Home CSR Praktik CSR : Berkunjung Untuk Anak-anak Disabilitas (Berkebutuhan Khusus) di Yayasan Sayap...

Praktik CSR : Berkunjung Untuk Anak-anak Disabilitas (Berkebutuhan Khusus) di Yayasan Sayap Ibu Bintaro TangSel

16

CSRINDONESIAMateri perkuliahan Corporate Social Responsibility and Etics (CSR&Ethics) diberikan pada kurikulum pengajaran jurusan Public Relations(PR) di StikomInterstudi. Selain mempelajari teori, mahasiswa juga belajarbagaimana praktek melakukan CSR yang dimulai dariperencanaan hingga evaluasi.

Praktik ini dilakukan oleh mahasiswa bernama Brillian N Hanin Pratama (Billy),  jurusanPR Angkatan 2019 pada semester antara (semester yang dibukasetelah usai semesteran menuju semester berikutnya) yang bisa diambil oleh mahasiswa karena pada semester sebelumnya tidakmengambil mata kuliah (MK) yang dimaksud ataupun yang dikarenakan tidak lulus. Praktik yang dilakukannya denganmengadakan kegiatan sosial untuk nengunjungi anak-anakdisabilitas (berkebutuhan khusus) di Yayasan Sayap Ibu (YSI), Bintaro Tangerang Selatan Banten pada Selasa (12/9/23) lalu.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalamiketerbatasan atau keluarbiasaan, baik fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional, yang berpengaruh secara signifikandalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkandengan anak-anak lain yang seusia dengannya. Anak berkebutuhan khusus biasanya ditentukan oleh hal yang tidakbisa dilakukan seorang anak. Misalnya, pencapaianperkembangan fisik, mental-intelektual, maupun emosional yang belum terpenuhi. Kemudian makanan yang dilarang ataupunaktivitas yang dihindari. Kebutuhan khusus adalah istilah umumuntuk macam-macam diagnosis (AHF, 2022).

Terdapat beberapa jenis dari anak berkebutuhan khusus, seperti misalnya 1) Tunanetra, anak yang terganggupenglihatannya. 2) Tunalaras, adalah anak yang kesulitan pada saat beradaptasi sehingga bisa berperilaku tidaksesuai/selaras dengan norma-norma yang ada di lingkungannya, yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.3) Tunadaksa, anak yang mempunyai kelainan (cacat permanen)pada bagian sistem gerak tubuh, contohnya seperti tulang, sendi,otot. 4) Tunagrahita (down syndrome), anak yang memilikihambatan dan juga keterbelakangan mental jauh dari rata-rata (IQ di bawah 70). Akibatnya anak akan kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas, berkomunikasi, maupun dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. 4) Tuna grahita yang terbagi menjadi 2 jenis, yaitu down syndrome (Cerebral palsy), dan tuna grahita biasa serta gangguan yang  dikarenakankerusakan pada otak sehingga menyebabkan gangguan pada pengendalian fungsi motorik (Desi Caesaria S, 2021).

Salah satu tempat bagi anak-anak berkebutuhan khusus initerdapat Yayasan Sayap Ibu (YSI), Tangerang Selatan. YSI inidikhususkan hanya untuk merawat anak-anak PenyandangDisabilitas (berkebutuhan khusus).  Dikutip dari laman SayapIbu dijelaskan bahwa Yayasan Sayap Ibu di Tangerang-Bantenini  pada awalnya adalah, pindahan dari anak-anak Yayasan Sayap Ibu di Jakarta. Sebelumnya Yayasan Sayap Ibu Bintaromerupakan Unit dari cabang Jakarta  Pada saat itu Bintaromasuk dalam wilayah Jakarta, tetapi ketika terbentuk ProvinsiBanten maka diputuskan Yayasan Sayap Ibu Bintaro dijadikanYayasan Sayap Ibu Cabang Provinsi Banten dengan akunInstagram @yayasansayapibubanten

Karena hanya satu mahasiswa saja yang berkunjung keYSI, maka segala sesuatunya di kerjakan sendiri oleh Billy mulai dari tahap perencanaan sampai pada tahap evaluasi  yangdibimbing langsung oleh dosen pengampu MK, Dra. Susi Andrini,. M.Si. Proses persiapan diawali dengan menyiapkanpengajuan proposal kegiatan, pemantauan lokasi, dan perjanjiandengan pihak Yayasan Sayap Ibu, Bintaro. Persiapan acara berlangsung selama H-14 atau 2 minggu sebelum acara sesungguhnya diadakan dan perlu dibuatkan dulu perjanjian dandijadwalkan dari pihak Yayasan. Jadi dalam hal ini tidak bisa ujug-ujug datang atau menyambangi YSI, Bintaro.  Kegiatan yang dilakukan adalah dengan memberikan sejumlah sembakoberupa bahan baku makanan ataupun lainnya yang dibutuhkanseperti misalnya; gula, tepung, minyak sawit, minyak zaitun, susu, biskuit, mie, kecap, dan lain sebagainya.

Anak berkebutuhan Khusus saat kelas komputer/ist

Saat berkunjung ke  YSI,  kami disambut oleh Ibu Ayu,selaku Humas dan administrator harian (Manajer OperasionalYSI, Bintaro). Pada kesempatan itu, bu Ayu menjelaskan, Semua anak-anak yang ada di sini, kami dapatkan dengan carayang sah/legal dari dinas sosial setempat. Jadi kami tidakmemungut di jalanan atau mengadopsinya, karena bisa kesalahan nanti. Ia menjelaskan, “ Jadi sebaiknya bilamenemukan bayi yang di buang, cepat lapor polisi terdekat sajasupaya kita tidak kesalahan nantinya.” tandasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa semua jumlah total orang yang ada di YSI ini ada sekitar 80 orang yang terdiri darikeamanan, para pengasuh, guru dan karyawan lainnya dengan36 orang anak berkebutuhan khusus antara usia balita yang termuda hingga 30 tahun yang tertua. Setelah penerimaan kami, dan serah terima barang-barang  yang kami bawa,  bu Ayu mengajak kami berkeliling untuk melihat situasi YSI sepertimelihat situasi kelas pada saat anak-anak berkebutuhan khususbelajar dan bagaimana cara mereka  berkomunikasi dengan kita.

Anak berkebutuhan Khusus saat kelas excel/ist

Saat memasuki sebuah kelas ada 5 (lima) orang anakberkebutuhan khusus yang sedang belajar di sana. Bang ‘Ucup’ (30 tahun) adalah ketua kelas yang paling tua usianya diantarateman-temannya dan pandai mengoperasikan komputer denganbantuan kursor khusus. Dia juga sudah pandai mencari hal-halyang terkait dengan pelajaran memasak atau lainnya dan dihubungkan pada sebuah layar lebar yang ada di depan kelassehingga semua teman-temannya sekelasnya bisa melihatbersama. Ia juga bisa membuat hitungan belanja denganmenghitung keluar dan masuknya uang (mengoperasikan)program excel.

Bu Ayu menjelaskan apa yang bisa dilihat sekarang inibuah panjang dari perjuangan para pengasuh dan guru-guru yang dengan sabar membimbing mereka sehingga bisa mandiri, paling tidak bermanfaat untuk dirinya sendiri.  Selain melihatcara mereka bekomunikasi, kami juga melihat beberapa kegiatanyang mereka lakukan disana seperti melihat video yang ditampilkan itu, dan hasil membuat sabun, bahkan refleksimusik untuk relaksasi syaraf-syaraf mereka. Hal-hal yang kami lakukan tersebut sangat membuat hati kamu tersentuh karenadengan keterbelakangan mereka, mereka tetap tegar dan semangat untuk beraktifitas setiap hari.

Kegiatan yang ada di YSI sangat beragam berbagai fasilitaskelas diupayakan contohnya ada fasilitas kelas untuk terapi, kelas bermain dan mendengarkan musik, cek kontrol harian kerumah sakit ataupun fasilitas kolam renang untuk refleksi anak-anak berkebutuhan khusus yang senang berenang dengandidampingi para pengasuh. Berenang ataupun bermain dalam air dapat membuat rasa rilex dan membuat olah jiwa anak-anaktersebut merasakan senang sampai merasa lelah sehingga dapatmeningkatkan kualitas tidur atau istirahat mereka. Bu Ayu juga menjelaskan ada anak-anak yang sangat hiperaktif bisa berlama-lama di ruang bermain trampoline hingga berjam-jam sampaimenjelang malam. Karena merasa sangat lelah akibat bermaindan loncat-loncat mereka dapat tertidur pulas.

Waktu 1,5 jam berkeliling tidak terasa, karena adakeperluan lain bu Ayu harus menerima beberapa anak dari salah satu satu Universitas di Jakarta yang akan magang di YSI. Banyak pelajaran berharga setelah mengunjungi YSI, jauh di lubuk hati terucap rasa syukur yang dalam kepada Yang MahaKuasa, betapa kita ini sudah sangat sempurna diciptakan utuhdan normal. Rasa malu menghinggap saat melihat anak-anak itumeski dalam keterbatasan mereka terus berjuang untuk mengisikehidupan ini. Siapapun tidak akan meminta untuk dilahirkantak sempurna, namun kala itu terjadi tetaplah berjuang dan bersyukur atas apa yang terjadi  untuk berdamai dengan dirisendiri.

Terimakasih kepada CSR-Indonesia dan para donasi yang membantu suksesnya kegiatan ini. Sungguh menjadi sebuahpelajaran berharga dalam hidup setelah bisa berkunjung dan melihat secara langsung anak-anak berkebutuhan khusus di Yayasan Sayap  Ibu, Bintaro Tangerang Selatan-Banten.

Brillian N Hanin Pratama (Billy), Mahasiswa PR Stikom Interstudi Angk.2019

Previous articleNestlé Needs YOUth: Inisiatif Nestlé Indonesia Berdayakan Lebih Dari 100.000 Pemuda
Next articleNojorono Kudus Peduli Kebutuhan Air Bersih untuk Masyarakat Terdampak Kekeringan