
CSRINDONESIA – Pada suatu pagi akhir April yang biasa saja, di bantaran Sungai Ciliwung wilayah Tambora, Jakarta Barat, ratusan langkah kaki menyatu dalam satu tujuan: membersihkan. Bukan sekadar membersihkan sungai dari sampah, melainkan juga dari sikap abai yang selama ini kita rawat dengan nyaman.
Evone, seorang relawan muda, berkata dengan napas yang masih terengah, “Saya belajar bahwa peduli itu tidak cukup dari kata-kata. Kita harus turun tangan, walau harus kotor-kotor. Karena perubahan nggak datang dari kenyamanan.”
Ucapan itu bukan retorika kosong. Ia hadir sebagai saksi dari gerakan yang digerakkan hati: Aksi Bersih Sungai Ciliwung yang digagas Yayasan WINGS Peduli, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi 2025. Dalam aksi ini, terkumpul 592,4 kilogram sampah—dari plastik hingga potongan kayu lapuk—yang semuanya dipilah dan dikelola secara bertanggung jawab, bukan sekadar dikumpulkan lalu dilupakan.

Sungai yang Menyimpan Harapan dan Luka
Ciliwung bukan sekadar badan air. Ia adalah nadi tua yang mengalir dari Kabupaten Bogor hingga jantung Jakarta, melintasi 13 anak sungai, menjadi sumber air baku, jalur irigasi, bahkan pelipur lara di kala senja bagi warga kota. Namun, di balik gemericik airnya tersimpan tangis: limbah rumah tangga, sisa makanan, dan botol-botol kosong yang mencerminkan betapa kosongnya tanggung jawab kita.
“Sungai Ciliwung adalah infrastruktur vital untuk mengendalikan banjir di Jakarta, tapi kini tercemar karena limbah dan sampah,” ujar Dadang Cahya Rusdiana dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Ia tak menyembunyikan keprihatinannya. “Kami butuh kolaborasi dari semua pihak, mulai dari pemilahan sampah di rumah.”

Dari Aksi ke Edukasi
Di balik keberhasilan teknis pengumpulan sampah, ada gerakan yang lebih dalam: kampanye #PilahDariSekarang. Tiga langkah kunci digaungkan: Kenali jenis sampahnya, Pilah sesuai kategorinya, dan Setor ke bank sampah terdekat.
Sheila Kansil, perwakilan Yayasan WINGS Peduli, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya bersih-bersih sesaat. Mereka menggandeng komunitas lokal seperti Bank Sampah Kartini 09, serta ratusan relawan dari berbagai latar belakang—media, warga bantaran, hingga karyawan WINGS Group sendiri.
Yang menarik, usai memungut dan memilah sampah, mereka juga menebar bibit ikan ke sungai. Sebuah simbol pemulihan. Sebuah doa yang dilemparkan ke air, agar kehidupan kembali tumbuh dari luka-luka ekosistem yang tercabik.
Sampah yang terkumpul tak langsung diangkut ke TPA. Bersama mitra Waste4Change, sampah dipilah secara sistematis. Sampah organik akan jadi pakan maggot, non-organik akan disalurkan ke pihak daur ulang, dan sisanya diolah jadi Refuse Derived Fuel—bahan bakar alternatif yang menggantikan batu bara.
“Sampah dari sungai memang bukan kondisi ideal untuk didaur ulang,” aku Saka Dwi Hanggara, Campaign Manager Waste4Change. “Tapi aksi seperti ini penting untuk membangun kesadaran. Karena sesungguhnya, pemilahan terbaik dimulai dari rumah.”

Bukan Seremonial, Melainkan Komitmen
Aksi ini bukan satu kali. Sejak 2024, kampanye Yayasan WINGS Peduli sudah melibatkan lebih dari 850 relawan di berbagai titik aliran air, dengan total lebih dari 2 ton sampah yang dikumpulkan. Mereka juga membina bank sampah di Jakarta dan Surabaya yang setiap bulannya mampu mengelola rata-rata 200 kilogram sampah, menjangkau lebih dari 25 ribu masyarakat dengan edukasi.
Nur Azizah, relawan lain yang turut serta, menyimpulkan semangat kolektif itu dengan sederhana namun menusuk: “Saya berharap ini bukan akhir, tapi awal dari gebrakan yang lebih besar. Bumi ini butuh banyak orang yang mau bergerak, sekecil apa pun itu.”
Hari Bumi bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat yang datang dengan wajah keriput dan mata basah, meminta kita berhenti mencemari satu-satunya rumah yang kita miliki.
Yayasan WINGS Peduli, lewat #PilahDariSekarang, telah menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari gerakan kecil yang konsisten. Dari satu tangan yang memungut plastik, menjadi ratusan tangan yang saling menguatkan. Karena bumi tidak butuh penyelamat. Ia butuh teman yang setia menjaganya—setiap hari, dalam tindakan nyata. |WAW-CSRI













