Saatnya RI Belajar Pendidikan Vokasi Jerman

Saatnya RI Belajar Pendidikan Vokasi Jerman

690
0
SHARE
Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kanan) beserta Prof. Dr.rer.nat. Agus Rubiyanto, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin (kiri) didampingi Alumni Beuth Hoschschule Berlin-Duales Studium bei Siemens AG Rofif Muhammad Zufar (kedua kiri), Instruktur Bidang Automotive Maintenance Politeknik Manufaktur Astra Marco Adribrata (kedua kanan) dan Elroy Fransiskus (tengah) seusai meninjau fasilitas (Computer Numerical Control dan Mechatronic and Mechanic Training Area) Siemens Technik Akademie di Berlin, Jerman, belum lama ini. (Dokumentasi KBRI Berlin, Jerman)

CSRINDONESIA – Model pendidikan vokasi Jerman telah terbukti mendukung kemajuan industri dan ketahanan ekonomi Jerman, sehingga banyak negara di dunia meniru sistem pendidikan vokasi ini.

Hal ini juga menjadi salah satu agenda penting kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ke Republik Federasi Jerman yang diprakarsai oleh KBRI Berlin yakni membicarakan peningkatan kerjasama pendidikan vokasi agar sumber daya manusia Indonesia memiliki daya saing dalam menghadapi persaingan pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Indonesia pun secara serius meniru pendidikan vokasi Jerman ini untuk memajukan industri Indonesia, khususnya di bidang kelistrikan, tekstil, maritim dan bidang lainnya,” tutur Jokowi saat kunjungan ke Jerman. Keunggulan pendidikan vokasi Jerman karena didukung oleh Duales System (kombinasi praktik di industri dan di kelas serta teori) yang berbasiskan pada kolaborasi yang sangat erat antara institusi pendidikan, perusahaan/industri, dan pemerintah.

Memperkuat kerja sama bilateral Republik Indonesia-Republik Federasi Jerman, khususnya di bidang Technical Vocational Education and Training (TVET), merupakan hal yang secara konsisten disuarakan dan diupayakan oleh KBRI Berlin sebagai perwakilan Republik Indonesia dengan Pemerintah Jerman.

Untuk merealisasikannya, diperlukan adanya upaya guna menyinergikan expertise Jerman dalam pendidikan vokasional Duales System dengan sistem pendidikan kejuruan di Indonesia.

Dalam keterangan pers bersama Menteri Luar Negeri RI di Berlin pada tanggal 17 April 2016, Duta Besar Indonesia Untuk Republik Federasi Jerman Dr. -Ing. Fauzi Bowo mengatakan bahwa di Jerman bagi mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan selama 9 tahun dan ingin langsung bekerja, diberikan kesempatan bekerja magang, menerima gaji dan 2 hari dalam 1 minggu mengikuti pelajaran di sekolah vokasi.

Hal yang penting yang juga harus diperhatikan adalah standarisasi lulusan sekolah menengah kejuruan, agar dapat bersaing dengan lulusan dari negara ASEAN, hal ini penting sekali dalam menghadapi MEA. Pada kunjungan ini, KBRI Berlin mengupayakan pertemuan Presiden Joko Widodo dengan para mahasiswa Indonesia yang belajar pendidikan vokasi di Jerman, agar Presiden dapat mendengar langsung pengalaman mereka.

Di Indonesia, PT Astra International Tbk, melalui Yayasan Astra Bina Ilmu-Politeknik Manufaktur Astra (Polman Astra), telah menerapkan “Astra Duales System” yang terinsiprasi oleh pendidikan vokasi Jerman dengan penerapan 65% praktik (termasuk magang industri) dan 35% teori.

Kini Polman Astra menyelenggarakan pendidikan vokasi Diploma 3 dengan 4 Program Studi dan 7 Konsentrasi yakni Pembuatan Peralatan & Perkakas Produksi, Teknik Produksi & Proses Manufaktur, Mekatronika, Teknik Pengolahan Hasil Perkebunan, Manajemen Informatika, Teknik Otomotif dan Teknik Alat Berat.

Sejak Mei 2015, Polman Astra telah bekerjasama dengan Alfons Kern Schule (AKS) untuk pengembangan instruktur. AKS adalah sebuah lembaga pendidikan tinggi vokasi di kota Pforzheim yang berjarak sekitar 6 jam perjalanan kereta api dari Berlin, Jerman.

Direktur Polman Astra Tony Harley Silalahi mengatakan pendidikan vokasi khas Jerman ini perlu ditindaklanjuti serta dipertajam melalui kerjasama antara dunia pendidikan, masyarakat industri serta didukung oleh kebijakan dan regulasi agar Duales System berjalan dengan baik dalam membentuk kompetensi anak didik.

Selain itu implementasi Duales System Jerman di Indonesia, perlu dilakukan dengan adaptasi yang konstekstual, sehingga insitusi pendidikan vokasi di Indonesia tidak hanya sekedar mengadopsi pola Duales System tetapi pada akhirnya dapat mendukung daya saing industri di Indonesia.

Melalui pendidikan vokasi ini, Indonesia ke depan diharapkan dapat menjadi negara yang memiliki ketahanan ekonomi dan Industri yang kuat. Dengan demikian, bonus demografi yang dimiliki saat ini akan memberi manfaat yang besar. (WAW)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY