Home CSR Kesehatan Memutus Lingkaran Setan Stunting (1): Warisan Buruk dari Generasi ke Generasi

Memutus Lingkaran Setan Stunting (1): Warisan Buruk dari Generasi ke Generasi

55
Ilustrasi anak-anak bermain | Sumber Foto: Pexels- Artem Beliaikin
Ilustrasi anak-anak bermain | Sumber Foto: Pexels- Artem Beliaikin

CSRINDONESIA – Sekumpulan bocil (bocah cilik) tengah bermain seru di lahan kosong perkampungan. Tanpa lelah mereka berlarian ke sana ke mari sambil tertawa dengan ceria dan penuh sukacita. Semuanya nampak bahagia.

Namun mereka tidak dibiarkan bermain sendiri begitu saja. Emak-emak mereka, mengawasi dari jauh sambil tak kalah serunya mengobrol apa saja yang biasa emak-emak gunjingkan.

Semuanya nampak wajar dan normal-normal saja seperti yang biasanya terjadi di waktu senggang perkampungan padat penduduk di Indonesia.

Tapi jika kita sedikit jeli, ternyata ada sosok seorang bocil yang nampak berbeda dari kawan-kawan bermainnya. Sebut saja nama anak itu Kumbang. Katanya dia dilahirkan tepat pada peringatan hari Kartini, 21 April sekitar tiga tahun lalu.

Kumbang yang turut bermain seru bersama anak-anak lainnya nampak memiliki tubuh yang lebih pendek dibanding kawan sebayanya. Bahkan jika mempertimbangkan umurnya saat ini, berat badannya juga jauh di bawah semestinya.

Kumbang adalah anak kedua dari pasangan Ibu Bunga, 29 tahun (yang tak mau disebutkan nama aslinya) dan Suparman, 34 tahun. Kumbang tak sendiri, ia memiliki seorang kakak dan adik laki-laki. Usianya selisih 2,5 tahun dengan sang kakak, dan 1,5 tahun dengan sang adik.

Ibu Bunga berkisah, saat lahir berat badan Kumbang memang jauh dibawah rata-rata bayi lain yang normal dengan berat badan rata-rata 2,5 kilogram, Kumbang hanya memiliki berat 1,7 kilogram.

Sebenarnya ibu Bunga bukanlah ibu yang malas. Ia tergolong sebagai ibu yang rajin dan tak pernah absen membawa anak-anaknya ke Posyandu. Kebetulan jarak Posyandu ke rumahnya memang hanya 500 meter saja.

Berkat aktivitasnya di Posyandu itulah Bunga tersadarkan akan kelainan yang diderita Kumbang. Karena berat Kumbang selalu jauh dari rata-rata anak yang normal lainnya, maka petugas Posyandu menyarankan agar Ibu Bunga membawa Kumbang dan mengkonsultasikan kondisinya kepada dokter spesialis anak. Namun ternyata saran dokter masih membuat ibu Bunga bingung.

“Kata dokter anak saya harus banyak makan makanan sehat dan banyak gizinya,” ujar ibu Bunga ragu-ragu. Penjelasan itu tidak membuat dirinya cukup mengerti kenapa berat badan anaknya susah naik.

Ibu Bunga merasa sudah memberikan makanan cukup untuk Radit. Termasuk memberikan asupan susu formula, dimana Siti dan suami sampai harus merogoh kocek hingga Rp 300 ribu buat pembelian susu khusus Radit. Mereka kurang bisa mengerti bahwa kondisi stunting yang dialami Radit sudah terjadi karena permasalahan yang dialaminya sejak dalam kandungan.

Secuil kisah memprihatinkan di atas merupakan salah satu ujung gunung es kasus stunting di Indonesia. Kasus-kasus stunting seperti menjadi warisan buruk dari generasi ke generasi yang tak juga habis walaupun telah melampaui tujuh turunan.

Hasil riset yang dirilis The South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS) telah mengungkapkan bahwa angka malnutrisi di Indonesia masih cukup tinggi. Pun berdasarkan Riskesdas 2018, ada 2 provinsi di Indonesia yang mempunyai prevalensi stunting di atas 40%, yang tergolong sangat tinggi. Kemudian, 18 provinsi lainnya mempunyai prevalensi stunting antara 30-40 % yang tergolong tinggi.

Hal tersebut disebabkan karena kualitas asupan gizi yang masih kurang maksimal dimana kebanyakan anak usia pertumbuhan di Indonesia memiliki asupan proporsi protein hewani yang lebih rendah, yakni sejumlah 30% dibandingkan protein nabati yang dibutuhkan sejumlah 70%. Padahal, agar anak dapat berkembang dengan maksimal, harus mendapatkan asupan gizi yang seimbang. Salah satu kandungan penting dan kaya manfaat yang seringkali luput dari perhatian adalah 9AAE.

Kandungan 9AAE sangat penting karena tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri, sehingga harus dipenuhi dari sumber protein hewani seperti daging, ikan, ayam, telur atau susu. Menurut studi yang dilakukan oleh National Center for Biotechnology Information, kekurangan satu jenis 9AAE dapat menurunkan kinerja hormon pertumbuhan (IGF-1) sebesar -34% dan sampai dengan -50% apabila keseluruhan 9AAE tidak terpenuhi. Hal ini berarti bahwa kekurangan 9AAE sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak.

Paula Verhoeven, selebgram, public figure sekaligus merupakan seorang ibu menyampaikan bahwa 9AAE ini menurutnya bisa menjadi game changer untuk para ibu agar lebih ‘melek’ dalam menentukan produk bernutrisi tinggi dan berkualitas untuk anak-anak.

“Di tengah derasnya informasi khususnya di kalangan ibu-ibu, kadang membuat kita jadi bingung sendiri. Padahal urusan kesehatan apalagi tumbuh kembang anak harusnya jadi prioritas nomor satu di masa sekarang ini. Aku selalu menjadikan patokan informasi yang dikeluarkan oleh sumber terpercaya seperti dari dokter atau ahli gizi ataupun instansi yang kredibel supaya tidak salah dalam memberikan asupan yang terbaik untuk Kiano,” ujar Paula.

Sayangnya pengetahuan seperti Paula ini tidak banyak dimiliki oleh semua ibu-ibu Indonesia yang ada. Masih banyak ibu-ibu yang tidak menyadari akan bahaya stunting yang mengancam buah hatinya semenjak dari dalam kandungan hingga masa emas pertumbuhan mereka.

Prinsip VW yang notabene merupakan singkatan dari istilah “Vokoke Wareg” (ind: asal kenyang) masih menjadi andalan mereka dalam memberikan asupan nutrisi bagi ibu hamil maupun anak-anak mereka. Alhasil, kasus-kasus stunting terus bermunculan dan menjadi semacam lingkaran setan yang memerlukan kerja keras dalam memutuskannya.(bersambung)|WAW-CSRI

Previous articleKampung Sarangenge dari Ciranjang Itu Akan Menglobal
Next articleMemutus Lingkaran Setan Stunting (2): Optimalkan Pertumbuhan Sejak Awal Kehidupan