Home Berita Dari Perut Bumi ke Pangan Negeri: Booster Katrili dan Janji Hijau dari...

Dari Perut Bumi ke Pangan Negeri: Booster Katrili dan Janji Hijau dari Lahendong

28
IST
IST

CSRINDONESIA – Di balik lengkung pegunungan dan gemuruh sunyi kawah Lahendong, tanah Minahasa menyimpan panas yang tak sekadar menggerakkan turbin pembangkit listrik. Panas itu, yang selama ini dikurung dalam pipa-pipa logam, kini memeluk harapan baru: menjelma pupuk, menyuburkan tanah, dan memberi makan negeri. Namanya Katrili — booster tanaman dari rahim panas bumi.

Indonesia, negara yang duduk manis di atas 40% cadangan panas bumi dunia, telah lama memanen energi bersih dari perut buminya. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa selain listrik, panas bumi juga melahirkan limbah silika—bahan mineral yang selama ini tak banyak dimanfaatkan. Di tangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), silika itu menemukan takdir barunya: memperkuat dinding sel tanaman, mempertebal daya tahan pangan, dan memperpanjang usia harapan petani.

“Di Lahendong, banyak warga hidup dari pertanian. Kami berpikir, mengapa panas bumi hanya berhenti di listrik? Kenapa tidak kita beri makna baru?” kata Novi Purwono, General Manager PGE Area Lahendong.

IST
IST

Sebuah Inovasi dari Krisis

Kisah Katrili bermula dari kegelisahan seorang ilmuwan. Pada masa pandemi 2020, Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM, seorang ahli panas bumi dari Departemen Teknik Geologi UGM, melakukan kunjungan ke Wilayah Kerja Panas Bumi PGE. Ia membawa pulang sampel air limbah panas bumi untuk diuji di laboratorium.

“Hasilnya mengejutkan. Kandungannya sangat kaya—terutama silika. Sifatnya mirip abu vulkanik, dan saya langsung berpikir, mengapa tidak kita manfaatkan sebagai pupuk?” tutur Pri.

Ia menggandeng rekannya, Dr.rer.nat. Ronny Martien dari Fakultas Farmasi UGM, ahli nanoteknologi, untuk memformulasikan silika menjadi booster tanaman. Setelah riset panjang, mereka melahirkan booster Katrili—bukan sekadar pupuk, tetapi formula pertanian berbasis sains.

Dari laboratorium ke ladang, Katrili bukan produk yang dijual massal. Ia diperkenalkan secara partisipatif, lewat komunikasi intensif dengan petani, pendampingan lapangan, dan transfer keterampilan.

“Booster ini bekerja dengan cara berbeda dari pupuk atau pestisida. Jika salah takaran, justru tak efektif. Maka pendekatan edukatif menjadi kunci,” jelas Dr. Ngadisih, pakar teknik konservasi tanah dan air dari FTP UGM.

Dibawa oleh mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke Wonosobo dan Magelang, Katrili menjelma gerakan dari akar rumput. Di Minahasa, dua petani bernama Rommie dan Danni menjadi saksi hidup manfaatnya.

“Kami pakai di tanaman tomat varietas Gustavi. Hasilnya luar biasa. Buah lebih besar, tahan gangguan, pematangan stabil, dan tidak mudah busuk,” ujar Danni.

Bukan hanya silika, booster Katrili juga mengandung kitosan—ekstrak dari limbah kulit udang dan kepiting. Kombinasi ini mempertebal perlindungan tanaman dan meningkatkan retensi air tanah. Di saat perubahan iklim mengoyak musim, booster ini jadi pelindung biologis yang berpijak pada ilmu dan limbah yang diolah dengan bijak.

IST
IST

Harmoni dari Bumi dan Budaya

Nama “Katrili” tak dipilih sembarangan. Ia diambil dari tarian rakyat Minahasa yang melambangkan rasa syukur dan harmoni. Rommie menyebut, “Kami bangga menggunakan booster dari tanah kami sendiri. Ini bukan sekadar pupuk, tapi simbol kemandirian dan keberlanjutan.”

Puncak dari kisah ini akan dirayakan pada Senin, 26 Mei 2025, dalam sebuah Panen Raya Katrili di Lahendong. Petani, masyarakat lokal, dan dua gereja besar di Minahasa—KGPM dan GMIM—akan berkumpul. Tak sekadar panen, acara ini akan menyajikan kuliner khas dan pertunjukan Tari Katrili, merayakan bagaimana ilmu pengetahuan bisa menyatu dengan budaya dan spiritualitas.

PGE saat ini mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang 1.877,5 MW—sekitar 80% dari total kapasitas panas bumi Indonesia. Selain menyuplai energi bersih, PGE juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 9,7 juta ton CO₂ per tahun.

Dengan kredensial 16 PROPER Emas sejak 2011 dari KLHK, PGE bukan sekadar pelopor energi, melainkan pionir ekosistem berkelanjutan. Lewat Katrili, PGE membuktikan bahwa keberlanjutan bukan jargon, tapi kerja nyata yang dimulai dari akar—dari tanah, petani, hingga dapur rumah tangga.

Di masa ketika dunia resah mencari keseimbangan antara pangan dan lingkungan, Katrili menjadi cerita alternatif dari Indonesia: bahwa dari panas bumi, bisa lahir pangan negeri. Dan dari abu limbah, tumbuhlah asa baru. |WAW-CSRI