Home Digital Kenekatan Strategi Pencitraan Politik “Tak Bisa Sentimen Positif, Negatif Pun Jadi”

Kenekatan Strategi Pencitraan Politik “Tak Bisa Sentimen Positif, Negatif Pun Jadi”

49
Ilustrasi AI | WAW
Ilustrasi AI | WAW

Kenekatan Strategi Pencitraan Politik “Tak Bisa Sentimen Positif, Negatif Pun Jadi”

Oleh: Wahyu Ari Wicaksono, Storyteller
Bayangkan panggung politik Indonesia sebagai sebuah talk show raksasa. Setiap hari, para kontestan berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian. Beberapa datang dengan data dan grafik yang runcing, eh… malah bikin penonton ngantuk. Lalu, tiba-tiba, seorang bapak-bapak menteri dengan serius menggendong karung beras seolah-olah sedang mengikuti lomba strongman tingkat RT. Voilà! Langsung trending.
Inilah yang saya sebut sebagai “Strategi Panggung Kebun Binatang Digital”. Di kebun binatang, pengunjung tidak akan berlama-lama di depan kandang kijang yang anggun memamah biak. Mereka akan berkerumun melihat orangutan yang lagi pamer otot atau panda yang jatuh terpeleset. Prinsipnya sama: Yang lucu, yang aneh, yang awkward, itulah yang dapat porsi tayangan utama.
Zulkifli Hasan, Verrel Bramastya, dan Sita Anjani adalah para “Sinden Panggung Digital” yang cerdik. Mereka mungkin tidak selalu nyinden dengan suara merdu. Kadang, fals. Tapi yang penting, panggungnya rame! Tanggapan netizen? Bukan lagi tepuk tangan, melainkan banjir meme, parodi AI, dan thread sindiran yang lebih kreatif dari naskah kampanye mereka sendiri.
Ilustrasi AI | WAW
Ilustrasi AI | WAW
Logika Dibalik Tawa: Teori “Nasi Sudah Menjadi Bubur, Tapi Viral”
Dalam literatur komunikasi, ini adalah perpaduan antara Teori Agenda Setting yang sudah uzur dan Logika Algoritma Media Sosial yang kekinian dan sedikit usil. Pakar Zizi Papacharissi bilang, kita sekarang hidup di dunia “Affective Publics” publik yang berkumpul bukan karena ide, tapi karena perasaan yang meluap-luap: gemas, geli, atau gagal fokus.
Algoritma Instagram dan TikTok tidak punya mata untuk membedakan pujian dan cacian. Bagi mereka, “engagement” adalah engagement. Like, share, komentar marah, bahkan emoji ketawa ngakak, semuanya bernilai sama: bahan bakar viralitas. Jadi, jika tidak bisa menjadi pahlawan, jadilah “bahan olokan nasional”. Setidaknya, nama Anda akan diingat, meski mungkin sebagai stiker WhatsApp grup keluarga.
Ilustrasi AI | WAW
Ilustrasi AI | WAW
Dari Trump sampai “Ngepel”: Sebuah Garis Keturunan yang Unik
Preseden untuk ini ada. Donald Trump adalah sang maestro. Setiap cuitannya yang kontroversial seperti lempar bom asap ke panggung media, membuat semua orang batuk-batuk dan tidak bisa melihat, tapi justru itu strateginya. Dia paham, dalam hiruk-pikuk ini, “Being talked about” lebih penting daripada “Being respected”.
Di rumah sendiri, lihatlah Ridwan Kamil. Dulu kerap disebut “Bapak Project Pop-Up” karena gaya photogenic-nya. Kritik mengalir, tapi namanya juga melekat. Atau Anies Baswedan di awal 2017, yang setiap pidatonya dibedah seperti skripsi, menciptakan polarisasi yang justru mengkristalkan basis pendukungnya.
Ilustrasi AI | WAW
Ilustrasi AI | WAW
Bahaya di Balik Tawa: Ketika Candu Jadi Boomerang
Namun, strategi ini ibarat main api dengan menggunakan minyak goreng bekas. Bisa jadi penerangan sesaat, tapi sangat mudah membakar dapur sendiri.
Menurut teori Kultivasi (Gerbner), jika Anda terus-menerus melihat seorang politisi sebagai bahan lelucon di media sosial, lama-lama Anda akan percaya: “Oh, dia memang hanya badut berjas.” Citra ini bisa membeku seperti es batu di freezer, sulit dicairkan.
Klaim bahwa orang Indonesia pelupa itu agak menyesatkan. Kita mungkin pelupa, tapi Google dan arsif digital tidak. Meme “gendong beras” hari ini akan dengan mudah di-revive 5 tahun mendatang dengan caption: “Masih ingat caleg yang janjinya cuma seberat ini?”
Ilustrasi AI | WAW
Ilustrasi AI | WAW
Dari Viral ke Valid, Bisakah?
Jadi, apa yang kita saksikan ini sebenarnya hanya babak penyisihan dalam kontes panjang. Mereka telah memenangkan “Lomba Kontes Teriak” suara mereka terdengar paling jauh, walau isinya cuma bilang “Halo!”.
Tantangan sebenarnya ada di babak selanjutnya: “Lomba Kontes Isi Piring”. Bisa kah mereka mengubah tawa dan sorakan (atau sorakan sinis) itu menjadi kepercayaan? Bisakah “Sinden Panggung Digital” ini, setelah membuat penonton terhibur, kemudian menyanyikan sebuah lagu yang benar-benar menyentuh hati dan memecahkan masalah?
Atau, jangan-jangan mereka hanya akan menjadi “artis one-hit wonder” politik, terkenal karena satu aksi lucu, lalu hilang ditelan zaman, sambil kita semua bertanya: “Eh, dulu yang gendong beras itu siapa ya?”
Panggung sudah ramai. Tawa sudah menggemuruh. Sekarang, kita tunggu substansinya. Atau, setidaknya, aksi lucu berikutnya. Karena dalam panggung politik kita, hiburan kadang lebih mudah dicari daripada jawaban. []