Home CSR Cita Rasa Nusantara Lahir dari Asap Bumi: Kisah Kopi Panas Bumi Pertama...

Cita Rasa Nusantara Lahir dari Asap Bumi: Kisah Kopi Panas Bumi Pertama di Dunia dari Kamojang

65
IST
IST
CSRINDONESIA – Di sebuah lereng sunyi di Kamojang, saat pagi masih dibungkus embun dan tanah menghembuskan napas panas dari perut bumi, secangkir kopi mengepul tidak sekadar menebarkan aroma, tetapi juga menandai sebuah lompatan sejarah: kopi pertama di dunia yang diproses dengan uap panas bumi.
Mang Deden—nama panggilan akrab Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah—tidak lahir dari laboratorium riset atau kampus ternama. Ia adalah anak kampung dari Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, lulusan SMK Farmasi, yang merintis mimpi dari kedai kopi kecil di pojok desa. Kini, ia menjadi pelopor kopi panas bumi pertama di dunia—sebuah inovasi yang lahir dari percakapan sederhana di warung, lalu tumbuh bersama semangat gotong-royong, dan mekar menjadi ekspor kebanggaan negeri ke Jepang serta Eropa.
IST
IST
Ketika Ngopi Jadi Jalan Perubahan
Tahun 2015, Deden membuka kedai kopi. Bukan sekadar tempat jualan, kedai itu menjelma ruang perjumpaan warga dan para pekerja PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) yang mengelola pembangkit panas bumi di Kamojang sejak 1983. Dari obrolan hangat seputar rasa dan biji kopi, lahir pertanyaan kritis: bisakah energi panas bumi, yang selama ini hanya jadi sumber listrik, juga menjadi bagian dari proses produksi kopi?
Jawaban dari pertanyaan itu bukan datang dari laboratorium, tapi dari keberanian mencoba. Didukung oleh PGE, Deden mulai merintis eksperimen fermentasi. Ia mencoba lebih dari 20 metode selama hampir setahun—gagal, bangkit, gagal lagi, hingga akhirnya menemukan tiga teknik fermentasi yang cocok dengan karakter panas bumi Kamojang.
Hasilnya? Biji Arabika dari ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut Kamojang berubah jadi kopi dengan cita rasa fruity, aroma yang kuat, dan tekstur yang lembut—lebih unggul dari kopi konvensional.
IST
IST
Rumah Pengering dari Uap Bumi
Salah satu terobosan paling signifikan adalah pembangunan Geothermal Dry House, sebuah rumah pengeringan kopi yang tidak bergantung pada matahari. Di era krisis iklim di mana cuaca kian tak menentu, Deden justru memanfaatkan steam trap—uap sisa dari pembangkit panas bumi PGE—yang dialirkan melalui pipa-pipa untuk mengeringkan kopi.
Efisiensinya luar biasa. Waktu pengeringan dipangkas hingga tiga kali lebih cepat, biaya operasional turun drastis, dan risiko kontaminasi bakteri dari lingkungan luar pun bisa ditekan. Dari sisi bisnis, ini bukan cuma inovasi ramah lingkungan, tapi juga solusi strategis bagi industri kopi lokal.
Kini, lewat Geothermal Coffee Process (GCP) yang dikelolanya sebagai Managing Director, Deden bermitra dengan lebih dari 80 petani di Kamojang dan telah menyerap hingga 20 ton biji kopi per musim. Tapi lebih dari itu, ia tengah membangun mimpi besar: menjadikan GCP sebagai sistem terintegrasi dari hulu ke hilir, dari petani hingga pasar internasional.
Mematenkan Mimpi, Menjaga Warisan
Ketika sejumlah pihak luar negeri mulai tertarik meniru konsep ini, Deden segera mengambil langkah strategis: mematenkan sistem kopi panas bumi sebagai inovasi asli Indonesia. “Kami ingin agar masyarakat Indonesia, khususnya di daerah penghasil kopi dekat sumber panas bumi, bisa lebih dulu menerapkan konsep ini,” ujarnya.
Kini GCP telah menembus pasar Jepang dan tengah mengincar ekspansi ke Eropa. Tapi bagi Deden, keberhasilan tak semata dilihat dari jumlah tonase ekspor. Lebih penting dari itu adalah bagaimana inovasi ini menciptakan peluang hidup yang lebih baik bagi komunitasnya—petani, pemuda, dan generasi berikutnya.
IST
IST
Dari Kedai ke Kampus
Deden yang dulu hanya pemilik warung kini sedang mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di bidang manajemen bisnis lewat beasiswa dari PGE. “Menciptakan produk baru hanyalah permulaan, tapi membangun perusahaan yang berkelanjutan adalah tantangan sesungguhnya,” katanya.
Baginya, kolaborasi adalah nyawa dari setiap inovasi. Ia tak pernah lelah mengucap terima kasih pada PGE Area Kamojang yang sejak awal membuka pintu, mempercayainya, dan menyalakan semangat untuk bermimpi besar.
Panas bumi selama ini hanya dikenal sebagai sumber listrik. Namun lewat tangan Deden, energi itu berubah jadi cerita, jadi rasa, jadi jalan hidup. Dari Kamojang, sebuah inovasi kopi melangkah ke dunia, membawa serta semangat anak kampung yang membuktikan bahwa dari uap dan niat baik, lahir sesuatu yang menghangatkan dunia.
Kopi panas bumi bukan sekadar tren. Ia adalah bukti bahwa keberlanjutan, ketika dirangkai dengan kolaborasi dan cinta pada tanah sendiri, bisa menjadi cita rasa Indonesia yang paling otentik—dan paling menjanjikan. |WAW-CSRI