengar positif, tetapi dalam praktiknya kerap berubah menjadi tekanan tanpa henti. Kegagalan dipersonalisasi, seolah-olah sistem ekonomi dan struktur sosial tidak pernah berperan.
Dalam tulisan ini hendak menegaskan satu hal: kelelahan generasi hari ini bukan sekadar persoalan mental individual. Ia adalah gejala kebudayaan. Ketika nilai manusia direduksi menjadi angka performa, ketika perhatian diperdagangkan, ketika pendidikan diarahkan semata-mata untuk pasar, maka jangan heran jika makna hidup menjadi rapuh.
Kita menghadapi paradoks besar. Belum pernah manusia memiliki akses informasi, peluang, dan teknologi sebesar sekarang. Namun belum pernah pula kecemasan, burnout, dan rasa hampa dibicarakan sedemikian luas. Kemajuan material tidak otomatis menghadirkan kedalaman eksistensial. Kita kaya perangkat, tetapi miskin jeda.
Camus menawarkan sikap pemberontakan sadar terhadap absurditas. Ia tidak mengajak melarikan diri, melainkan hidup tanpa ilusi. Dalam konteks hari ini, sikap itu berarti berani mempertanyakan standar sukses yang diwariskan kebudayaan populer. Berani mengakui bahwa tidak semua perlombaan harus diikuti. Berani mengatakan cukup.
Kebudayaan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi kegagalan, keraguan, dan istirahat. Ia tidak memaksa setiap individu menjadi mesin pertumbuhan. Ia tidak menjadikan produktivitas sebagai satu-satunya ukuran nilai. Jika kita terus memelihara sistem yang hanya menghargai hasil tanpa memedulikan martabat, kita sedang menciptakan masyarakat yang efisien sekaligus rapuh.
Perlu ada reposisi nilai. Pendidikan harus kembali menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar kompetensi pasar. Dunia kerja harus mengakui batas manusia, bukan menormalisasi kelelahan. Ruang publik harus memberi tempat bagi percakapan mendalam, bukan hanya sensasi cepat.
Sisyphus modern mungkin tetap harus mendorong batu. Tanggung jawab dan tantangan tidak akan lenyap. Namun ada perbedaan mendasar antara mendorong dengan kesadaran dan didorong oleh sistem tanpa refleksi. Kesadaran itulah yang menjadi bentuk perlawanan pertama.
Editorial ini juga bukan seruan untuk berhenti bekerja atau menolak modernitas. Ini adalah ajakan untuk meninjau ulang fondasi kebudayaan kita. Untuk menanyakan: apakah kita membangun peradaban yang memanusiakan, atau sekadar mempercepat siklus produksi dan konsumsi?
Jika batu itu terus kita dorong tanpa pernah mempertanyakan mengapa, kita akan tetap menjadi generasi yang lelah dan terasing. Tetapi jika kita berani menatapnya, memahami beratnya, dan memilih sikap kita sendiri terhadapnya, di situlah martabat dipulihkan.
Mungkin kita tidak bisa menghancurkan batu itu. Tetapi kita bisa menolak menyembahnya. Dan dari situlah kebudayaan yang lebih manusiawi dapat mulai dibangun. Tabik. (lemsen-jaksat/ed)