Home Berita WANATANI Kopi Menyoal Gender dan Kesejahteraan Petani Kopi yang Marjinal

WANATANI Kopi Menyoal Gender dan Kesejahteraan Petani Kopi yang Marjinal

PRAKTIK SISTEM WANATANI (AGROFORESTRY) KOPI: Sebuah Inovasi Perkebunan yang Berdampak Positif bagi Ekonomi, Lingkungan, dan Kesetaraan Gender

90

CSRINDONESIA – Sistem Wanatani (Agroforestry) kopi yang menambahkan elemen pohon pelindung untuk meningkatkan produksi kopi, terbukti berhasil memberikan tambahan pendapatan bagi petani. Selain manfaat ekonomi, sistem ini terbukti juga berpengaruh terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga petani kopi dan komunitasnya.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh World Agroforestry (ICRAF) dan didukung oleh Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (Yayasan IDH), S&D SUCDEN, dan Jacobs Douwe Egberts (JDE); mereka memotret dinamika hubungan gender dan kaitannya dengan perubahan praktik pertanian yang mengaplikasikan sistem wanatani termasuk inovasi teknologi yang terdapat di dalamnya.

Sistem wanatani adalah menanam pohon pelindung (seperti sengon dan cempaka) yang ditanam dengan jarak tertentu dengan tanaman komersial lainnya, selain tanaman kopi.

Menurut Elok Mulyoutami, peneliti gender yang bekerjasama dengan World Agroforestry (ICRAF) sistem ini sudah banyak diterapkan di tingkat lokal maupun global dan terbukti memberikan banyak manfaat. Berhubung kopi hanya bisa panen sebanyak satu kali selama setahun, maka diversifikasi tanaman menjadi sangat penting.

“Beberapa tanaman komersial seperti rempah, buah, sayur terbukti bisa mendatangkan penghasilan baru bagi petani agroforestri kopi. Di skala yang lebih besar, sistem ini sekaligus membantu meningkatkan ketahanan pangan dan ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim, ujarnya diskusi online bertema  “Peran gender dalam Praktik Agroforestri Kopi pada channel Zoom  Kamis (10/06/21).

Sustainable Coffee Platform Of Indonesia dan yayasan Inisiatif Dagang Hijau mengundang banyak ahli dari berbagai perusahaan. Mereka tidak hanya membahas permasalahan gender dalam praktik agroforestri namun juga permasalahan taraf hidup para petani kopi yang memprihatinkan ditengah naiknya pamor kopi di tengah-tengah masyarakat.

“Ini merupakan masalah tidak hanya dari sudut pandang etika dan kepercayaan untuk semua orang mempunyai kesempatan yang sama namun juga dengan kenaikan peminat kopi” ujar Veronica Semelkova sebagai Sustainability Manager Sucden Coffee.

Elok Mulyoutami juga menambahkan kawasan Pagar Alam didominasi oleh komunitas petani kopi yang menerapkan agroforestri kopi dari yang mulai sederhana hingga yang lebih kompleks.

“Yang paling sederhana mereka awalnya hanya menggunakan pohon naungan hingga saat ini semakin banyak jenis pohon naungan yang bernilai ekonomi yang kemudian mereka tanam” ujar Elok yang juga ahli gender spesialis and researcher  dari ICRAF.

Anggota-anggota di rumah tangga dan masyarakat yang dimana terdapat wanita dan pria, kata Elok mereka juga saling mempengaruhi keputusan. Pengambilan keputusan ini juga dipengaruhi oleh level pengetahuan dan keterampilan dari masing-masing anggota rumah tangga dan masyarakat.

Dari data yang didapatkan Nescafe Plan Project sebanyak 1658 wanita berpartisipasi dalam Farmer Business School Training dari tahun 2018-2020, sebanyak 56 grup dari 1246 petani wanita aktif sebagai pertani 4C, membentuk Women Farmer Group atau WFG dan mengadakan pelatihan untuk WFG.

Menurut Elok stigma buruk wanita dalam pengelolaan kopi adalah perempuan tidak bisa mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, kesempatan produksi kopi berkurang karena ketidakpercayaan terhadap petani wanita dan pengetahuan wanita tidak dianggap padahal pengetahuan mereka dapat membantu meningkatkan produksi kopi.

“Agroforestri memberikan keuntungan terhadap para petani dan juga kepada alam yang mereka gunakan,”jelasnya.

Elok menambahkan bahwa dampak positif sistem wanatani tidak hanya terhadap ekonomi dan lingkungan saja, tapi juga pada kehidupan sosial masyarakat petani.

Salah satu contoh nyata adalah petani kopi di Kabupaten Pagar Alam, Sumatera Selatan yang telah mempraktikkan sistem wanatani, mulai dari yang sederhana hingga kompleks.

“Dalam studi terbaru kami di Kabupaten Pagar Alam, kami melihat bahwa sistem wanatani ini juga menghasilkan pola relasi antara laki-laki dan perempuan. Misalnya dalam pembagian tugas dalam berkebun kopi, pembagian pendapatan dan akses terhadap kehidupan rumah tangga, manajemen waktu, keuangan dan pengambilan keputusan rumah tangga, serta akses untuk mendapatkan pembangunan kapasitas,” tambahnya.

Studi yang dilakukan pada September hingga Oktober 2020 di Kecamatan Dempo Tengah dan Dempo Utara ini melibatkan 125 responden yang telah mendapatkan intervensi bernama ‘Empower Project’. Proyek tersebut adalah program intervensi yang didanai oleh JDE, Yayasan IDH, dan S&D SUCDEN dan telah berlangsung hingga tahun 2018 dengan target petani kopi binaan sebanyak 3.500 di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Program ini berfokus pada peningkatan mata pencaharian petani kopi melalui wanatani yang beragam.

Studi ini menunjukkan tidak ada dampak negatif dari intervensi terhadap dinamika gender tingkat rumah tangga. Peran laki-laki dan perempuan dalam sistem wanatani berbasis kopi dan praktik pertanian lainnya saling melengkapi dan saling mendukung, sehingga menghasilkan sinergi.

“Meskipun demikian, masih terdapat potensi risiko ketidakseimbangan hubungan dalam keluarga petani, karena pembuat keputusan sering dilakukan oleh laki-laki atau kepala rumah tangga, sehingga perempuan kehilangan kesempatan untuk berperan lebih dalam lagi untuk pengembangan pertanian kopi mereka,” tambah Elok.

Senada dengan Elok, Veronika Semelkova, Sustainability Manager S&D SUCDEN COFFEE menambahkan bahwa potensi risiko ketidakseimbangan dalam hubungan perlu diisi dengan intervensi program yang dapat meningkatkan kolaborasi antara perempuan dan laki-laki lebih mendalam agar dapat berperan untuk mengembangkan produktivitas usaha kopi.

“S&D SUCDEN COFFEE telah bekerja sama dengan beberapa mitra dalam program peningkatan kapasitas praktik pertanian yang baik, bagi para petani, khususnya perempuan petani agar dapat membuka peluang bagi perempuan petani dalam meningkatkan kapasitasnya,” ungkapnya.

Ketidakseimbangan peran perempuan dalam produksi kopi juga diakui oleh Do Ngoc Sy, APAC Sustainability Manager Jacobs Douwe Egberts (JDE), salah satu perusahaan kopi murni terbesar di dunia yang telah beroperasi selama 265 tahun.

“Peran perempuan sedikit banyak selalu terdapat dalam sistem rantai nilai kopi. Untuk itu, program pengembangan sistem wanatani kopi yang beragam perlu menggunakan pendekatan intervensi gender. Jika diabaikan, maka kita akan kehilangan potensi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan bagi keluarga petani secara keseluruhan,” jelasnya.

Sistem wanatani kopi juga telah dikembangkan di komunitas petani kopi, Nestle. Berkolaborasi bersama kelompok petani lokal di Tanggamus Lampung, Nestle memiliki program bernama “Coffee Plus” yaitu diversifikasi terhadap lahan kopi dengan cara intercropping yang menargetkan penanaman satu juta pohon pelindung hingga tahun 2025.

“Selain bertujuan mengurangi emisi karbon, sistem intercropping ini adalah cara agar petani tidak tergantung pada panen kopi saja, tetapi juga mendapatkan penghasilan dari tanaman lain, seperti vanili, lada, dan jahe,” jelas Rudi Syahrudi, Head of Corporate Agriculture Services, Nestle Indonesia.

Rudi menambahkan bahwa di Indonesia, petani kopi merupakan usaha keluarga yang dikelola bersama oleh suami, istri, dan anggota keluarga lainnya. Untuk itu, pembagian peran yang efektif antara laki-laki dan perempuan sangat diperlukan agar bisa mengembangkan sistem wanatani, yang jauh lebih kompleks daripada sistem monokultur. Nestle juga memiliki program peningkatan pasca panen untuk kelompok perempuan melalui pengembangan agronomi dengan mendirikan UMKM bagi petani kopi dengan anggota perempuan dan remaja putri serta juga Farmer Business School yang juga diikuti oleh lebih dari 1.600 orang petani wanita.

Menyoroti dampak sistem wanatani terhadap lingkungan, Abyatar yang merupakan anggota Koperasi Klasik Beans dan juga pendiri dari Adena Coffee Indonesia mengatakan bahwa peran perempuan juga bedampak pada bagi konservasi lingkungan.

“Klasik Beans sebagai salah satu koperasi kopi di Indonesia, memiliki program pendampingan petani serta program pemulihan ekosistem hutan di daerah Malabar, Ciwidey dan Garut. Penyuluh kami atau yang disebut ‘Sahabat Petani Klasik Beans’ melakukan kunjungan rutin dari beberapa shelter kecil di daerah pegunungan ke area kelompok tani.

Kegiatan ini juga melibatkan perempuan petani, seperti kegiatan memberikan arahan bagaimana penggunaan pupuk alami pengganti pupuk pestisida untuk menjaga kualitas tanah dan air demi keberlanjutan usaha tani kopi,” jelasnya

Salah satu kisah inspiratif dari program Sahabat Petani adalah kemunculan para ‘champion’ dari lapangan. Saat ini, ada satu mantan TKI yang pernah bekerja dari Arab Saudi yaitu Ibu Titin yang berhasil menciptakan sistem wanatani di Ciwidey, Bandung.

“Beliau memimpin petani perempuan agar bisa menerapkan sistem wanatani bagi perkebunan kopi di bloknya. Keberhasilan beliau telah menjadi inspirasi bagi perempuan di desa lainnya. Inilah contoh nyata bagaimana perempuan bisa bernilai tinggi dalam rantai pasok, terutama untuk mendukung konservasi lingkungan,” jelasnya.

Manfaat sistem wanatani juga diakui oleh Sartika Monalisa, seorang Master Trainer SCOPI untuk kopi Robusta dari Okus, Sumatera Selatan. “Banyak sekali aspirasi yang dikemukakan oleh kelompok perempuan di lapangan, misalnya ingin mendapatkan pelatihan pengembangan kopi agar bisa mendukung bisnis keluarga. Pelatihan yang kami berikan kepada petani mulai dari praktek pertanian agroforestri yang baik sampai dengan paska panen dan pemasaran serta managemen keuangan, sayangnya pelatihan ini banyak didominasi laki-laki dibandingkan perempuan,” jelasnya.

Studi ini telah merekomendasi beberapa hal penting diantaranya merancang kegiatan yang peka terhadap gender, seperti mengembangkan kapasitas fasilitator lapangan pada pendekatan yang peka-gender, mendorong partisipasi aktif perempuan untuk mengikuti pelatihan dan pertemuan komunitas, dan mengembangkan kapasitas perempuan untuk mengadopsi tehnik pengelolaan wanatani berbasis kopi.

“Kami harap rekomendasi studi ini bisa dilakukan secara nyata oleh seluruh pemangku kepentingan di rantai pasok kopi. Sudah saatnya perempuan diberikan kesempatan untuk berperan optimal sebagai aktor utama dalam menciptakan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan,” tutup Elok. (Rafli & Fabil/CSR-INTERSTUDI)