Home Berita Koperasi Kerta Semaya Terbaik di Indonesia dan Ekspor Pertama Kakao ke Eropa...

Koperasi Kerta Semaya Terbaik di Indonesia dan Ekspor Pertama Kakao ke Eropa (1)

Kisah Kakao dari Jembrana Bali

3725
Ketut Sukarta Petani petani coklat asal Desa Pulukan Jembrana Bali /AM

PENGANTAR REDAKSI

Sebuah perjalanan Kakao Jembrana Bali meninju dunia. Perusahaan ternama Coklat dunia pun mengunakan biji Kakao untuk produknya dari Jembrana. Adalah Valrhona perusahaan ternama coklat dunia yang kini mnengunakan biji kakao dari Bali ini. Simak tulisan 5 bagian ini mulai dari bangkitknya Koperasi, peran LSM Kalimajari dan kisah petani Kakao yang kini lebih sejahtera menjadi lebih bermakna, Peran katograf Perancis dan kuliner coklat yang membumi dari pulau Dewata. | CSR-INDONESIA.COM

BANGKITNYA KOPERASI Kerta Semaya Samania

“Jika saja pendiri bangsa BERNAMA Mohammad Hatta atau dikenal BUNG hatta masih ada maka Koperasi ini layak mendapatkan tempat yang baik dan terpandang.  Azas “usaha bersama” berdasarkan  kekeluargaan yang oleh Bung Hatta secara tegas disebut koperasi itu terwujud di Jembrana Bali. 

Saat Bung Hatta pergi ke Denmark melihat koperasi dan berpikir, bahwa yang cocok karena prinsip kebersamaan di desa-desa antarkaum, antarkerabat  dan pola kebersamaan, orang tidak bersaing untuk saling mematikan tetapi bermitra bersama-sama dalam suatu wadah maka disebutlah ‘koperasi’. Prinsip koperasi adalah sama-sama untung, supaya terus ada, tidak seperti sistem kapitalis menindas rakyat kecil semata. Kira-kira mungkin itu yang ada dalam benak Bung Hatta. 
Hal ini ternyata ada wujudnya di Bali, Koperasi Kerta Semaya Samania Jembrana Bali adalah satu yang patut dipuji. Selain Kuat dan terbukti terdepan koperasi ini berhasil bangkit dari keterpurukannya.
Jarak tempuh menuju Jembrana untuk tahu ke kawasan Perkebunan Kakao dari Denpasar adalah kurang lebih 105.1 KM atau waktu tempuhnya kira-kira 2- 3 jam.

Koperasi dan perkebunan kakao yang ada di sejumlah desa di Kabupaten Jembrana, Bali itu membuat kisah koperasi ini menjawab kekinian dimana saat ini jumlah koperasi di Indonesia mencapai 186.000. Tapi, kabarnya, sebanyak 70% diantaranya tinggal papan nama. Banyak yang menjadi korban liberalisasi ekonomi. Tidak sedikit pula karena salah urus dalam hal pengelolaan dan juga manajemen yang amburadul. Namun semua ini tidak dengan Koperasi Kerta Semaya Samania yang kini telah menjadi catatan sejarah besar bagi Indonesia karena berhadil tembus pasar eropa dan meninju dunia.

Koperasi Kerta Semaya Samania hadir memang bukan tanpa perjuangan. Sempat hampir mati dan tak menghasilkan apa-apa alias nol persen dari produksi kakao. Meski begitu pengelolan Koperasi tak patah arang dan untungnya pada 2011 datang dukungan pendampingan dari Yayasan Kalimajarilembaga swadaya masyarakat pendamping petani kakao di Bali. 

Petani kakao Jembrana yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya akhinya sedikit bernafas lega karena ada kehidupan  dan semangat baru bahkan akhirnya berkat Kalimajari itu hasil produksi mereka mampu menembus pasar ekspor Eropa.

“Saya berani katakan ini koperasi pertama perkebunan kakao yang berhasil ekspor,” ujar I Gusti Agung Ayu Widiastuti, Direktur Yayasan Kalimajarilembaga swadaya masyarakat pendamping petani kakao kepada CSR-INDONESIA.COM di Bali (22/11)  di Perkebunan Kakao di Desa Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali.

Sementra itu Ketua Koperasi Kerta Semaya Samania, I Ketut Wiadnyana saat berbincang dengan redaksi sejak tahun 1988 dirinya sendiri sudah nanam Kakao, koperasi ini berdiri tahun 2006 lalu. Namun sempat kolaps Koperasi lalu datang Yayasan Kalimajari sebagai pendamping dan kami mulai bangkit kembali.

“Atas dukungan berbagai pihak, tahun 2011, koperasi ini mulai mengembangkan kualitas kakao sesuai standar internasional dan mendapat sertifikat UTZ Belanda, saat ini, koperasi sudah merangkul lebih dari 500 subak abian yang ada di Jembrana,”ujar Ketut.

Ketut juga mengatakan bahwa berbekal sertikat UTS dari Belanda, koperasi itu mampu menjual kakao berstandar internasional ke PT Papandayan Cocoa Industry Barry Callebaut Bandung sejak tahun 2013.

“Pengiriman biji kakao vermentasi ini berlanjut setiap tahun. Tahun 2014 hingga tahun 2015 sudah ekspor ke perusahaan Coklat Eropa. Saat itu ekspor 12,5 ton biji kakao vermentasi ke pabrik cokelat Valrhona di Prancis” beber Ketut.

Menurut Ketut sebelumnya kita di koperasi hanya mampu mengirim satu kali ke PT Papandayan Cocoa Industry Barry Callebaut, tapi sat ini sudah mereka mampu mengirim tiga kali. Dan kami akan mengekspor biji kakao vermentasi ke pabrik cokelat Valrhona di Prancis makin besar lagi dan terus bertambah sesuai kualitas kami yang terkontrol, terangnya.

Sementara itu, seorang petani coklat asal Pulukan, Ketut Sukarta mengaku dengan pendampingan dari Yayasan Kalimajari petani di sini semakin bergairah, sebab dahulu pembeli coklat hanya mengandalkan dari tengkulak yang harganya sangat jauh dibanding sekarang di beli oleh Koperasi Kerta Semaya Samania.

“Saya selaku petani mengucapkan terima kasih atas pendampingan dari Yayasan Kalimajari. Berkat pendampingan tersebut koperasi kami sekarang maju, dan bisa bekerja sama dengan perusahaan yang memasok coklat, salah satunya dengan Valrhona dari Perancis,” katanya.

Petani kakao  di bawah Koperasi Kerta Semaya di Kabupaten Jembrana Bali kini menjadi incaran para importir kakao dunia.

Berkat kualitas kakao yang terus dijaga kualitasnya oleh petani, Koperasi Kerta Semaya sudah mampu mengekspor kakao permentasi ke Perancis (Valrhona), Jepang, Australia dan Amerika.

Dukungan ekpor ini juga dibantu Eximbank Ekspor perdana kakao Jembrana dilakukan setelah pemilik pabrik cokelat ternama Prancis, Velrhona sepakat membeli cokelat Jembrana lewat perundingan alot sejak beberapa bulan lalu.

Dari sang Bupati dukungan pun mengalir Bupati Jembrana, I Putu Artha mendorong petani kakao Jembrana untuk meningkatkan kinerja agar tidak digerogoti tengkulak.

Artha memberikan dukngan dengan menempatkan para penyuluh lapangan sebagai mitra diskusi dalam mengatasi masalah di lapangan. Dia berharap, pembelian  kakao petani Jembrana oleh buyer internasioal tidak berlangsung sekali, tetapi dilakukan berkelanjutan. “Saya mendukung kerja  petani kakao dan berharap semua pihak yang sudah membantu petani mampu memberikan motivasi agar petani kakao Jembrana bisa melakukan hal yang lebih baik lagi,” harapnya.

Direktur Pelaksana Indonesia Eximbank, Arif Setiawan mengaku selama ini pihaknya memberikan bantuan kepada  Koperasi Kerta Semaya Samaniya dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR).

Bantuan berupa peralatan dan pelatihan. Dan hasilnya, koperasi ini mampu memproduski kakao berkualitas dunia. Bahkan lanjut dia dari hasil seleksi yang dilakukan tim khusus Valrhona Prancis, kakao Jembrana merupakan satu-satunya yang mewakili Asia.

“Kami siap memberikan dukungan kepada petani kakao agar memberikan nilai tambah dalam penjualan coklat ke luar negeri,” tambahnya.

Dengan nilai tambah  yang ditawarkan, ia yakin pembeli internasional kakao Jembrana tidak hanya Valrhona, Prancis, tetapi juga pabrik cokelat besar lainnya di Eropa.

Saat ini diketahui, perkebunan kakao di Jembrana seluas 6.226,5 hektar. Dengan lahan coklat seluas itu, setiap tahun petani Jembrana mampu memproduksi biji cokelat kering sekitar 3.000 ton.

Semoga saja masa depan Koperasi Kerta Semaya Samaniya akan terus berkembang dan bersama Koperasi Kerta Semaya Samaniya Jembrana Bali ini meninju dunia sehingga Bung Hatta pun akan ikut bangga karena ini koperasi yang mamapun mencatatakan sejarah di dunia. Bravo Jembrana. (bersambung)

AENDRA MEDITA