Beranda CSR CSR Lingkungan Peringati Hari Keanekaragaman Hayati SHARP Ajak Siswa Jelajahi Hulu Sungai Cisadane

Peringati Hari Keanekaragaman Hayati SHARP Ajak Siswa Jelajahi Hulu Sungai Cisadane

1822
0
BERBAGI
Bersama pemandu lokal para peserta melakukan observasi keanekaragaman hayati yang ada di area sungai

CSRINDONESIA – BOGOR, Sebagai negara yang dikaruniai iklim tropis, Indonesia menjadi salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terkaya kedua di dunia setelah Brazil. Sayangnya, hingga kini keanekaragaman hayati masih menjadi istilah yang asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk para pelajar yang merupakan generasi penerus bangsa. Padahal, keberagaman sumber karbohidrat, bermacam-macam buah-buahan, berbagai jenis burung, maupun aneka pohon-pohonan yang dimiliki Indonesia telah menyediakan berbagai macam manfaat bagi penduduk tanah air.

Berangkat dari keprihatinan inilah, PT SHARP Electronics Indonesia (SEID) melanjutkan komitmennya untuk terus berkontribusi secara positif kepada lingkungan dan keanekaragaman hayati Indonesia dengan menggelar kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk ”Aksi Nyata Untuk Bumi” pada tanggal 25 Mei 2016 dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati, berkolaborasi dengan organisasi nirlaba lingkungan hidup Transformasi Hijau (Trashi). Setelah tahun sebelumnya merayakan Hari Keanekaragaman Hayati di Desa Sarongge, Cianjur, Jawa Barat, untuk mempelajari sistem pertanian dan peternakan organik, kali ini SEID menggandeng puluhan siswa untuk mempelajari kenakegaraman hayati di Kampung Ciwaluh yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Bogor.

Kampung Ciwaluh merupakan kampung yang memiliki 14 jenis burung yang teridentifikasi, 13 jenis tanaman obat mulai dari kumis kuncing hingga honje, 6 jenis reptil termasuk trenggiling, dan 14 jenis mamalia termasuk surili dan kukang. Aliran Sungai Cisadane di kampung ini bahkan pernah menjadi salah satu sumber energi listrik dengan memanfaatkan arus sungainya yang deras.

“Lokasi Kampung Ciwaluh ini sulit diakses oleh kendaraan roda empat. Kampung ini juga berdampingan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sehingga membuatnya memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi dengan beberapa hewan yang dilindungi. Namun begitu, saat ini wilayah ini mengalami ancaman yang cukup serius karena adanya pengembangan wisata berbasis resort yang sedang digalakkan di wilayah Kabupaten Bogor. Karena itulah, kami mengajak para pelajar untuk bergabung menjadi aktivis muda lingkungan hidup SHARP Greenerator yang diinisiasi oleh SHARP bersama para partner organisasi nirlaba lingkungan hidup kami, sekaligus terjun langsung mempelari betapa kayanya keanekaragaman hayati di kampung ini, betapa pentingnya hal ini bagi kelangsungan hidup generasi mendatang. Pada akhirnya, kami berharap upaya ini mampu membangkitkan kesadaran mereka untuk turut berperan aktif melestarikan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia, di manapun mereka berada,” ungkap Haruhiko Sano selaku General Manager Brand Strategy Group Division SEID.

Pada kegiatan ini, para peserta diajak untuk berkeliling kampung guna melakukan observasi keanekaragaman hayati, sambil diperkenalkan pada aneka tanaman ‘unik’ yang tumbuh di Kampung Ciwaluh dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan memasak maupun obat-obatan tradisional. Di antaranya adalah daun congkok, daun patat, kucai, honje, kumis kucing, kapolaga, kiray, tepus, genjer, paku rane, seuseurehan, pulus, babadotan, harendong bulu, dan masih banyak lagi lainnya. Para peserta juga diajak untuk memahami peran perempuan dalam pelestarian tanaman obat dengan berdiskusi langsung bersama para petani lokal perempuan.

Sambil berkeliling, mereka diajari pula mengenai agroforestry, tujuannya agar para peserta memahami pemanfaatan lahan oleh masyarakat Kampung Ciwaluh. “Di Ciwaluh, masyarakat menanam pohon kayu-kayuan di area yang relatif miring, setelah itu di area yang lebih rendah lagi ditanami tanaman kebun yang diambil buah atau bijinya seperti kopi, lalu barulah area yang paling rendah ditanami oleh tanaman obat-obatan dan juga sawah. Dari sini, mereka tidak hanya memahami mengenai agroforestry, namun juga kearifan lokal dari metode pemanfaatan lahan yang khas dari masyarakat Kampung Ciwaluh,” jelas Sarie Wahyuni dari Trashi.

Kampung Ciwaluh yang dilewati oleh aliran Sungai Cisadane juga menyimpan beragam potensi Daerah Air Sungai (DAS). Para peserta diajak pula untuk mempelajari pemanfaatan sumber daya air untuk energi terbarukan di kampun ini melalui sistem mikrohidro. Sistem ini dimanfaatkan oleh masyarakat kampung sebagai tenaga listrik tambahan serta mengeringkan atau memanggang kumis kucing maupun kopi untuk dijadikan bahan baku masakan atau obat-obatan. Hutan hujan tropis yang bersisian dengan sungai turut memberikan kontribusi pada ekosistem di Kampung Ciwaluh, dengan demikian para peserta juga mampu memahami keterkaitan ekosistem hutan terhadap sumber air dan pentingnya melakukan pengelolaan DAS yang baik.

Atas komitmennya terhadap lingkungan ini, pada ajang Indonesia Green Awards 2016 yang digelar pada 21 Mei lalu, SEID dianugerahi penghargaan untuk kategori Menghemat Energi, Mengembangkan Energi Baru dan Terbarukan berkat upayanya dalam mengurangi ketergantungan energi yang dihasilkan dari minyak bumi, batu bara, dan gas bumi yang dapat mempercepat pemanasan suhu bumi melalui pemanfaatan salah satu energi terbarukan yaitu tenaga surya. Di pabriknya yang terletak di Karawang, SEID membangun 360 unit panel surya yang mampu menghasilkan 66.000 Watt hingga mampu menyuplai 60 persen kebutuhan listrik pabrik SHARP di Karawang setiap hari. Dengan sistem ini, SEID mampu menekan penggunaan listrik sekaligus pembuangan gas karbondioksida ke udara sebesar 34 persen selama satu fiskal (enam bulan) guna memperlambat laju perubahan iklim penyebab pemanasan global. (WAW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here