Yoyon Darsono saat menerima Karsa Budaya Prima dari CSR INDONESIA Awards 2025 di Grand Candi Hotel Semarang/andi s
Yoyon Darsono — Penjaga, Pelaku, dan Pembaharu Budaya Sunda
DI tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi di Indonesia, sosok Yoyon Darsono muncul sebagai penjaga leluhur budaya Sunda—bukan hanya sebagai pelestari pasif, melainkan sebagai aktor aktif yang terus berinovasi, mendidik, dan membawa budaya tradisional ke pentas nasional bahkan global. Tahun 2025 menandai puncak pengakuan publik atas dedikasinya: Yoyon menerima penghargaan CSR Indonesia Awards 2025 dalam kategori Karsa Budaya Prima — sebuah apresiasi atas upayanya menjaga agar budaya tidak sekadar dikenang, tapi hidup dan relevan di generasi sekarang.
Jejak Hidup Seni: Fondasi Kuat untuk Warisan Budaya
Menurut penelitian akademik tentang kiprah Yoyon, perjalanan seninya dipengaruhi oleh dua dimensi besar: faktor internal (minat, bakat, motivasi) dan eksternal (lingkungan keluarga, komunitas, pendidikan). Sejak usia muda ia telah menekuni kesenian tradisional Sunda — sebuah ikatan dengan akar budaya yang kemudian dibentuk secara akademis dan sistematis melalui pendidikan seni formal.
Pendidikan formal tersebut membekali Yoyon tidak hanya dengan keterampilan teknis musisi, tetapi juga dengan pemahaman mendalam tentang estetika, sejarah, dan teori musik — menjadikannya lebih dari sekadar penggiat tradisi: ia adalah intelektual seni yang mampu merumuskan, mengajar, dan mengembangkan tradisi secara sadar dan berkesinambungan.
Dari Pelestarian ke Transformasi: Seni Sunda dalam Genggamannya
Yoyon tidak membiarkan budaya terjebak sebagai artefak museum. Dia mengembangkan budaya sebagai “organisme hidup” — bernafas, bertransformasi, dan relevan dengan zamannya. Melalui kombinasi bakat, pengetahuan, dan keberanian bereksperimen, Yoyon menghidupkan kembali musik tradisional Sunda dalam bentuk kontemporer, menjadikannya dinamis dan atraktif.
Contohnya, ia terlibat dalam kolaborasi lintas disiplin seni pada event internasional: bersama seniman dari beragam latar, Yoyon memainkan alat musik tradisional—terompet kendang pencak, suling Sunda, hingga musik bambu—memadukan suara masa lalu dengan interpretasi masa kini.  Lewat cara ini, tradisi tidak menjadi statis, melainkan berkembang, diperluas maknanya, dan dibawa dalam konteks global tanpa kehilangan identitas.
Ketika dunia seni global mulai mencari “suara berbeda”, Yoyon menunjukkan bahwa akar budaya lokal adalah aset berharga — bahwa seni Sunda bisa “go internasional” dengan kualitas, keautentikan, dan rasa hormat terhadap tradisi. 
Selain sebagai seniman panggung, Yoyon juga mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Ia adalah dosen di ISBI Bandung — Program Studi Angklung dan Musik Bambu, Fakultas Seni Pertunjukan.  Perannya ini sangat strategis: ia bukan hanya mengajarkan teknik musikal, tetapi juga memupuk kesadaran kolektif atas pentingnya pelestarian budaya, identitas lokal, dan kreativitas yang berakar pada tradisi.
Melalui jalur pendidikan formal maupun non-formal, Yoyon membantu mentransfer warisan budaya ke generasi muda — menjembatani antara nilai lama dan semangat kontemporer. Dengan demikian, budaya tidak mati bersama generasi lama, tetapi terus hidup lewat generasi baru yang diperlengkapi — intelektual, terampil, dan bangga akan akar.
Di lingkungan komunitas, Yoyon juga aktif melalui lembaga budaya, kolaborasi seniman, dan berbagai panggung seni — menjadikan budaya sebagai medium hidup, kolektif, dan inklusif. Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan semata milik elit akademik atau birokrasi, tetapi milik masyarakat luas.
Kiprah Internasional: Mengangkat Sunda ke Panggung Dunia
Salah satu aspek paling menonjol dari karya Yoyon adalah kemampuannya membawa budaya Sunda ke ranah global. Pasca masa pandemi, ia banyak menerima undangan tampil di luar negeri — dari Australia hingga Filipina — sebagai bagian dari delegasi seni Indonesia.
Contohnya, pada festival seni internasional di Tasmania, Yoyon tampil bersama maestro seni Sunda dalam proyek “Jeprut/Performance Art” yang mengangkat tema universal seperti alam, spiritualitas, dan kelestarian lingkungan — tetapi dibawa lewat medium musik tradisional Sunda sebagai doa dan refleksi.  Lewat kolaborasi semacam ini, tradisi lokal mendapat kesempatan dialog dengan dunia global.
Partisipasi internasional semacam itu bukan sekadar pentas — melainkan representasi bahwa budaya Indonesia, khususnya budaya Sunda, memiliki nilai universal dan mampu berbicara pada peradaban global tanpa kehilangan akar dan identitas.
Penghargaan dan Legitimasi: CSR Indonesia Awards 2025
Keseluruhan kerja keras Yoyon mendapat pengakuan formal lewat penghargaan Karsa Budaya Prima pada CSR Indonesia Awards 2025.  Penghargaan ini menegaskan bahwa upaya pelestarian budaya — yang selama ini sering dianggap “hobby” atau “niche” — kini diakui sebagai bagian penting dari tanggung jawab sosial, budaya, dan keberlanjutan bangsa.
Bagi Yoyon, penghargaan ini bukan tujuan akhir, melainkan penguat semangat untuk terus berkarya, mengedukasi, dan membawa budaya Sunda lebih jauh — ke lebih banyak komunitas, generasi, dan ruang global.
Sosial-Budaya dari Dedikasi Yoyon
Kiprah Yoyon Darsono memiliki makna mendasar bagi masyarakat dan bangsa Indonesia, terutama dalam konteks berikut:
•Pelestarian Warisan Budaya — Ia membantu menjaga tradisi hidup: musik, alat musik, bahkan filosofi dan nilai budaya Sunda agar tidak hilang dilibas zaman.
•Regenerasi Budaya — Melalui pendidikan dan pembinaan, Yoyon menyiapkan generasi baru yang mampu meneruskan, mengembangkan, dan memodernisasi tradisi tanpa kehilangan identitas.
•Kreativitas & Inovasi — Budaya tidak stagnan; di tangan Yoyon tradisi bisa berevolusi, beradaptasi, dan relevan dengan dunia modern maupun global.
•Kebanggaan Lokal & Nasional — Dengan mengangkat budaya Sunda ke panggung dunia, ia membantu mengembalikan rasa bangga terhadap akar budaya, sekaligus mempromosikan Indonesia sebagai bangsa kaya tradisi kepada dunia.
•Model CSR Budaya & Komunitas — Penghargaan CSR menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan sosial, ekonomi, dan identitas kolektif — bukan sekedar aktivitas estetis.
Warisan Hidup yang Terus Bernyawa
Yoyon Darsono adalah contoh hidup bahwa budaya bukan warisan statis, melainkan “jiwa yang bergerak, bernapas, dan berevolusi.” Lewat kombinasi peran sebagai seniman, pendidik, inovator, dan pelestari, ia menunjukkan bahwa menjaga warisan bukan berarti melanggengkan masa lalu secara kaku — tetapi menjadikannya relevan, hidup, dan bermakna bagi masa kini dan masa depan.
Penghargaan yang diraihnya pada tahun 2025 adalah bukti bahwa masyarakat dan institusi kini memberi ruang bagi pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Tapi lebih dari itu: itu adalah tanda bahwa seni tradisional — seperti musik Sunda — memiliki tempat utama dalam menghadapi tantangan zaman.
Semoga kisah Yoyon terus menjadi inspirasi bagi banyak seniman, komunitas, dan perusahaan untuk menaruh perhatian serius pada budaya: bukan sebagai nostalgia semata, tetapi sebagai kekuatan identitas, kreativitas, dan masa depan bangsa. Dan malam itu semua terrpana menyaksikan saat alat tiup khas sunda (suling) dimankan penuh pesona. Sukses. (am234/csri)