Home CSR Ekonomi Peluang dan Tantangan Digitalisasi Pasar di Indonesia

Peluang dan Tantangan Digitalisasi Pasar di Indonesia

50
Salah satu sudut pasar tradisional | pexels
Salah satu sudut pasar tradisional | pexels
CSRINDONESIA – Kementerian Perdagangan menargetkan program digitalisasi 1 juta UMKM di 1.000 pasar rakyat di Indonesia. Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mengatakan bahwa digitalisasi dilakukan guna menggandakan pendapatan dan omzet UMKM hingga puluhan kali lipat.
Sebagai perusahaan yang fokus pada digitalisasi pasar, Titipku sepakat dengan gerakan ini. Pasalnya, dari hasil riset yang Tim Riset Titipku susun, digitalisasi di pasar memang berdampak baik bagi para pedagang, pelanggan, kurir, hingga perekonomian Indonesia secara umum.
Sejak 2022, Tim Riset Titipku mengembangkan sebuah riset bertajuk “Digitizing Traditional Market in Indonesia”.
Riset ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan seputar digitalisasi pasar tradisional, seperti: (1) Bagaimana kesiapan pasar saat ini dalam menerima teknologi digital? (2) Apa masalah yang dialami pasar saat ini sehingga digitalisasi bisa menjadi solusi? dan, (3) Apa peran digitalisasi terhadap ketahanan UMKM dan pasar dalam menghadapi ancaman resesi?
Isi Laporan Riset
Laporan riset ini terbagi menjadi tujuh bagian utama. Pada bagian pertama, Tim Riset Titipku memaparkan kondisi real pasar, mulai dari jumlah pasar di Indonesia, pembagian jenis pasar, hingga transaksi yang dihasilkan di pasar. Selain itu, bagian ini juga membahas masalah terkini yang dialami pedagang pasar seperti kurangnya modal hingga rantai pasokan yang panjang.
Bagian kedua membahas inovasi teknologi yang bisa ditawarkan untuk pasar tradisional. Pada bagian ini, Tim
Riset Titipku berkaca pada teknologi yang diciptakan oleh Titipku, seperti Aplikasi Belanja Titipku dan Aplikasi Titipku Lapak.
Melalui Aplikasi Belanja Titipku, pedagang jadi punya ruang luas untuk berdagang tanpa terbatas jarak. Sementara, melalui Aplikasi Titipku Lapak, pedagang bisa mengatur lapaknya sendiri. Tiap transaksi digital dan uang yang masuk juga tercatat riwayatnya sehingga bisa dijadikan dokumentasi untuk mencari modal usaha.
Pada bagian ketiga dan keempat, laporan ini berisi tentang perkiraan nilai ekonomi yang dihasilkan dari digitalisasi UMKM dan pasar dan apakah itu bisa membuat pelaku UMKM dan pedagang pasar tahan akan resesi yang mungkin terjadi di 2023. Menurut perkiraan, pertumbuhan ekonomi digital pada 2025 di Indonesia ada di angka 124 miliar dolar Amerika jika memanfaatkan digitalisasi UMKM.
Potensi pertumbuhan inilah yang menjadi alasan mengapa digitalisasi UMKM masuk dalam strategi Pemerintah Indonesia dalam menghadapi resesi. Menurut CEO Titipku, Henri Suhardja, peningkatan bisa terjadi karena digitalisasi memungkinkan pelaku UMKM dan pedagang pasar mendapat pelanggan dari jarak yang lebih jauh dari pasar, yang selama ini sulit untuk belanja langsung ke pasar.
“Dengan UMKM masuk ke online/marketplace, UMKM bisa mendapatkan kesempatan untuk masuk ke pasar baru. Artinya UMKM akan dikenal lebih luas dan mendapatkan kesempatan dikenal oleh calon customer yang baru, yang berpotensi menjadi pelanggan. Dengan demikian, UMKM tidak hanya bergantung ke pelanggan lama saja, tapi punya pelanggan baru,” ungkap Henri.
Bagian kelima berisi studi kasus terkait digitalisasi pasar yang terjadi di China dan Indonesia. di China, Tim mengambil kasus digitalisasi pasar buah grosir di Chongqing. Sementara, di Indonesia, kasus yang diangkat adalah proses digitalisasi keuangan yang dilakukan oleh LinkAja.
Pada bagian keenam, Tim Riset Titipku memaparkan temuan seputar persepsi pelanggan dan pedagang pasar soal digitalisasi pasar. Data yang digunakan merupakan data primer hasil dari wawancara ke pedagang dan survei ke pelanggan. Secara umum, hasil survei menunjukkan bahwa digitalisasi pasar mempermudah proses belanja dan mencari produk. Pelanggan juga menilai belanja daring terpercaya karena ada layanan dari customer service yang siap membantu. Oleh sebab itu, para pelanggan merasa belanja daring menjadi kebiasaan baru yang mungkin tetap dilakukan bahkan ketika COVID-19 sudah mereda.
Sementara, hasil wawancara ke pedagang juga menghasilkan beberapa temuan, di antaranya: proses penjualan barang jadi lebih mudah, proses mengiklankan produk jadi lebih mudah, proses penggunaan aplikasi tidak sulit, dan penjualan secara daring bisa meningkatkan omzet pedagang.
Di bagian ketujuh, Tim Riset Titipku memberi kesimpulan atas hasil riset dan saran terkait tindak lanjut dari hasil riset. Secara umum, Titipku mendukung gerakan pemerintah untuk mendigitalisasi UMKM dan pedagang pasar, dan proses ini harus dilakukan sesegera mungkin. Tujuannya, agar omzet pedagang meningkat dan mereka bisa siap menghadapi resesi. |WAW-CSRI