Home Berita CSR & JAVA DANCE OF THE TEA

CSR & JAVA DANCE OF THE TEA

104

CSRINDONESIA – Buku ini mengurai perjalanan teh Indonesia dari awal abad 16 sampai saat ini. Begitu vital peran pulau Jawa sehingga perjalanan industri teh dunia tidak lengkap ditulis bila tanpa melibatkan Jawa.

Sampai dengan tahun 1930, hanya ada empat wilayah penghasil teh dunia, selain China. Wilayah itu adalah India, Ceylon, Jawa dan Sumatera dengan kendali perdagangan di tangan Inggris dan Belanda.

Dengan alasan untuk mengamankan harga teh dunia, Inggris membentuk komisi ‘International Tea Committe (ITC)’ tahun 1933 dengan tujuan mengontrol produksi dan tanaman teh di Jawa dan Sumatera.

Di luar itu, Inggris juga melakukan kampanye “Buy British”, agar masyarakat di negara-negara persemakmuran tidak membeli produk teh dari Jawa dan Sumatera! Buku JAVA DANCE OF THE TEA menawarkan temuan yang dapat digunakan sebagai melakukan reposisi di pasar eksor dan domestik.

Di era modern, ketika konsep ‘Corporate Social Responsibility’ (CSR) sedang banyak dibahas sebagai strategi mengelola resiko perusahaan.

Praktek CSR telah dijalankan secara sempurna oleh K.A.R. Bosscha sewaktu mengelola perkebunan teh di Jawa pada awal abad 19. Benarkah praktek sosial dan perlindungan lingkungan yang dijalankan oleh Juragan teh di Priangan itu dapat ditempatkan sebagai embrio ‘sustainable development’ yang diterjemahkan ke dalam 3 P yaitu, Profit, People, Planet.

Begitu pula terobosan promosi pemasaran produk perkebunan dari Jawa yaitu teh, kopi dan cokelat yang digagas Juius Kerkhoven pada pameran dagang di ‘Exposition Universelle’ di Perancis tahun 1889 serta berlanjut di “The World’s Columbian Exposition 1893” di Amerika dengan tema ‘Kampoeng Jawa’.

Para pengunjung tidak hanya sekadar mencicipi produk teh dan kopi hasil perkebunan pulau Jawa, mereka juga dapat melihat dan berinteraksi langsung di dalam kegiatan keseharian masyarakat Jawa seperti memasak, membatik, menganyam, bermain gamelan, wayang golek, musik angklung dan lain-lain.

Mereka memperoleh pengalaman dan pemahaman baru mengenai produk dari aspek emosi dan perasaan sebagai kekuatan untuk membangun relasi positif terhadap produk. Konsep ini menyerupai apa yang dipopulerkan oleh Prof. Bernd H. Schmitt, dosen Columbia Business School sebagai Experiental Marketing melalui elemen sense, feel, think, act dan relate.

Memasuki tahun 2000, industri teh Indonesia mulai kehilangan ‘competitive advantage’ akibat harga teh curah yang rendah dipasar dunia. Banyak perusahaan perkebunan teh merugi, beberapa pabrik pengolahan teh rakyat berhenti, lahan perkebuan teh di Indonesia setiap hari menyusut secara signifikan.

Dampak secara sistemik adalah Indonesia mulai bergeser menjadi negeri importir teh! Masih adakah peluang teh Indonesia Bangkit Kembali? JAVA DANCE OF THE TEA, mengurai perjalanan dan problematika teh Indonesia paling lengkap yang pernah ditulis di Indonesia, bahkan mungkin dunia! | PRA/CSRI