Home Berita Investor Hotel di Asia Berikan Pembiayaan Utang dan Bantu Pemilik Topang Neraca

Investor Hotel di Asia Berikan Pembiayaan Utang dan Bantu Pemilik Topang Neraca

127

CSRINDONESIA – Pemilik hotel di seluruh Asia mencari akses pembiayaan utang yang lebih besar untuk meningkatkan arus kas di saat terjadinya tingkat hunian yang terus menurun ke level terendah dalam sejarah, penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan udara karena pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, kata JLL.

Dampak COVID-19 pada industri perhotelan di seluruh Asia semakin terasa dan banyak hotel serta investor mengalami krisis keuangan yang tak pernah terjadi sebelumnya dikarenakan pendapatan yang terus berkurang namun tetap harus menutupi biaya. Menurut Adam Bury, Executive Vice President dan Corey Hamabata, Senior Vice President Hotels & Hospitality Group JLL, pembatasan perjalanan memaksa pemilik hotel untuk mempertimbangkan sejumlah opsi pembiayaan jangka pendek.

Namun, dengan modal investasi yang masih cukup tersedia, pergeseran sementara ini diharapkan dapat membuka peluang baru. Di Asia, hanya sedikit wilayah dan properti yang memperoleh permintaan yang berarti karena menyediakan fasilitas karantina atau akomodasi untuk mendukung inisiatif pemerintah. Pada keadaan seperti ini, jangankan membayar utang, untuk mencapai titik impas saja hotel perlu berjuang keras, membuat pemilik harus menutupi kekurangan tersebut.

Karena industri perhotelan umumnya paling cepat bereaksi terhadap penurunan permintaan namun juga yang tercepat untuk pulih, beberapa pemilik hotel mencari solusi jangka pendek untuk menjembatani arus kas sampai aktivitas perjalanan, tingkat hunian, serta pendapatan kembali normal. Kendati menerapkan langkah-langkah jangka pendek termasuk cuti karyawan atau penerimaan tamu karantina, banyak industri yang beroperasi dengan arus kas yang tidak mencukupi untuk menanggung semua kewajiban.

Adam Bury, Executive Vice President JLL/ist

Menurut analisis JLL, tanda-tanda tekanan ini mungkin akan mempengaruhi modal kerja dengan saluran pinjaman tradisional yang kemungkinan juga dibatasi. “Melalui percakapan kami dengan pemilik dan pemberi pinjaman di seluruh wilayah, kami melihat upaya bersama untuk mengurangi potensi gagal bayar pinjaman atau kemungkinan yang lebih buruk. Banyak pemilik yang segera mencari jalur kredit tambahan untuk menstabilkan bisnis mereka dan meredam penurunan hingga permintaan normal kembali. Secara umum, pemilik yang paling terpengaruh adalah mereka yang memiliki resort, karena mereka bergantung pada proporsi tamu internasional yang tinggi – ini merupakan salah satu segmen yang banyak diasumsikan mengalami pemulihan paling lambat pasca-COVID,” kata Bury dalam rilisnya yang diterima Redaksi CSRINDONESIA, Senin, 18 Mei 2020 di Jakarta.

Berusaha untuk tidak memperburuk situasi, perbankan telah secara sukarela mempertimbangkan keringanan atau restrukturisasi pinjaman, termasuk pemberian masa tenggang jangka pendek. Namun demikian, dalam situasi saat ini, lebih kecil kemungkinan bagi bank konvensional untuk secara materi meningkatkan pendanaan mereka pada pinjaman bermasalah tersebut demi menutup defisit jangka panjang.

Meskipun mungkin terlalu dini untuk menentukan periode pemulihan yang akan datang untuk industri perhotelan, masa tenggang jangka pendek saja sepertinya tidak cukup untuk membantu banyak pengusaha menavigasi situasi saat ini dan modal tambahan bisa jadi akan diperlukan untuk menutup kesenjangan.

Permohonan pinjaman hotel meningkat bersamaan dengan permintaan serupa dari berbagai sektor yang menghadapi tantangan modal kerja, sementara bank konvensional berusaha mengurangi kontak dengan sektor-sektor yang lebih tidak stabil. Walaupun ada perkiraan menurunnya pinjaman dan adanya transaksi properti perhotelan sebesar USD12,7 miliar di Asia Pasifik selama tahun 2019, masih banyak pemodal yang ingin membeli/memiliki aset hotel yang berkualitas tinggi, yang nantinya akan mendongkrak harga properti dalam jangka waktu menengah.

Menurut JLL, faktor-faktor ini mengakibatkan adanya kekosongan modal yang biasanya akan diisi oleh utang dan pemberi pinjaman non-tradisional yang memiliki fleksibilitas untuk melihat lebih dari sekadar ketidaklancaran aliran arus kas dan memberi pinjaman berdasarkan nilai aset dan jaminan lain.

“Mengingat adanya kebutuhan pendanaan di sektor perhotelan, kami melihat adanya pergerakan kegiatan investor menuju sektor pendanaan, termasuk dari kelompok modal perorangan dan perusahaan keluarga. Hal ini menambah volume modal yang ada di pasar yang berasal dari pinjaman tradisional. Walaupun lebih mahal, para investor jenis ini mampu bergerak cepat dan fleksibel untuk mengisi kekosongan yang ada, dengan membawa solusi jangka pendek, sampai ada pinjaman yang lebih permanen atau sampai aset bisa ditawarkan dengan harga yang pantas,” kata Hamabata.

JLL memprediksi solusi pembiayaan utang kemungkinan besar diperlukan pada pasar resort di Asia Tenggara, termasuk Thailand, Indonesia dan Vietnam, serta destinasi wisata seperti Maladewa. Dalam beberapa kasus, negara-negara tersebut telah mengalami kekurangan likuiditas pada sektor perbankan, tingkat suku bunga yang relatif tinggi dan ketergantungan pada perjalanan internasional, yang mungkin akan paling lambat pulih setelah pandemi Covid-19.

“Kami harap pemilik dan sponsor kuat untuk dapat membiayai kembali posisi mereka, meskipun mereka juga mengantisipasi kebutuhan pendanaan jangka pendek di sejumlah pasar. Ketika perbaikan jangka pendek ini tidak dapat dicapai, ada potensi untuk aset tertekan mengalir ke pasar pada paruh kedua tahun 2020. Pasca-COVID, kita mungkin akan menemui keterbatasan pasokan baru di masa depan dan kenaikan neraca mereka yang mampu bertahan dalam situasi buruk ini, yang pada akhirnya menghasilkan fundamental yang lebih kuat untuk industri di masa mendatang,” tutup Bury. (aen/csri)