Beranda Berita PT DANINDO JENSEN: Eksis dengan Utamakan Quality Kontrol

PT DANINDO JENSEN: Eksis dengan Utamakan Quality Kontrol

565
0
BERBAGI
Viverina Lubis dan Benny K. Jensen owner dari PT DANINDO JANSEN

CSRINDONESIA – Pasangan Viverina Lubis dan Benny K. Jensen owner dari PT DANINDO JANSEN, merasa bersyukur atas karunia yang dilimpahkan Tuhan pada bisnis rotannya yang dirintisnya selama kurang lebih 20 tahun. Dan kini mengalami kemajuan. Tekad keras, kemauan dan keyakinan kuat dan pantang menyerah menjadi modal utama membangun bisnis rotan yang malang melintang perkembangannya di lokal dan internasional.

“Jatuh bangun menjadi hal biasa dalam dunia bisnis, yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan quality control agar barang yang dijual selalu mendapat tempat di hati pembeli,”ujar Viverina Lubis  dan Benny ada CSRINDONESIA pekan lalu (14/11/2016) saat kunjungan ke pabriknya di rangkaian acara  International Rattan Forum and National 2016 yang diselenggarakan oleh  Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK).

Sebagai pebisnis rotan, Danindo Jansen mengawali dengan bisnis trading. Benny yang asli Denmark menikahi Viverina asal Sumatra Utara dan diboyongnya ke Denmark pada tahun 1986. Danindo kependekan dari Denmark dan Indonesia, sedangkan Jensen adalah nama keluarga suaminya, lanjut Viverina.

Dulu Benny bekerja sebagai marketing eksekutif di sebuah perusahaan mebel di Denmark dan barangnya juga di export ke luar. Pada  sebuah pameran di Denmark dan ia berkenalan dengan seorang bule asal Swedia dan memperkenalkannya tentang rotan dari Malaysia. Singkatnya ia membawa Benny bekerja di Malaysia. Hanya bertahan selama 1 tahun di sana, Benny berhenti bekerja karena tidak merasa cocok dengan bosnya.

“Suami saya orangnya ramah dan punya anak buah di Malaysia yang bilang begini; Mister,  kamu orang marketing, pulang ke Denmark jangan jadi pegawai lagi tapi harus punya usaha sendiri, kami disini bisa bantu untuk memasarkan,” cerita Viverina.

Dengan modal nekad akhirnya mereka memutuskan untuk memulai bisnis rotan. Setiap libur bekerja dan di hari Sabtu, mereka janjian bersama bekas anak buahnya itu, yang memperkenalkan pasangan itu ke pengrajin-pengrajin rotan di Malaysia. “Pokoknya kita support kamu untuk buat usaha sendiri,” lanjut Viverina lagi, menirukan anak buah Benny dulu di Malaysia.

Bermodal satu container mereka membawa hasil karya rotan ke Denmark dan tidak tahu harus di jual kemana. Kebetulan suatu hari ada sebuah pameran dan mereka ikut dalam pameran itu. Rupanya pucuk di cinta ulam pun tiba. Berbekal pameran itu, mereka dibanjiri pesanan dari buyer besar di Denmark. Mulai dari sanalah usahanya berkembang  pesat.

Base tradingnya ada di Denmark dan barang dari Malaysia (1990-1993). Karena Vivian asal Indonesia, ia jadi teringat kalau beli di Indonesia mungkin akan jauh lebih murah dan mereka membeli dari Tangerang dan Surabaya. “Pada awalnya barang-barang itu bagus qualitasnya namun lama-kelamaan qualitinya semakin jelek. Barang rejeck dan sudah ditandai dengan tali merah tetap dikirim juga. Saya bilang sama suami lebih baik kita pindah ke Indonesia, agar lebih mudah untuk melihat quality control, waktu itu tahun 1994,” ujar Viverina

Selama 7 tahun tinggal di Denmark dan ia selalu merasa rindu tanah air. Udara hangat, atmosfir dan bau  tanah basah serta usaha yang mereka geluti itu menjadi alasan kuat untuk pindah ke tanah air. “Lalu kami pindah ke Indonesia. Pada tahun itu juga kami masih tradding barang beberapa pabrik yang ada di Indonesia,  tapi ada quality controlnya langsung dari kita, dan barang dikirim pake container,”jelas Viverina.

Suatu hari Benny bertemu dengan orang Amerika dan memberitahu kalau membeli rotan, Cirebonlah tempatnya. Karena banyak pengrajin di sana dan desainnya bagus. Atas rekomendasi itulah maka mereka ke Cirebon dan memutuskan untuk mengambil barang dari pengrajin yang terkenal dengan empal gentong dan terasi udangnya itu.

img_20161114_084554Dalam perkembangan selanjutnya yakni tahun 1999, mereka membangun pabrik sendiri di Cirebon dan rumah tinggal yang mereka tempati sampai saat ini. Pasangan itu  merasa kalau mereka  punya pabrik sendiri, mereka bisa menentukan qualitinya sendiri dan desain yang sesuai dengan selera mereka. “Kalau membeli dari pabrik lain,  dan kalau saya bilang ini barangnya kurang bagus, orang pabriknya tentu akan tidak suka,” jelas Viverina yang kini memiliki  jumlah pegawai lebih dari 100 orang dengan mempekerjakan 20 orang pengrajin. Biasanya satu pengrajin mempunyai antara 10-15 orang karyawan.

Sekarang pabriknya berkembang pesat, bahan baku dan rotan banyak di beli selain dari Cirebon juga dari Sulawesi dan Kalimantan, namun ada beberapa juga dari Aceh.

Apa yang tersulit dari bisnis ini?

Menurut Viverina  dan Benny, Yang tersulit dari bisnis ini adalah menjual barangnya atau marketnya karena sekarang ini banyak saingan. Jadi kita harus rajin ikut pameran ke Singapura, Jakarta dan luar negeri. Hanya saja kalau ikut pameran ke  luar negeri biayanya tidak sedikit.  Selain itu, untuk biaya  audit tiap tahunnya, menurut Viverina juga dirasakan  semakin mahal.

“Auditnya mahal dari tahun ke tahun, mungkin ada  kaitannya dengan policy dan kebijakan pemerintah. Tapi untungnya masih tetap ada sih..meski tidak banyak,” tegas Viverina.

Masih kata Viverina bahwa Perbulan kini bisa mengirim ke luar negeri antara  7 – 10 kontainer. Satu kontainer beragam coraknya misal kalau kursi makan sampai 300 pieces yang nilainya  berkisar antara U$ 15.000 – U$. 28.000.

“Beberapa tahun yang lalu booming permintaan kursi rotan klasik dan meja rotan. Namun di era globalisasi ini harga kita tidak dapat bersaing dari barang import asal China yang harganya jauh lebih murah. Jadi ada beberapa pengusaha Rotan banyak yang bangkrut. Tapi lama kelamaan, orang juga  bosan dan kualitas yang mereka beli kurang bagus, jadi mereka akhirnya kembali ke rotan,”kata Viverina.

Beruntung pasangan yang telah dikarunia 3 orang anak itu, putranya yang telah berkeluarga mau menjalankan bisnis keluarga ini dan belajar menjadi marketing yang handal seperti ayahnya.

PT Danindo Jensen yang perlu dilanjutkan oleh trahnya dengan persamaan misi dan visi.  Apapun bisnis itu bagi mereka mementingkan quality kontrol dan membina hubungan yang baik dengan klien adalah modal untuk sukses dan itu terbukti sampai kini mereka Eksis. (SUN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here