Home Berita Distraksi, Menunda, dan Hilangnya Fokus Anak Muda (seri 2 dari 9 seri)

Distraksi, Menunda, dan Hilangnya Fokus Anak Muda (seri 2 dari 9 seri)

2
Aendra Medita/ist

Distraksi, Menunda, dan Hilangnya Fokus Anak Muda (seri 2 dari 9 seri)


Oleh Aendra Medita
“Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action.”
(Sibuk sering kali adalah bentuk kemalasan berpikir.) 
Tim Ferriss (penulis buku terlaris New York Times, pengusaha, investor tahap awal (Angel Investor), dan podcaster asal Amerika Serikat)
Distraksi atau kecohan merupakan memisahkan atau menjauhkan diri kita dari kenyataan atau masalah yang harus kita fokuskan pada saat ini, mengalihkan perhatian. Distraksi Tidak Datang Tiba-Tiba.
Tidak ada anak muda yang bangun pagi lalu berniat,
“Hari ini saya ingin membuang waktu.”
Yang terjadi biasanya sederhana.
Membuka ponsel “sebentar”.
Mengecek satu notifikasi.
Lalu berpindah ke yang lain.
Distraksi tidak datang dengan niat jahat.
Ia datang dengan wajah ramah.
Dan justru karena itu, ia berbahaya.
Menunda Bukan Karena Malas
Menunda sering disalahartikan sebagai malas.
Padahal, banyak penunda adalah orang yang peduli, tapi terlalu banyak berpikir.
Mahasiswa menunda skripsi bukan karena tidak mau lulus,
melainkan karena takut hasilnya tidak bagus.
Anak muda menunda mulai usaha bukan karena tidak ingin maju,
melainkan karena takut gagal.
Menunda sering kali adalah reaksi terhadap tekanan, bukan kekurangan niat.
Otak Kita Tidak Dirancang untuk Terus Terganggu
Setiap notifikasi memecah perhatian.
Setiap gangguan kecil memaksa otak untuk berpindah konteks.
Akibatnya, fokus menjadi rapuh.
Pekerjaan terasa berat, meski sebenarnya sederhana.
Inilah sebabnya banyak anak muda merasa capek,
padahal yang dikerjakan tidak seberapa.
Bukan karena tugasnya berat,
tapi karena fokusnya terus-menerus tercabik.
“It is not daily increase but daily decrease. Hack away at the unessential.”
Bruce Lee
Ilusi “Nanti Saja”
“Nanti saja” terdengar ringan.
Tidak terasa seperti keputusan besar.
Padahal, hidup sering ditentukan oleh akumulasi dari “nanti saja” yang kecil.
Tugas yang ditunda.
Keputusan yang dihindari.
Langkah yang tidak jadi diambil.
Menunda jarang terasa berbahaya hari ini,
tapi hampir selalu terasa menyakitkan di masa depan.
Media Sosial dan Rasa Tertinggal
Media sosial membuat kita sibuk membandingkan.
Melihat orang lain tampak lebih maju, lebih bahagia, lebih sukses.
Alih-alih termotivasi, banyak anak muda justru kehilangan fokus.
Energi habis untuk melihat hidup orang lain,
bukan membangun hidup sendiri.
Tanpa sadar, waktu kita dipakai untuk merawat rasa tertinggal,
bukan memperbaiki posisi.
Fokus Adalah Keputusan, Bukan Mood
Banyak orang menunggu fokus datang.
Padahal fokus adalah hasil dari keputusan, bukan perasaan.
Keputusan untuk menutup tab.
Keputusan untuk mematikan notifikasi.
Keputusan untuk duduk dan mulai, meski belum siap.
Fokus jarang datang sebelum mulai.
Ia muncul setelah kita bertahan beberapa menit dalam ketidaknyamanan.
Multitasking dan Kebanggaan Palsu
Multitasking sering dibanggakan,
padahal yang terjadi hanyalah pekerjaan setengah-setengah.
Otak bukan bekerja paralel,
ia berpindah-pindah dengan cepat—dan itu melelahkan.
Hasilnya bukan lebih cepat,
melainkan lebih dangkal.
Anak muda yang ingin maju perlu belajar satu hal penting:
fokus lebih bernilai daripada sibuk.
Menunda Membuat Masalah Terasa Lebih Besar
Semakin lama sesuatu ditunda,
semakin besar ia terasa di kepala.
Tugas sederhana berubah jadi beban mental.
Langkah kecil terasa seperti keputusan besar.
Padahal sering kali, masalah mengecil begitu kita mulai mengerjakannya.
Bukan karena masalahnya berubah,
tapi karena pikiran kita berhenti membesar-besarkannya.
Batas adalah Bentuk Kepedulian Diri
Mengelola distraksi bukan berarti membenci teknologi.
Ia berarti menetapkan batas.
Batas antara kerja dan hiburan.
Batas antara fokus dan respons.
Batas antara kebutuhan orang lain dan kapasitas diri sendiri.
Tanpa batas, waktu kita akan selalu diambil oleh yang paling berisik,
bukan yang paling penting.
Fokus Tidak Harus Lama, Tapi Utuh
Banyak anak muda merasa gagal fokus karena tidak bisa berjam-jam duduk diam.
Padahal fokus tidak harus lama,
ia harus utuh.
Dua puluh menit fokus penuh sering lebih berharga
daripada dua jam setengah terganggu.
Manajemen waktu di era ini adalah seni menghadirkan diri sepenuhnya,
meski sebentar.
Melatih Fokus adalah Proses
Fokus bukan bakat.
Ia kebiasaan.
Ia dilatih dengan memulai kecil.
Dengan menyelesaikan satu hal.
Dengan mengurangi gangguan satu demi satu.
Tidak instan.
Tidak dramatis.
Tapi efektif.
Dan  Distraksi akan selalu ada.
Menunda akan selalu menggoda.
Yang menentukan arah hidup bukan ketiadaan gangguan,
melainkan kemampuan kembali ke fokus.
Anak muda tidak perlu hidup dalam disiplin kaku.
Mereka hanya perlu cukup sadar untuk bertanya:
“Apa yang sedang saya lakukan sekarang,
dan apakah ini mendekatkan saya pada hidup yang saya inginkan?”
Fokus bukan tentang menutup diri dari dunia,
melainkan tentang memilih
apa yang layak mendapatkan waktu kita.
(bersambung seri 3)