Beranda CSR Yayasan Lavender Indonesia Terus Maju Perjuangkan Jaket Listrik Anti Kanker

Yayasan Lavender Indonesia Terus Maju Perjuangkan Jaket Listrik Anti Kanker

1211
0
BERBAGI
Alat terapi kanker Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) atau Jaket Listrik Anti Kanker. temuan pakar tomografi Warsito P. Taruno

CSRINDONESIA –  Di Indonesia saat ini ada kurang lebih 4,3 penerima anugerah kanker per 1.000 penduduk Indonesia. Namun yang memprihatinkan, hingga sekarang hanya ada 0,6 tempat tidur dan 0,2 dokter per 1.000 penduduk untuk melayani berbagai macam penyakit, tidak hanya penyakit kanker. Padahal harus diakui kanker  adalah penyakit yang cepat sekali mengambil nyawa. Itulah suara keprihatinkan yang dilontarkan Indira Abidin, Ketua Yayasan Lavender Indonesia yang berusaha memberikan empati, kepedulian dan dukungan kepada para penderita kanker yang disebut indira sebagai anugerah kanker tersebut.

“Banyak di antara kami yang merasa depresi, bahkan hampir bunuh diri, mendengar diagnosa kanker. Pengobatan susah didapat, apalagi di daerah. Bahkan bagi kami yang kebetulan tinggal di kota, punya uang, dan mampu berobat, tak ada dokter yang dapat menjamin kesembuhan kami. Bahkan di Amerika yang sangat siap melayani pun tingkat survival 5 tahun untuk kanker payudara hanya 11% (SEER),” tambah Indira menjelaskan.

Namun ternyata ada harapan besar yang muncul di tengah keputusasaan penderita kanker Indonesia. Ada penemuan ECCT oleh Warsito Purwo Taruno berupa  inovasi jaket listrik yang mampu mengacaukan pembelahan sel kanker dengan daya rendah. Dari 3.183 pengguna ECCT, 1.530 membaik kondisi nya dan 1.314 lainnya sukses menghambat pertumbuhan kankernya. Menurut Indira, hal yang paling menyentuh adalah 51,74% pengguna ECCT adalah mereka yang tak lagi dianggap punya harapan oleh dokter. Dan ECCT bisa memberi harapan bagi mereka.

Sayangnya, harapan yang menyeruak tersebut tiba-tiba seperti dipadamkan. ECCT digugat dan kini klinik nya ditutup. Merasa bahwa inovasi ini dihadang oleh industri yang sudah mapan dan kesenjangan hukum yang tak bisa mengejar kecepatan inovasi, maka Yayasan Lavender Indonesia pun melayangkan petisi online kepada Presiden Jokowi untuk membantu eksistensi inovasi ini yang dihambat oleh Menteri Kesehatan.

“Pak Jokowi, Bapak sudah dengan sangat baik membantu Gojek tetap ada. Kini, bantulah kami membangun harapan, menyalakan cahaya. Bantulah kami agar ECCT dapat tetap dinikmati oleh rakyat yang tak lagi punya harapan. Agar kami dapat kembali membangun keluarga, masyarakat dan bangsa,” ujar Indira memohon kepada Presiden.

“Kami sangat menghormati proses perlindungan yang dilakukan Kemenkes, tapi nyawa kami tak bisa lama menunggu. Tak bisa lama menunggu Indonesia siap obati kami, tak bisa menunggu birokrasi siap hadapi inovasi,” tambah Indira meyakinkan dalam petisi yang dipublikasikan pada 1 Januari 2016 lalu.

Ternyata perjuangan Yayasan Lavender sejak awal tahun baru 2016 tersebut terus melaju. Sejalan dengan menguatkan dukungan pada petisi online yang hampir mendapatkan 7000 dukungan, pemerintah memberikan indikasi mendukung pengembangan riset penggunaan electrical capacitance volume tomography pada diagnosis riset dan electro capacitive cancer therapy untuk terapi kanker. Syaratnya, riset yang dilakukan Warsito Purwo Taruno itu wajib memenuhi standar prosedur riset kesehatan karena menyangkut nyawa manusia.

“Inovasi anak bangsa ini diharapkan bisa dibuktikan secara ilmiah keamanan dan kemanfaatannya,” kata Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Medikolegal Tri Tarayati, Senin (11/1). Hal itu dikemukakan saat kunjungan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir ke Ctech Labs Edwar Technology, fasilitas diagnosis dan terapi kanker dengan teknologi ECVT dan ECCT, di Tangerang, Banten.

“Perjuangan kita mendapatkan momentum penguat. Hari ini saya bersama Bapak Warsito, bertemu dengan Bapak Muhammad Nasir, Menristekdikti di kantor C-Tech Labs Edwar Technology. Menristekdikti menghargai kerja keras Pak Warsito mengembangkan ECCT dan ECVT. Menristekdikti juga menegaskan akan terus mendukung penelitian yang inovatif di Indonesia. Harus ada tempat yang kondusif bagi para inovator,” syukur Indira.

Meski begitu Indira tetap berharap agar masyarakat terus memberikan dukungannya pada petisi online yang terus bergulir sekarang dengan menandatangani petisi di bit.ly/PetisiLavender.

“Perjuangan kita masih belum usai. Kita masih menunggu hasil review dari Kemenkes terkait izin bagi ECCT. Kami para penerima anugerah kanker, masih membutuhkan puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan tandatangan dari anda semua. Bantu kami untuk dapat memilih terapi bagi kesehatan kami,” pungkas Indira mengharap dukungan yang lebih besar lagi dari masyarakat. (WAW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here