Home Citra PERJALANAN SECANGKIR KOPI (Bagian II dari 3 Bagian)

PERJALANAN SECANGKIR KOPI (Bagian II dari 3 Bagian)

85
Cover buku The Road to Java Coffee karya Prawoto Indarto. Foto dok CSR

Oleh Prawoto Indarto_ Tea & Coffee Advisory

Kopi Arabika Di tanam di Jawa

Sampai tahun 1690 volume permintaan kopi dari pasar Eropa terus meningkat. Hal ini mendorong Walikota Amsterdam, Nicholas Witsen, pada tahun 1696 memberi perintah kepada komandan VOC di Pantai Malabar, India untuk membawa benih coffea Arabica atau kopi Arabika agar ditanam di salah satu koloninya di Asia, pulau Jawa (Uker’s 1922 : 6; Gabriella & Hanuz 2003 : 21;).

Benih tersebut ditanam di tanah milik Gubernur Jenderal VOC, Williem van Outshoorn  di Kedawoeng, pinggiran Batavia. Percobaan ini gagal akibat banjir dan gempa bumi sehingga bibit tanaman kopi banyak yang mati (Uker’s 1922 : 213). Tahun 1699, Henricus Zwaardecroon membawa kembali benih coffea Arabica yang ditanam di sekitar bantaran sungai Ciliwung seperti Meester Cornelis, Kampung Melayu, Bidaracina, Palmerah dan Sudimara (Mawardi 1999 : 219; Yahmadi 1999 : 180 – 182).

Tahun 1706, contoh benih serta biji coffea Arabika dikirim ke kebun botani Amsterdam untuk dilakukan analisa. Kopi dari kebun di pulau Jawa dinilai memiliki kualitas tinggi. Tahun 1707, Walikota Amsterdam memberi perintah kepada Gubernur Jenderal VOC, Williems van Outshoorn, untuk melakukan budi daya tanaman kopi di pulau Jawa. Karena terbatasnya sumber daya manusia di organisasi VOC, maka van Outshoorn memanggil bupati Priangan untuk diajak terlibat di dalam budidaya tanaman kopi di pulau Jawa (Hardjasaputra 2004 : 37; Gabriella& Hanuz 2003 : 25).

Tahun 1707, berlangsung pertemuan antara Gubernur Jenderal VOC, Willems van Outshoorn, dengan para bupati Priangan membahas penanaman kopi Arabika di Jawa. Gubernur Jenderal mengajak para bupati Priangan dapat membantu VOC dalam usaha budidaya tanaman kopi Arabika.  Para bupati di wilayah Priangan barat akan memperoleh benih coffea Arabica dari Batavia sedang bupati Priangan timur mendapat benih dari Cirebon (Yahmadi, 2000). Ini adalah awal tanaman coffea Arabica dibudidayakan secara besar-besaran melalui peran dari para bupati Priangan. Dalam pertemuan itu juga disepakati setelah tanaman kopi tersebut panen, maka hasil kopi dari bupati Priangan akan dibeli oleh VOC dengan harga 5 – 6 ringgit gulden per pikul (Hardjasaputra, 2004).

Karena perjanjian tersebut sebatas antara VOC dengan para bupati Priangan terkait budidaya tanaman kopi, maka perjanjian ini disebut Koffie – stelsel (Gariella & Hanuz 2003 : 25). Selain kopi, maskapai dagang Belanda VOC juga mengharapkan hasil bumi lain seperti beras, nila, gula dan lain-lain dari para bupati Priangan. Perkembangan permintaan VOC kepada bupati Priangan ini dikenal dengan nama Preanger – stelsel, dimana kopi tetap merupakan tanaman wajib. Sehingga perjanjian antara bupati Priangan dan VOC dalam Koffie stelsel adalah murni perjanjian dagang (Hardjasaputra 2004 : 35 – 39).

Pada tahun yang sama di Amsterdam, contoh biji serta benih tanaman coffea Arabica dari bantaran sungai Ciliwung di Batavia mulai diternakkan melalui biji kemudian dibagikan ke kebun botani ternama di Eropa, termasuk disampaikan kepada Raja Perancis, Louis XIV.

Pada tahun 1711, bupati Cianjur Aria Wiratanudatar menyerahkan sekitar 400 kg kopi yang diteruskan oleh VOC ke balai lelang di Amsterdam (Hardjasaputra, 2004; Breman, 2014). Kopi tersebut berhasil memecahkan harga lelang tertinggi (Gabriella & Hanuz 2003 : 25) serta diapresiasi sebagai “a high grade coffee” jauh sebelum masyarakat dunia mengenal kopi Brazil, Kolumbia dan Venezuela (Uker’s 1992 : 213). Kehadiran kopi Jawa di pasar Amsterdam sekaligus menempatkan posisi Priangan di pulau Jawa sebagai kebun kopi komersial ke dua di dunia setelah Mocha di Yaman.

Dari Eropa Menyebar ke Benua Amerika.

Kesuksesan kopi Jawa dari kebun di Priangan di lelang Amsterdam mendorong keingingan Raja Perancis Louis XIV mengirim khusus utusan diplomatik agar dikirim kembali benih coffea Arabica dari kebun botani Amsterdam, karena benih pertama yang dikirim tahun 1707 mati. Tahun 1714, Walikota Amsterdam, Nichlas Witsen, kembali mengirim benih coffea Arabica setinggi lima kaki (Uker’s 1922 : 6) serta menyarankan benih tersebut ditanam di dalam rumah kaca. Louis XIV kemudian membangun rumah kaca di kebun raya Royal Jardine des Plantes, Paris untuk tanaman coffea Arabica. Secara khusus Louis XIV menempatkan ahli botani ternama, Antonie de Jussie, guna mengawasi dan merawat pertumbuhan tanaman coffea Arabica yang berasal dari benih di Batavia pulau Jawa yang kemudian diternakkan di kebun botani Amsterdam.

Respon positif dari pasar Eropa atas kehadiran kopi Jawa mendorong Belanda untuk memperluas tanaman kopi Arabika. Pada tahun 1718, Belanda melakukan penanaman coffea Arabica di wilayah koloninya di benua Amerika yaitu Suriname Guyana dengan benih dari kebun botani Amsterdam, Belanda (Uker’s, 1922; Talbot, 2011). Sedang benih dari Jawa ditanam di Sumatera. Dengan demikian, pada tahun 1718 Belanda melakukan ekspansi penanaman kopi di dua wilayah sekaligus, yaitu Surinama Guyana dan Sumatera. Pada tahun 1750, dengan benih kopi Arabika dari pulau Jawa Belanda kembali menanam kopi Arabika di Tana Toraja, Sulewasi (Uker’s 1922 : 9).

Pada tahun 1723, seorang perwira angkatan laut kerajaan Perancis bernama, Gabriel Mathiew de Clieu, yang bertugas di Martinique, koloni Perancis dikepulauan Keribia, berlibur ke Paris. Dia menemui sahabatnya Antonie de Jussie, profesor botani yang memperoleh tugas khusus dari Raja Louis XIV untuk merawat tanaman coffea Arabica, di kebun raya Royal Jardine des Plantes, Paris. Dari cerita yang disampaikan de Jussie, perwira Angkatan Laut tersebut tertarik untuk membawa benih tanaman kopi Arabika ke Martinique.

Ketika de Clieu kembali ke tempat tugasnya di Martinique, dia berhasil menyelundupkan lima polybag benih coffea Arabica yang diletakkan di bawah geladak kapal menuju Martinique di kepulauan Karibia. Ketika tiba di Martinique, dari lima polybag benih coffea Arabica tinggal tersisa satu polybag. Dalam perjalanan de Clieu sempat bertengkar dengan kawan-kawannya dengan akibat empat polybag benih coffea Arabica dibuangke laut. Benih coffea Arabica dari Royal Jardine des Plantes Paris itu kemudian ditanam di Preebear, wilayah paling subur di Martinique. Sejarah mencatat, coffea Arabica dari pulau Jawa yang diternakkan di kebun botani Amsterdam lalu dtanam di Royal Jardine de Plantes Paris kemudian dibawa ke Martinique di kepulauan Karibia kemudian menyebar ke perkebunan kopi arabika di seluruh kepulauan Karibia termasuk  ke Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Meksiko (Ukers 1922 : 7; Talbot 2011 : 68; Wrigley 1988 : 40).

Sementara dari benih yang ditanam Belanda di Suriname Guyana, tahun 1727 dibawa ke Brazil untuk ditanam di wilayah Para yang mengawali Brazil dalam budidaya tanaman coffea Arabica. Namun fase ini dianggap kurang berhasil, baru tahun 1760 ketika Joao Alberto Castello Branco membawa benih untuk ditanam di Rio de Janeiro (Uker’s 1922 : 9) Brazil tumbuh sebagai produsen kopi yang diperhitungkan. Sampai tahun 1870an, Brazil bersama Ceylon (kini Sri Lanka) dan Jawa merupakan tiga besar eksportir kopi arabika di pasar dunia.

 (Bersambung ke bagian III)

Bogor, Januari 2019