Berdayakan Trend “Sharing Economy” Roland Berger dan OpenPort Pangkas Biaya logistik 9%...

Berdayakan Trend “Sharing Economy” Roland Berger dan OpenPort Pangkas Biaya logistik 9% Total PDB Indonesia 2035

2448
0
SHARE
Istimewa

CSRINDONESIA – Roland Berger, sebuah perusahaan konsultan berskala global, dan OpenPort, sebuah perusahaan solusi logistik berbasis aplikasi, hari ini berbagi wawasan mengenai tantangan-tantangan dalam proses supply chain serta peluang teknologi dalam mengurangi biaya pengiriman dan logistik dalam negeri secara signifikan.

Diperkirakan biaya logistik di Indonesia kini sudah mencapai 26% dari total PDB, atau tiga kali lebih besar daripada negara maju. Roland Berger bersama OpenPort memperkirakan bahwa setiap perusahaan logistik di Indonesia memiliki potensi untuk dapat mengurangi biaya logistik sebanyak 30% dalam jangka pendek, apabila beban-beban yang signifikan dapat dihilangkan secara keseluruhan. Selain itu dengan adanya perubahan peraturan yang mulai diberlakukan secara ekstensif dan terus-menerus, persentase biaya logistik di Indonesia dapat dikurangi hingga 9% dari PDB pada tahun 2035, atau sebanding dengan negara-negara OECD.

Anthonie Versluis, Managing Partner Roland Berger dan Max Ward, CEO OpenPort bersama-sama memaparkan proyeksi tersebut pada konferensi pers hari ini.

“Diantara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki biaya logistik tertinggi, yakni mencapai 26% dari total PDB di tahun 2015,” kata Anthonie. Ia memberikan contoh bahwa biaya logistik di Malaysia dan India hanya 14% dari PDB, sementara di China sebesar 18%.

“Transformasi dari industri ini sangat dibutuhkan untuk mengurangi beban biaya logistik,” ungkapnya. Anthonie menambahkan bahwa tindakan tertentu seperti reformasi model operasi pelabuhan dan pengembangan infrastruktur pelabuhan sangat dibutuhkan.

“Dari analisa kami, Indonesia memiliki potensi untuk menekan biaya logistik terhadap persentase dari PDB menjadi 9% pada 2035, tetapi harus meningkatkan reformasi di industri untuk mencapai target yang ambisius ini. Kedua sektor, baik publik maupun swasta, perlu bekerja sama untuk mengurangi beban ini,” ucap Anthonie menyoroti kebutuhan untuk mengembangkan sistem jaringan hub-and-spoke, memperbaiki regulasi, dan menambah kapasitas jalan dan kereta api saat ini.

Indonesia Timur dapat memainkan peran penting dalam mengembangkan rute maritim, yang akan meningkatkan pembangunan ekonomi di Kalimantan dan Sulawesi, serta manfaat pelabuhan dan pengirim yang berbasis di Jawa Timur. Dengan mengembangkan infrastruktur dan bekerja sama dengan para ahli untuk menentukan muatan optimal, operator logistik di Jawa Timur akan mampu merebut pangsa pasar dari Tanjung Priok. Saat ini, meskipun Tanjung Priok merupakan pelabuhan paling ramai dan menangani lebih dari 50% dari kargo trans-shipment di Indonesia, tetapi penanganan kepabeanan masih cenderung lambat dan kapasitas pelabuhan yang terbatas.

Memanfaatkan perkembangan “sharing economy”
“Kita perlu merevolusi cara sektor logistik dan supply chain bekerja. Indonesia dapat menjadi salah satu pasar yang paling kompetitif dan menarik secara ekonomi di ASEAN apabila kita mengubah cara kita berpikir tentang efisiensi pada proses supply chain dan adopsi teknologi baru. Teknologi dan proses yang baru tidak hanya akan membuat sektor logistik menjadi lebih efektif, tetapi juga memungkinkan pemain lokal untuk bersaing dan melakukan bisnis dengan operator besar di dalam industri, “kata Max.

Kemajuan teknologi dan adopsi massal dari smartphone telah membuka pintu untuk pendekatan manajemen logistik baru. Sebuah multi-shipper platform berbasis cloud dapat diadopsi dengan biaya minimal, dan terobosan aplikasi mobile terintegrasi yang juga dapat digunakan untuk menghubungkan operator-operator truk. Saat ini biaya logistik angkutan truk mencakup 72% dari biaya logistic transportasi di Indonesia. Untuk itu diperlukanlah sebuah pendekatan pasar yang netral dan transparan dalam menghubungkan pengirim dengan truk pengangkut untuk dapat menghasilkan penghematan besar, meningkatkan efisiensi, pengurangan pihak ketiga serta peningkatan visibilitas supply chain.

Platform logistik berbasis digital, OpenPort memungkinkan pengirim untuk melaksanakan manajemen supply chain mereka secara in-house; hal ini menurut Roland Berger dapat menjadi metode utama dalam mengurangi biaya. Sistem ini memungkinkan pembelian sesuai permintaan. Selain itu, sebagai suatu platform jaringan bersama, peningkatan efisiensi secara signifikan dapat direalisasikan dengan mengurangi jumlah truk kosong melalui backhaul dan shared loads.

Hal tersebut akan mengurangi biaya logistik untuk perusahaan pengiriman baik dari luar maupun di dalam negeri hingga sebesar 30%, serta memperbesar margin untuk penyedia transportasi domestik dengan cara meningkatkan pemanfaatan/utilisasi aset mereka.

“Di OpenPort, kami memahami tantangan-tantangan dari negara berkembang seperti Indonesia. Melalui teknologi inovatif, kami ingin membawa konektivitas yang lebih baik dalam bidang logistik ke Indonesia, dan tentunya untuk membantu meningkatkan kinerja supply chain negara ini,” ungkapnya.

Roland Berger, didirikan pada tahun 1967, merupakan sebuah konsultan global dari Jerman. Dengan 2.400 karyawan yang berada di 36 negara.

OpenPort adalah platform pertama berbasis mobile yang bersifat netral untuk end-to-end manajemen supply chain perusahaan di pasar negara berkembang, yang menghubungkan pengirim dan pengangkut untuk mengurangi biaya, meningkatkan kinerja, dan terus mendorong optimasi supply chain melalui model Open Enterprise Logistics (OEL). (WAW)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY