CSRINDONESIA – Ada hal yang tidak berubah dari IATMI sejak pertama berdiri pada 1960-an: ia adalah tempat berkumpulnya para insinyur perminyakan terbaik bangsa. Tapi satu hal yang terus berubah: siapa yang mencoba menguasainya.
Di tengah euforia transisi energi nasional, Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) justru berada dalam pusaran tarik-menarik kekuasaan. Kongres nasional yang akan digelar Mei ini bukan sekadar ajang regenerasi, tapi medan pertempuran pengaruh. Taruhannya bukan cuma siapa yang duduk di kursi Ketua Umum, melainkan integritas organisasi itu sendiri.
Peta Kekuasaan dan Perebutan Pengaruh
Sebuah dokumen internal bertajuk “Mapping Group Erick Thohir dan Boy Thohir di Pertamina Group” mengungkap secara gamblang bagaimana kepentingan politik dan bisnis saling bertaut di tubuh industri migas nasional. Dokumen ini mencantumkan sejumlah figur kunci dalam jaringan kekuasaan Pertamina, termasuk keterlibatan nama-nama seperti Avep Disasmita dan Andre Wijarnarko—dua dari tiga calon Ketua Umum IATMI yang saat ini menjadi sorotan.
Dalam bagan tersebut, Avep Disasmita tercatat sebagai Direktur Operasi Pertamina Drilling Services, sementara Andre Wijarnarko berada dalam posisi strategis sebagai bagian dari manajemen keuangan PT Pertamina EP. Keduanya ditandai dengan titik hijau—indikasi penting dalam konteks jejaring kekuasaan yang sedang bekerja.
Sumber internal menyebut bahwa keduanya memiliki hubungan dekat dengan kelompok kekuasaan tertentu yang disebut-sebut sebagai “kelompok ET/BT”—merujuk pada Erick Thohir dan Boy Thohir. Keterlibatan mereka di kongres IATMI memunculkan dugaan kuat akan adanya upaya penanaman pengaruh sistematis dalam tubuh organisasi profesional ini.

IATMI: Profesi atau Politik?
IATMI seharusnya menjadi rumah intelektual bagi insinyur, bukan panggung kekuasaan bagi elite. Tapi fakta bahwa kongres kali ini diwarnai dengan kehadiran tokoh-tokoh yang terseret dalam peta kuasa Pertamina menimbulkan pertanyaan besar: apakah IATMI sedang direbut sebagai alat legitimasi?
“IATMI bukan tempat cuci tangan dan pencitraan,” tegas seorang mantan pengurus pusat IATMI. “Begitu organisasi ini dipakai jadi kendaraan, habis sudah kepercayaan publik kita.”
Mengapa Ini Penting?
- IATMI bukan milik oligarki energi.
Fakta menunjukkan bahwa sejumlah pengurus dan calon Ketua Umum IATMI berjejaring dengan lingkaran elite kekuasaan yang selama ini mengontrol BUMN energi. Jika proses pemilihan disusupi oleh kekuatan ini, maka IATMI bukan lagi tempat meritokrasi, melainkan kartelisasi. - Bahaya mafia migas yang terstruktur.
Dokumen pemetaan kekuasaan itu menguatkan kekhawatiran akan adanya sindikasi kekuasaan di sektor migas. Bila IATMI jatuh ke tangan orang-orang yang menjadi bagian dari struktur tersebut, maka ruang independen untuk pengawasan dan pembaharuan regulasi akan lenyap. - Masa depan energi Indonesia ikut dipertaruhkan.
Kita tidak hanya bicara soal organisasi profesi, tapi soal siapa yang akan punya legitimasi moral dan teknokratik untuk menyusun masa depan energi kita. IATMI selama ini punya peran besar dalam standardisasi teknis dan kebijakan energi nasional.
Langkah Penyelamatan yang Mendesak
Untuk menghindari kooptasi, berikut adalah langkah-langkah konkret yang disuarakan oleh komunitas migas nasional:
- Transparansi Proses Kongres: Semua kandidat harus mengumumkan rekam jejak profesional dan hubungannya dengan pihak luar. Voting harus diawasi independen.
- Reformasi Tata Kelola Internal: Harus ada kode etik ketat dan audit integritas bagi siapa pun yang ingin maju menjadi pengurus IATMI.
- Partisipasi Media dan Akademisi: Kongres ini tidak bisa berjalan di ruang gelap. Media dan masyarakat akademik harus dilibatkan untuk menjaga akuntabilitas.
Energi adalah Milik Rakyat, Bukan Alat Segelintir Elite
Ketika organisasi sebesar IATMI mulai dirasuki oleh kepentingan luar yang mengakar dalam jejaring oligarki energi, maka seluruh bangsa harus waspada. Ini bukan sekadar perebutan kursi ketua—ini adalah pertarungan nilai. Antara etika dan oportunisme. Antara masa depan energi rakyat dan rente kuasa segelintir orang.
Kini saatnya para anggota IATMI menentukan: akankah mereka tunduk pada peta kekuasaan yang sudah digambar diam-diam, ataukah menggambar ulang masa depan energi Indonesia yang lebih adil dan berintegritas?
Pilihan itu ada pada kita semua. Dan sejarah akan mencatat siapa yang berani bersuara saat organisasi ini hampir direbut.|RLS-CSRI











