Home Berita Festival Permainan Rakyat Tradisional Merespon Dunia Digital

Festival Permainan Rakyat Tradisional Merespon Dunia Digital

18

Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional akan digelar pada 17 – 19 November 2020. Acara akan dilangsungkan di tempat di Lapang Perkebunan Dayeuh Manggung – Kec.Cilawu – Kab.Garut Jawa Barat.

Perkembangan individualistis dan dunia maya merupakan dua yang tergambar pada generasi milenial hingga anak-anak pra-sekolah kita hari ini. Sekalipun beberapa orang berada dalam satu tempat atau ruangan, tapi mereka tidak saling sapa, apalagi ngobrol. “semua menjadi individualistis.” demian diungkapkan  Irno Sukarno sebagai ketua Komunitas Anggota Masyarakat Peduli (KAMP) Garut dalam kaitan “Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional” dalam rilisnya yang diterima Redaksi, Senin 9 November 2020.

Dikatakan Irno bahwa persoalan mereka bukan lagi yang ada dihadapannya, atau bahkan yang akan mereka hadapi, namun yang ada di dunia maya.

“Mereka asyik dengan gadget / dawainya masing-masing serta game atau fitur pilihannya sendiri. Persoalan terbesar mereka pun ada atau berada di dunia maya. Lihat saja apa jadinya jika karena satu dan lain hal mereka “terputus” dengan dunia maya, ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang hingga dunia memasuki Era Globalisasi yang hampir meniadakan jarak dan batas, sehingga mau tak mau dengan tidak bisa dibendung atau dengan proteksi sekalipun, semua produk asing bisa dengan leluasa memasuki dunia kita bahkan langsung menuju ke rumah-rumah lewat televisi konvensional, televisi berlangganan serta Handphone Android yang jaringannya tidak bisa kita tolak, hingga ke pelosok desa sekalipun, hingga pada anak pra-sekolah sekalipun,” beber tokoh budaya Garut ini.

Irno juga menambahkan permasalahan utama apa yang telah dan akan kita perbuat untuk memperkuat dan mempertahankan warisan budaya leluhur kita (wabil khusus) yang berupa Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. Karena kandungan manfaat dan filosofis berupa pesan moral maupun fisical-motorik dalam permainan rakyat serta olahraga tradisional tersebut sangatlah kaya, disamping bersifat hiburan, mendidik serta penuh kesederhanaan dalam keceriaan atau kebahagiaan.

Irno Sukarno selaku Ketua “Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional”

“Tanpa bermaksud mencari kambing paling hitam dari kondisi ini, serta sejalan pula dengan era otonomi daerah dimana pilarnya terdiri dari pemerintah, swasta dan masyarakat, ditambah lagi penguatan dengan adanya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan,” jelas ketua Komunitas Anggota Masyarakat Peduli (KAMP) Garut, sebuah Sanggar Seni-Budaya dan Aktifitas Ekonomi Kreatif (sebuah lembaga / organisasi non-Pemerintah) ini.

Sebetulnya, pada masa awal kegiatan ini bernama “Pertandingan Olahraga Tradisional” (POT) yang diselenggarakan pada 25 Juni 2011 oleh UPT. Museum RAA. Adiwidjaja dibawah pimpinan Hijriati Dewi, SSn. (yang baru saja ditugaskan di UPT tersebut) bersama stakeholdernya yaitu Sahabat Museum RAA. Adiwidjaja di Bumi Perkemahan Situ Cibeureum – Samarang – Garut.

Sebuah kebiasaan buruk di lingkungan Pemerintah rupanya melanda, ganti Pejabat maka ganti pula Kegiatan, tidak peduli apakah kegiatan tersebut bagus dan bermanfaat yang penting ganti dengan yang baru. Maka jadilah kegiatan Pertandingan Olahraga Tradisional (POT) ini tidak berlanjut secara rutin. Barulah seiring dengan terbitnya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan (UU 5/2017) dimana terdapat Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK)-nya adalah “Permainan Rakyat” dan “Olahraga Tradisional” maka melalui Fasilitasi Kerjasama Antar Instansi (FKAI) Ditjen Kebudayaan Kemdikbud RI tahun 2019 yang diajukan Garut Creative Board bersama KAMP Garut kembali melaksanakan kegiatan yang diberi nama “Festival Permainan Tradisional dan Pertandingan Olahraga Tradisional”,”ungkapnya.

Untuk tingkat Jawa Barat dengan memperebutkan Piala Bergilir Gubenur Jawa Barat serta diikuti oleh Kab. Krawang, Kota Bogor, Kab.Tasikmalaya, Kab.Sumedang dan Kab.Garut sendiri sebagai Tuan Rumah. Hadang, atau Galah Ulung merupakan salah satu Cabang olahraga tradisional yang diperlombakan pada pelaksanaan di Desa Wisata Ciburial (28-29 September 2019).

Event tahunan ini akan berlanjut dan bisa dilaksanakan, dan seiring dengan “kembalinya” UPT. Museum RAA.Adiwidjaja, Hijriati Dewi, S.Sn. maka kegiatan “Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional” tingkat Jawa Barat ini akan kembali dilaksanakan.

KAMP Garut sebagai pembuat ajuan Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kemdikbud RI bekerjasama dengan UPT.Museum RAA.Adiwidjaja dan Bale Paminton Inten Dewata serta dukungan beberapa pihak terkait dan peduli terhadap keberlangsungan Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional ini di Jawa Barat.

Even ini juga bagian dari pelaksanaan dari Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, khususnya OPK Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional adalah juga antara lain : – Meningkatnya pengetahuan Siswa-siswi / Generasi Muda tentang bentuk Kaulinan maupun Permainan Rakyat sebagai warisan budaya leluhur Urang Sunda.

Dengan tema kegiatan “Pariwisata Budaya ; Lestari Budayaku, Bugar Bangsaku” yang menjadi sasaran dari kegiatan ini adalah Peserta (Siswa/i SMP, SMA sederajat) dengan Pembimbingnya (Guru), Panitia (Mahasiswa Olahraga, SP3OR, Pelaku Budaya), Pengurus KPOTI (Komite Pertandingan Olahraga Tradisional Indonesia) DPD Provinsi Jawa Barat dan DPC Kota/Kabupaten Peserta Kegiatan, Pemerintah (ASN di tingkat Provinsi dan Kabupaten) dan masyarakat.

Namun mengingat situasi dan kondisi masih dalam suasana Pandemi COVID-19 maka Peserta dibatasi dan mengundang masyarakat untuk hadir langsung di lokasi, melainkan dengan mengajak mereka untuk menyaksikan secara daring / online melalui kanal media-media social ; YouTube, Facebook serta Instagram, yakni pada kanal kamp garut dan budaya saya, serta kanal lain yang merupakan Peserta Kegiatan Festival dan Pertandingannya itu sendiri maupun Peserta dari Lomba Foto dan Video Liputan yang masih merupakan bagian dalam kegitan Festival Permainan Rakyat dan Pertandingan Olahraga Tradisional ini.

Disamping itu tentunya pelaksanaan kegiatan ini pun tentunya akan menerapkan Protokol Kesehatan sesuai ketentuan. Harapannya kegiatan ini dapat bermanfaat untuk, – Melestarikan dan mengaktualisasikan Warisan Budaya Daerah Sunda –khususnya yang terangkum dalam bentuk Permainan Rakyat, baik yang dipertandingkan 1 lawan 1 (perorangan maupun Komunitas), ataupun ditampilkan secara perorangan maupun Komunitas. 4 – Memperkenalkan Bentuk dan Nilai-nilai Etika dalam budaya Sunda yang dipresentasikan lewat Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. – Memberikan hiburan yang mendidik dan melatih sportivitas–khususnya bagi Generasi Muda (Nonoman) Sunda. Adapun cabang olahraga tradisional dengan peserta tingkat usia SMP/sederajat yang akan dipertandingan dalam pelaksanaan ke-tiga ini adalah,

1. Egrang Putra : a. Sprint Estafet, 3 Orang Pemain b. Halang Rintang, 2 Orang Pemain 2. Hadang : 5 Orang Pemain a. Putra b. Putri 3. Ketapel Beregu (Putra &/ Putri) : 5 Orang Pemain 4. Lari Balok Perorangan : 1 Orang Pemain a. Putra b. Putri 5. Lari Balok Beregu / Estafet : 3 Orang Pemain a. Putra b. Putri 6. Egrang Batok Putri Beregu / Estafet : 3 Orang Pemain 7. Gelindingan (Putra &/ Putri) a. Perorangan (1 Orang Pemain) b. Kelompok (2 Orang Pemain) 8. Balap Karung Kelompok / Beregu (Putra &/ Putri) ; 3 Orang Pemain 9. Tarumpah Panjang / Beregu (Putra &/ Putri) ; 5 Orang Pemain a. Putra b. Putri Sedangkan peserta untuk tingkat usia SMA/sederajat akan berlomba dalam penampilan permainan rakyat berupa pertunjukan “Ngabungbang”.(RED/CSRI)