Home Berita Transformasi Lanskap Pembayaran Indonesia Dengan Kartu Virtual

Transformasi Lanskap Pembayaran Indonesia Dengan Kartu Virtual

28
Transformasi Lanskap Pembayaran Indonesia Dengan Keberadaan Kartu Virtual | IST
Transformasi Lanskap Pembayaran Indonesia Dengan Keberadaan Kartu Virtual | IST
CSRINDONESIA – Sistem pembayaran elektronik di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan. Salah satu faktor yang mengakselerasi tren ini adalah adopsi solusi berbasis digital oleh pemerintah dan lembaga keuangan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi dan inklusi keuangan nasional. Survei dari Statista tahun 2023 mencatat 79% konsumen menilai pembayaran digital sebagai sistem pembayaran yang lebih aman dan 78% berencana untuk terus menggunakan pembayaran digital.
Di sisi lain, popularitas penggunaan sistem pembayaran digital yang didapatkan oleh pemain dompet digital dan platform digital lainnya mengakibatkan terancamnya sistem pembayaran kartu konvensional. Data dari Bank Dunia tahun 2021 mencatat kepemilikan kartu kredit pada usia 15 tahun ke atas hanya 9,98% sedangkan tingkat kepemilikan kartu debit sebesar 43,99%. Meski demikian, masih ada peluang untuk bisnis sistem pembayaran berbasis kartu di Asia Tenggara.
Salah satu diskusi panel acara Open Finance Summit 2023 yang diprakarsai oleh Ayoconnect membahas peluang untuk solusi pembayaran berbasis kartu dengan mengundang panelis dari Mastercard, Bank BNI, Bank BCA dan Kredivo dalam satu panggung. Sesi diskusi ini di moderatori langsung oleh Jakob Rost selaku Founder dan CEO Ayoconnect, dengan Navin Jain selaku Presiden Direktur Mastercard Indonesia yang berbagi panggung dengan Rian Kaslan selaku Senior Executive Vice President (SEVP) Digital Business Bank BNI, Ketut Wijaya selaku Executive Vice President (EVP) Bank BCA, dan Krishnadas selaku Chief Commercial Officer (CCO) Kredivo.
Jakob memulai diskusi dengan memaparkan bisnis kartu di Indonesia dalam posisi yang unik karena di satu sisi, kegunaan kartu sebagai metode pembayaran masih menjadi pilihan handal masyarakat namun menjadi tantangan besar bagi konsumen yang belum memiliki akses ke fasilitas perbankan.
Lebih lanjut, tingginya angka populasi underbanked dan unbanked di Asia Tenggara terutama Indonesia yang menyebabkan lambatnya adopsi sistem pembayaran berbasis kartu turut menjadi sorotan diskusi panelis. Namun demikian, pandemi COVID-19 yang secara langsung mendorong pertumbuhan angka penetrasi smartphone dan penggunaan internet di masyarakat telah memaksa pemain dalam lanskap finansial untuk mengikuti tren pembayaran berbasis digital.
Inovasi yang lahir dari fenomena ini adalah keberadaan kartu virtual, yang juga dikenal sebagai kartu digital, representasi digital dari kartu pembayaran konvensional baik kartu kredit atau debit. Signifikansi antara dua kartu ini adalah kartu virtual dapat digunakan oleh masyarakat tanpa rekening bank untuk melakukan berbagai transaksi online dan offline layaknya kartu konvensional. Kartu virtual dapat dengan mudah diakses oleh pengguna melalui aplikasi atau platform online lainnya yang diterbitkan oleh lembaga keuangan atau perusahaan fintech.
Jakob Rost, Founder & CEO Ayoconnect menggarisbawahi hasil diskusi dengan menyimpulkan, “Kartu virtual berfungsi sebagai solusi finansial alternatif tanpa rekening bank tradisional. Jika melihat tren perilaku pembayaran yang terus berkembang di Indonesia, kita akan mendapati perkembangannya condong ke arah pembayaran berbasis digital. Lebih lanjut, kartu virtual ini juga menjembatani populasi underserved dan underbanked dengan menawarkan opsi pembayaran digital yang mudah diakses dan dapat digunakan dengan aman untuk berbagai transaksi sehari-hari. Misi mencapai inklusi keuangan dan masyarakat ekonomi digital modern pun dapat dipercepat.”
Sebagai informasi, kehadiran kartu virtual di Indonesia tidak luput dari perhatian badan pengawas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga terkait lainnya dalam hal ini secara aktif terus melakukan pemantauan dan memberikan pedoman untuk memastikan keamanan dan kelancaran penerapan layanan kartu virtual. Regulasi ini juga memprioritaskan perlindungan konsumen dan mendorong penggunaan kartu virtual secara bertanggung jawab.
Dari kacamata bisnis, keberadaan kartu virtual juga dapat dimanfaatkan sebagai strategi untuk menawarkan pilihan fungsi kartu transaksi tunggal atau berulang sesuai dengan kebutuhan nasabah. Kolaborasi Ayoconnect dengan Mastercard, contohnya, memungkinkan bisnis untuk mengelola kas usaha, menawarkan program loyalty dan rewards untuk meningkatkan loyalitas pengguna, hingga mencairkan upah karyawan semua dalam satu kartu API.
“Tren dari ‘kartu’ sebagai sistem pembayaran menuju ke arah cardless (baca: tanpa kartu) dan memposisikan kartu konvensional sebagai sumber dana. Dengan kenyamanan, keamanan, dan potensi inklusi keuangan, kartu virtual menawarkan solusi yang menjanjikan bagi perekonomian digital Indonesia. Seiring dengan meningkatnya adopsi, kartu virtual akan terus memainkan peran penting dalam memengaruhi tren pembayaran digital dan menghadirkan era baru transaksi yang lancar dan aman bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tutup Jakob. |WAW-CSRI