Home Berita Sinergi Akar dan Ranting: Kolaborasi Maybank dan YKAN Lahirkan Pahlawan Hijau dari...

Sinergi Akar dan Ranting: Kolaborasi Maybank dan YKAN Lahirkan Pahlawan Hijau dari Kampung Merasa

30
Kick Off Program Merasa: Komisaris Independen Maybank Indonesia Marina Tusin (kedua dari kiri) berbincang-bincang dengan (dari kanan ke kiri) Direktur Human Capital Maybank Indonesia Irvandi Ferizal, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara Herlina Hartanto, perwakilan Kelompok Wanita Petani Kakao dari Kampung Merasa, Irmaya Banaweng, dan Head of Sustainability Maybank Indonesia Maria Trifanny Fransiska disela-sela peluncuran ‘Program pemberdayaan kelompok petani kakao perempuan di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur’ di Jakarta, Kamis (26/11).
Kick Off Program Merasa: Komisaris Independen Maybank Indonesia Marina Tusin (kedua dari kiri) berbincang-bincang dengan (dari kanan ke kiri) Direktur Human Capital Maybank Indonesia Irvandi Ferizal, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara Herlina Hartanto, perwakilan Kelompok Wanita Petani Kakao dari Kampung Merasa, Irmaya Banaweng, dan Head of Sustainability Maybank Indonesia Maria Trifanny Fransiska disela-sela peluncuran ‘Program pemberdayaan kelompok petani kakao perempuan di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur’ di Jakarta, Kamis (26/11).

CSR-INDONESIA.COM – Di sebuah sudut Kalimantan Timur, di mana hutan hujan masih tegak menjulang, sekelompok perempuan dengan tekun memanen biji kakao dari kebun mereka. Bukan sembarang kakao. Biji-biji itu memiliki rahasia tersembunyi, cita rasa madu dan jeruk nipis yang langka, warisan dari hutan banggeris yang mengelilingi kampung mereka. Di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, kakao bukan sekadar komoditas. Ia adalah simbol harapan, penjaga hutan, dan bukti bahwa perempuan bisa menjadi tulang punggung pembangunan berkelanjutan.

Pada 26 November 2025, PT Bank Maybank Indonesia Tbk dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) meresmikan sebuah inisiatif program pemberdayaan kelompok petani kakao perempuan di kampung tersebut. Ini bukan sekadar program pelatihan. Ini adalah komitmen untuk mengubah narasi bahwa konservasi hutan dan kesejahteraan ekonomi bisa berjalan beriringan.

“Kami percaya bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan,” ujar Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank Indonesia. “Mereka bukan hanya pelindung hutan, tapi juga pelaku ekonomi tangguh.”

Maria menegaskan, ini adalah pertama kalinya Maybank Indonesia memberikan dukungan khusus bagi kelompok perempuan untuk mengelola kakao berkelanjutan sambil menjaga hutan. Program ini menjadi bagian dari strategi pembiayaan berkelanjutan bank tersebut.

Di sisi lain, Herlina Hartanto, Direktur Eksekutif YKAN, mengungkapkan bahwa Indonesia, dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kerap menghadapi dilema antara konservasi dan tekanan ekonomi. “Oleh karena itu, pendekatan berbasis masyarakat seperti ini menjadi solusi yang menjanjikan,” katanya.

YKAN dan Maybank menargetkan dalam tiga tahun ke depan, program ini dapat memberdayakan 100 perempuan penerima manfaat langsung dan melibatkan 500 masyarakat dalam pengambilan keputusan hijau. Yang tak kalah penting, setidaknya 100 hektare hutan di Kampung Merasa akan terlindungi dari alih fungsi lahan.

Kick Off Program Merasa: Komisaris Independen Maybank Indonesia Marina Tusin (dari kiri ke kanan) berfoto bersama perwakilan Kelompok Wanita Petani Kakao dari Kampung Merasa, Irmaya Banaweng, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara Herlina Hartanto, dan Direktur Human Capital Maybank Indonesia Irvandi Ferizal disela-sela peluncuran peluncuran ‘Program pemberdayaan kelompok petani kakao perempuan di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur’ di Jakarta, Kamis (26/11).
Kick Off Program Merasa: Komisaris Independen Maybank Indonesia Marina Tusin (dari kiri ke kanan) berfoto bersama perwakilan Kelompok Wanita Petani Kakao dari Kampung Merasa, Irmaya Banaweng, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara Herlina Hartanto, dan Direktur Human Capital Maybank Indonesia Irvandi Ferizal disela-sela peluncuran peluncuran ‘Program pemberdayaan kelompok petani kakao perempuan di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur’ di Jakarta, Kamis (26/11).

Kakao yang Bercerita

Dina Riska, Community Development Manager YKAN, dengan semangat menjelaskan keunikan kakao Merasa. “Rasa madu dan citrusnya muncul karena kampung ini dikelilingi hutan banggeris, tempat lebah penghasil madu bersarang. Ini yang membuat kakao dari Merasa begitu istimewa.”

Sejak 2019, YKAN telah mendampingi petani setempat melalui Internal Controlling System (ICS), sebuah sistem yang memungkinkan petani terus belajar menghasilkan kakao premium dan terhubung dengan pasar.

Pada 2021, petani Merasa mengirimkan sampel biji kakao mereka ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember. Hasilnya mengejutkan. Kakao mereka masuk 8 besar dalam seleksi nasional dan hampir mewakili Indonesia di ajang Cocoa of Excellence di Paris. Prestasi itu menjadi modal berharga.

Kisah kakao Merasa sampai ke telinga Riza Amala, Head of Sales Pipiltin Cocoa, produsen cokelat artisan lokal. “Kami sangat tertarik. Pada 2022, kami secara resmi menjadikan kakao Merasa sebagai signature melalui jenama Single Origin Kampung Merasa 74 persen dengan kecenderungan rasa pahit,” kata Riza.

Kakao Merasa menjadi biji kakao pertama dari Pulau Kalimantan yang diolah Pipiltin Cocoa. Saat itu, Pipiltin berkomitmen menyerap seluruh panen dari Kampung Merasa. Namun, berbagai kendala seperti keterbatasan keterampilan dan banjir yang kerap melanda, membuat kampung tersebut kesulitan memenuhi permintaan.

Semangat dari Hutan

Irmaya Banewang, perwakilan kelompok petani perempuan, datang langsung dari Merasa untuk menghadiri peluncuran program. Dengan mata berbinar, ia menyatakan antusiasmenya. “Permintaan produk olahan kakao fermentasi kami terus berdatangan. Ini yang membuat kami makin semangat.”

Bagi Irmaya dan perempuan lainnya, dukungan ini bukan sekadar soal ekonomi. “Kami ingin anak-anak muda di kampung melihat bahwa bertani kakao punya masa depan. Bahwa kita bisa hidup sejahtera tanpa merusak hutan. Bagi kami, hutan bukan cuma tempat mencari nafkah, tapi bagian dari hidup yang harus dijaga.”

Dalam diamnya hutan Kalimantan, di antara pepohonan banggeris dan kicau burung, para perempuan Kampung Merasa tak hanya memetik kakao. Mereka memetik harapan. Setiap biji kakao yang mereka hasilkan adalah cerita tentang harmoni antara manusia dan alam, tentang keteguhan perempuan yang menolak menyerah pada keterbatasan, dan tentang masa depan di mana hutan tetap lestari, sementara ekonomi desa terus bergerak.

Kolaborasi Maybank Indonesia dan YKAN mungkin baru sebuah awal. Tapi di tangan para perempuan Merasa, kakao telah menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih hijau, lebih adil, dan penuh rasa. |WAW-CSRI