Home CSR Lingkungan Karya Artificial untuk Menyuarakan Pengurangan Sampah Plastik

Karya Artificial untuk Menyuarakan Pengurangan Sampah Plastik

25

Karya Artificial untuk Menyuarakan Pengurangan Sampah Plastik

CSR-INDONESIA.COM – Komunitas kreatif berbasis seni rupa dan desain, Palakali Creative melihat kondisi bumi sekarang ini kian mengkhawatirkan, terutama hutan yang semakin gundul, laut tercemar dan tanah kotor. Dari kekhawatiran tersebut, Palakali menampilkan karya seni bertajuk _artificial thing_ atau kepalsuan. “Saya mau menyuarakan, bahwa kondisi bumi sudah serba mengkhawatirkan untuk makhluk hidup. Karya _artificial_ ini, kami angkat isu upaya meminimalisir sampah plastic,” kata Ary Okta dari Palakali.

Karyanya dipamerkan di Galeri Nasional bersama komunitas para seniman perempuan lainnya yang bertajuk ‘Tempatan’ (30 April – 16 Mei 2024). Palakali mengampanyekan isu lingkungan dengan mendaur ulang sampah plastic menjadi produk seni. Sampai saat ini, sampah plastic menjadi masalah yang belum terselesaikan. sampah plastik yang sehari-harinya ada di depan kita, sebetulnya bisa diolah salah satunya menjadi produk seni. “Tajuk artificial, artinya kami memunculkan sesuatu yang palsu dan sudah semakin mau menghabiskan yang asli. Yang palsu disimbolkan dengan sosok ayam yang dibuat dari sampah plastic. Sementara yang asli disimbolkan dengan tanaman hidup,” kata alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Ayam sebagai binatang yang berkokok keras dan berani menerjang kemana saja. Sehingga simbolisasi ayam sangat mengena untuk para aktivis lingkungan bersuara keras mengkampanyekan persoalan lingkungan yang menimpa hampir semua negara. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga tidak lepas dari persoalan lingkungan dunia, termasuk isu sampah plastic sampai _global warming_ . “Ayam sebagai perwakilan untuk terus mendengungkan kesadaran menjaga, merawat bumi agar tetap lestari. Selain ada mitos, bahwa ayam punya kekuatan untuk menyuarakan kekhawatiran,” kata seniman kelahiran Jawa Timur.

Usia karya _Artificial Thing_ yang dipamerkan juga sudah berusia delapan tahun, termasuk usia ayamnya. Biasanya, ketika selesai pameran, karyanya tidak bertahan lama. Artinya, karyanya tersebut akhirnya kembali menjadi sampah. Tapi hal tersebut sangat tidak diinginkan, dan sebaliknya mempertahankan karyanya dalam kondisi yang baik. Palakali sudah ikut pameran instalasi di beberapa tempat termasuk di Jakarta dan Yogyakarta. “Proses pembuatan sangat cepat, satu hari, kami bisa bikin 2-3 ayam. kami edukasikan juga untuk anak-anak, mulai TK sampai SMP. Dari kegiatan edukasi dengan wadah seni rupa, kami bisa membangun _concern_ mengenai perlimbahan terutama sampah plastic sampai _global warming_ . Limbah juga tentunya tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan banyak hal, antara lain tingkat polusi yang tinggi dari negara-negara industry,” kata alumni program S2 IKJ jurusan seni urban dan industry budaya. **