Home Uncategorized MENJANGKAU HATI MILENIAL MARGINAL UNTUK MASA DEPAN BANGSA

MENJANGKAU HATI MILENIAL MARGINAL UNTUK MASA DEPAN BANGSA

116

OLEH Ulani YUNUS | Bina Nusantara University, Jakarta-Indonesia *

Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian Kelompok Riset Komunikasi Lintas Budaya, Universitas Bina Nusantara pada tahun 2018. Didapatkan data sekunder bahwa jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta tidak berkurang dari waktu ke waktu. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2015-2017), jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta dilaporkan justru bertambah.

Berbeda dengan jumlah penduduk miskin di tingkat nasional yang cenderung turun, di DKI Jakarta sekitar 393,13 ribu warga dilaporkan masih dalam kategori miskin. Per September 2017, jumlah orang miskin di DKI Jakarta malah mengalami kenaikan sebesar 3,77% (3,44 ribu orang), dari 389,69 ribu menjadi 393,13 ribu orang antara Maret ke September 2017. Padahal, di tahun sebelumnya, September 2016, persentase kemiskinan tercatat hanya 3,75% dengan 385,84 ribu orang miskin. (Suyatno, 2018)

Salah satu faktor yang menyebabkan angka kemiskinan di wilayah ibu kota Indonesia ini adalah akibat strategi dan pelaksanaan program pengentasan masyarakat dari kemiskinan yang belum berjalan optimal. Perkembangan DKI Jakarta sebagai megapolitan semakin tidak ramah kepada rakyat miskin. Dalam berbagai kasus, keberadaan masyarakat miskin kota umumnya makin tersisih ke pinggiran, dan usaha-usaha yang ditekuninya pun makin kehilangan daya saing akibat penetrasi usaha-usaha berskala besar yang lebih mapan. Produk-produk usaha kecil, seperti makanan dan minuman yang dihasilkan masyarakat miskin, makin tersisih dan kalah bersaing dengan produk-produk makanan perusahaan besar yang menyebar luas di pasaran. Boleh dikatakan, tidak banyak kesempatan tersedia untuk peredaran produk masyarakat miskin karena situasi perekonomian yang masih mengglobal.

Sementara itu di kota besar seperti DKI Jakarta, tekanan kemiskinan lebih besar. Selain karena harga kebutuhan hidup yang lebih mahal, juga karena tidak ada ada mekanisme shared poverty dan kurangnya jaring pengaman sosial mesti ditanggung keluarga miskin di kota besar. Bagi masyarakat miskin DKI Jakarta, mereka tidak hanya harus menghadapi iklim persaingan dengan kelas sosial di atasnya, tetapi mereka juga harus berhadapan dengan kaum migran miskin dari luar kota yang menyerbu DKI Jakarta.

            Di Jakarta Barat, jumlah penduduk miskin terus meningkat. BPS menyebutkan data berikut dalam sepuluh tahun

2008 Jakarta Barat    72,9 ribu
2009 Jakarta Barat    74 ribu
2010 Jakarta Barat    87,2 ribu

  2018             DKI Jakarta                   393,13 ribu

Sumber: (Andreas, 2018)


Kondisi sosial di Indonesia menambah beban psikologis selain mengenai ekonomi; kearifan lokal mulai hilang dan tercerabut dari lokalitasnya sendiri. Nilai-nilai toleransi, setia kawan, solidaritas, gotong royong, tenggang rasa, dan saling menghormati semakin terkikis. Masyarakat semakin intoleran individualistis, acuh, dan saling curiga. (tempo.co, 2014).Kesibukan sehari-hari dalam rangka bertahan hidup, membuat keluarga miskin di Jakarta, menjalani hidup dari pembuangan sampah. Mereka membutuh uang dan waktu untuk keluar dari kemiskinan. Mereka memerlukan dukungan sponsor untuk meningkatkan taraf hidupnya. Sebagai akademisi, saya menghimbau, kita harus mulai dengan membantu anak-anak keluarga miskin, terutama milenialnya agar keluar dari lingkaran hidup di bawah standar. Kita harus memberi mereka kesempatan pendidikan dan harapan untuk masa depan.

Hasil riset kami dengan fokus pada remaja sebagai generasi z atau anak-anak dan remaja dengan rentang usia 10-19 tahun memiliki pengaruh dalam keputusan keluarga. Selanjutnya, kami melakukan peneitian di daerah Jakarta Barat dengan pertimbangan lokasi yang dekat dengan kampus dan kegiatan remajanya yang unik untuk kelas ekonomi seperti mereka. Di Jakarta Barat, tepatnya di sekitar perumahan Taman Alfa Indah tinggal sekelompok keluarga miskin  (pemulung, buruh dan pekerja kasar) yang memiliki anak remaja. Anak-anak remaja ini diberi bimbingan belajar matematikan dan bahasa Inggris oleh para pengajar secara sukarela. Kelompok Belajar ini dinamakan kejar siwali yang merupakan singakatan dari Kelompok Belajar Silaturahim Warga Taman Alfa Indah.

Jumlah anaknya yang aktif di Kejar Siwali ada 84 orang. Penduduk miskin ini hidup di Jakarta memiliki keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anaknya. Anak-anak ini tumbuh menjadi remaja yang miskin pula.

Dari hasil wawancara mereka berkeinginan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Mereka  memiliki mimpi dan berusaha mengembangkan diri. Mereka meyakini adanya kemampuan pada dirinya sendiri untuk lanjut  menempuh pendidikan tinggi. Mereka optimis untuk meraih cita-citanya sampai menjadi sarjana bahkan bergelar Doktor atau S3. Mereka ingin giat bekerja dan produktif sebagai remaja serta tahu cara mengatur keuangan sehingga mereka memiliki masa depan yang cerah dan cemerlang.

 Dengan hasil riset di atas, maka diantara program Corporate Social Responsibility yang paling disarankan dari 3P yang ada (People, Planet dan Profit) adalah People, yaitu Pemberdayaan Remaja  kalangan Ekonomi bawah untuk masa depan bangsa mengingat bahwa mereka adalah penentu daya saing bangsa. Investasi pada SDM (Sumber Daya Manusia) akan dapat mengendalikan program yang lain yaitu planet, masyarakat yang cerdas akan mampu menjaga lingkungannya dan Profit, mereka akan mampu menjadi asset yang tangible maupun intangible. Melalui tulisan ini, kami menghimbau perusahaan atau lembaga yang ingin melakukan kegiatan CSR, kami dapat melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait sehingga program CSR bersifat sustainable dan mampu menjangkau hati para milenial. (UY)\CSRI