Home Berita KrisFlyer, Mesin Cerita di Balik Tiket Pesawat

KrisFlyer, Mesin Cerita di Balik Tiket Pesawat

15
Krisflyer
Krisflyer
CSR-INDONESIA.COM – Pukul tujuh pagi di Bandara Soekarno Hatta. Deretan troli bagasi bergerak pelan seperti arus sungai. Tidak semua penumpang tampak tergesa. Beberapa justru terlihat santai. Seorang penumpang membuka aplikasi di telepon genggamnya, memilih kursi, memesan makanan khusus, lalu menutup layar dengan ekspresi puas. Ia belum terbang, tetapi pengalaman perjalanannya sudah dimulai.
Di titik inilah industri penerbangan berubah arah. Perjalanan tidak lagi dimulai saat roda pesawat meninggalkan landasan. Ia dimulai jauh sebelumnya, bahkan sejak seseorang membuka aplikasi.
Singapore Airlines Indonesia tampaknya memahami perubahan itu. Bagi maskapai ini, penerbangan bukan sekadar aktivitas memindahkan manusia dari satu kota ke kota lain. Ia menjadi ekosistem pengalaman. Dan di tengah ekosistem itu berdiri satu nama yang perlahan bergeser makna
KrisFlyer.
Selama bertahun tahun program loyalitas maskapai dipahami sederhana. Terbang, kumpulkan miles, tukar tiket. Hubungan maskapai dengan pelanggan bersifat transaksional. Penumpang datang, duduk, makan, lalu pergi.
Kompetisi Menulis Jurnalis - Singapore Airlines
Kompetisi Menulis Jurnalis – Singapore Airlines
Kini pola itu tidak lagi cukup.
Singapore Airlines membuka kompetisi menulis bagi jurnalis Indonesia yang berlangsung pada periode publikasi 1 Oktober 2025 sampai 10 Maret 2026. Salah satu topik yang ditawarkan justru bukan tentang pesawat atau rute penerbangan, melainkan transformasi KrisFlyer menjadi brand gaya hidup. Pilihan topik ini bukan kebetulan. Ia memberi petunjuk tentang arah strategi maskapai.
Program loyalitas tidak lagi diposisikan sebagai bonus penerbangan. Ia menjadi pintu masuk hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Di dalam konsep baru itu, miles berubah fungsi. Ia bukan hanya alat menukar tiket, melainkan mata uang pengalaman perjalanan.
Perubahan perilaku konsumen global mendorong transformasi tersebut. Teknologi membuat pelanggan menuntut kendali. Mereka ingin memilih kursi sendiri, mengatur preferensi makanan, hingga menyesuaikan perjalanan sebelum tiba di bandara.
Singapore Airlines menempatkan teknologi sebagai sarana memperkaya pengalaman layanan pelanggan. Pendekatannya bukan mengganti manusia dengan mesin, melainkan memperluas interaksi sebelum dan sesudah penerbangan. Aplikasi digital, sistem layanan, serta integrasi layanan pelanggan menjadi penghubung yang memperpanjang durasi relasi maskapai dengan penumpang.
Hubungan maskapai dan pelanggan tidak lagi berdurasi belasan jam penerbangan. Ia berlangsung sepanjang tahun.
Dalam konteks itu KrisFlyer berfungsi sebagai jembatan. Pelanggan tidak hanya berinteraksi ketika membeli tiket. Mereka tetap berada dalam ekosistem layanan melalui aktivitas sehari hari yang berkaitan dengan perjalanan.
Transformasi ini penting bagi industri penerbangan modern. Maskapai tidak bisa lagi hanya bersaing pada harga atau rute. Persaingan berpindah ke pengalaman.
Di Indonesia, perubahan strategi maskapai memiliki dampak lain yang lebih luas. Konektivitas penerbangan internasional berhubungan langsung dengan pariwisata inbound, perdagangan, dan logistik. Rute yang stabil mendorong arus wisatawan. Arus wisatawan memicu ekonomi lokal.
Singapore Airlines menempatkan jaringan dan konektivitas sebagai bagian dari kontribusi industri penerbangan terhadap Indonesia. Ketersediaan koneksi penerbangan internasional memudahkan wisatawan masuk, pelaku usaha berdagang, dan distribusi logistik bergerak.
Maskapai tidak lagi hanya menjadi operator transportasi udara. Ia ikut membentuk pergerakan ekonomi.
Dalam kerangka itu pengalaman pelanggan menjadi kunci. Wisatawan yang merasa nyaman cenderung kembali. Mereka menjadi promotor informal destinasi. Pengalaman perjalanan menjadi bagian dari citra negara tujuan.
Di sinilah strategi layanan pelanggan berkelanjutan memiliki efek domino. Pengalaman perjalanan yang baik tidak hanya menguntungkan maskapai, tetapi juga sektor pariwisata.
Kompetisi menulis yang digelar Singapore Airlines Indonesia pada akhirnya bukan sekadar kegiatan komunikasi perusahaan. Ia adalah undangan untuk membaca perubahan industri. Jurnalis diminta menggali kontribusi maskapai terhadap penerbangan, pariwisata, layanan pelanggan, dan transformasi program loyalitas.
Peserta diminta mendaftar melalui tautan resmi dan mengirimkan artikel. Dua puluh pendaftar pertama memperoleh hadiah eksklusif, sementara pemenang utama berhak atas Samsung Z Fold 7 serta 100.000 KrisFlyer Miles. Seluruh pajak hadiah ditanggung oleh Singapore Airlines Indonesia.
Materi informasi disediakan melalui siaran pers, lembar fakta, artikel web, media backgrounder, serta perpustakaan multimedia resmi. Semua menjadi bahan verifikasi data bagi jurnalis.
Bagi pembaca umum, informasi ini mungkin terlihat administratif. Namun bagi industri media, kompetisi semacam ini memperlihatkan perubahan relasi antara korporasi dan publik. Perusahaan tidak hanya mengiklankan diri, tetapi mendorong pengamatan kritis melalui karya jurnalistik.
Di ruang tunggu bandara tadi, penumpang yang selesai memilih kursi akhirnya berdiri. Ia berjalan menuju gerbang keberangkatan. Tidak ada yang istimewa dari peristiwa itu. Hanya seorang manusia menuju pesawat.
Namun sebenarnya ia sudah berada dalam perjalanan jauh sebelum boarding call.
Ia telah membaca destinasi, memesan layanan, mengatur preferensi, mengumpulkan miles, dan merencanakan perjalanan berikutnya bahkan sebelum pesawat lepas landas.
Industri penerbangan modern ternyata bukan lagi soal terbang. Ia tentang pengalaman yang berlangsung terus menerus.
Pesawat hanya salah satu bagian. Ceritanya jauh lebih panjang daripada durasi penerbangan. |WAW-CSRI