Beranda CSR Di Lombok, Empat Penerima Apresiasi SATU Indonesia Award Kembali Meramu Ide Kreatif...

Di Lombok, Empat Penerima Apresiasi SATU Indonesia Award Kembali Meramu Ide Kreatif Bagi Bangsa

1239
0
BERBAGI
Pemberian pakan bagi 300 itik di lingkungan sekolah Pondok Ma’rif Riyadul Falah, Aikperapa oleh Para Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards Maharani (penerima SATU Indonesia Awards tahun 2014), Amilia Agustin (penerima tahun 2010), Marwan Hakim (penerima tahun 2013), dan Mansetus Kalimantan (penerima tahun 2010), blogger nasional dan perwakilan Grup Astra.

Lombok, NTT, CSRINDONESIA – Apa yang akan dihasilkan jika empat orang muda kreatif bertemu? Tentunya pastilah bakalan seru! Itulah kira-kira yang terjadi ketika empat penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards bertemu.

Mereka adalah Amilia Agustini dan Mansetus Kalimantan (penerima SATU Indonesia Awards 2010), Marwan Hakim (penerima tahun 2013) dan Maharani (penerima tahun 2014). Mereka berempat bertemu hari Jumat dan Sabtu (11 & 12 Desember) di tempat berkarya Maharani dan Marwan Hakim di Lombok Timur.

Pertemuan sekaligus kunjungan dan diskusi dengan empat anak muda ini merupakan bukti dari komitmen PT Astra International Tbk dalam membina penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards secara berkelanjutan. Banyak ide-ide kreatif yang muncul dalam hal penghijauan lingkungan melalui berbagai pohon, seperti gaharu serta bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Para Penerima Apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards bersama dengan Grup Astra berfoto bersama anak-anak berprestasi dari Pondok Ma’rif Riyadul Falah, Aikperapa, Kab Lombok Timur, yang menerima bantuan itik, ayam dan bibit Alpukat dari Grup Astra dalam rangka pembinaan berkelanjutan dari para penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards. Pondok Ma’rif Riyadul Falah, Aikperapa ini merupakan yayasan pendidikan yang didirikan oleh Marwan Hakim, penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2013. Dari kiri ke kanan atas; Maharani (penerima SATU Indonesia Awards tahun 2014), Yulian Warman (Head of Public Relations Divisions PT Astra International Tbk), Amilia Agustin (penerima tahun 2010), Kusmanto (Kordinator Wilayah Grup Astra Nusa Tenggara Barat), Marwan Hakim (penerima tahun 2013), dan Mansetus Kalimantan (penerima tahun 2010)
Para Penerima Apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards bersama dengan Grup Astra berfoto bersama anak-anak berprestasi dari Pondok Ma’rif Riyadul Falah, Aikperapa, Kab Lombok Timur, yang menerima bantuan itik, ayam dan bibit Alpukat dari Grup Astra dalam rangka pembinaan berkelanjutan dari para penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards. Pondok Ma’rif Riyadul Falah, Aikperapa ini merupakan yayasan pendidikan yang didirikan oleh Marwan Hakim, penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2013.
Dari kiri ke kanan atas; Maharani (penerima SATU Indonesia Awards tahun 2014), Yulian Warman (Head of Public Relations Divisions PT Astra International Tbk), Amilia Agustin (penerima tahun 2010), Kusmanto (Kordinator Wilayah Grup Astra Nusa Tenggara Barat), Marwan Hakim (penerima tahun 2013), dan Mansetus Kalimantan (penerima tahun 2010)

Tak cuma para penerima SATU Indonesia Award, di samping mereka berempat juga hadir dua blogger dalam kunjungan tersebut. Mereka adalah Ivan Loviano pemilik ivanloviano.com dan Nico Wijaya pemilik sekarduside.com.

Partisipasi blogger tersebut diharapkan dapat membantu menyebarkan virus positif yang telah dilakukan oleh penerima SATU Indonesia Awards di media sosial, sehingga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.

Pada kesempatan tersebut, Astra memberikan 300 itik, 50 ayam dan 300 pohon alpukat kepada Marwan, sedangkan 500 batang pohon gaharu untuk Maharani. Bantuan ini diharapkan dapat mendorong terus para penerima apresiasi untuk berkarya bagi lingkungan sekitarnya.

Aksi tersebut membuktikan bahwa SATU Indonesia merupakan langkah nyata dari Grup Astra untuk berperan aktif serta memberikan kontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Melalui SATU Indonesia Awards, Astra memberikan apresiasi kepada generasi muda yang berkontribusi positif kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Ajang apresiasi ini  telah berlangsung selama 6 tahun sejak dicetuskan pertama kali pada 2010. Hingga tahun 2015, sudah ada 32 sosok penerima apresiasi yang terus dibina Astra.

Pada prinsipnya di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yaitu Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.

Kisah Marwan Hakim: Sang Pejuang Pendidikan Aikperapa

Awalnya, cita-cita Marwan Hakim mendirikan sekolah adalah ingin melahirkan calon sarjana dari desanya yang selama ini belum pernah ada serta menghindari nikah dini dari anak-anak usia sekolah. Ia adalah pejuang pendidikan di Aikperapa, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Sejak ajang SATU Indonesia Awards 2013. Marwan memajukan pendidikan di Desa Aikperapa dengan memperbaiki infrastruktur, mulai dari jalan, gedung sekolah, ruang kelas, dan mengembangkan kegiatan kepemudaan.

Pemberian pakan bagi 300 itik di lingkungan sekolah Pondok Ma’rif Riyadul Falah, Aikperapa oleh Para Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards Maharani (penerima SATU Indonesia Awards tahun 2014), Amilia Agustin (penerima tahun 2010), Marwan Hakim (penerima tahun 2013), dan Mansetus Kalimantan (penerima tahun 2010), blogger nasional dan perwakilan Grup Astra.
Pemberian pakan bagi 300 itik di lingkungan sekolah Pondok Ma’rif Riyadul Falah, Aikperapa oleh Para Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards Maharani (penerima SATU Indonesia Awards tahun 2014), Amilia Agustin (penerima tahun 2010), Marwan Hakim (penerima tahun 2013), dan Mansetus Kalimantan (penerima tahun 2010), blogger nasional dan perwakilan Grup Astra.

Hingga saat ini, di sekolah yang didirikan Marwan sudah menelurkan lebih dari 500 lulusan SD, SMP dan SMA. Bahkan sudah ada beberapa murid sekolahnya yang melanjutkan ke perguruan tinggi dan lulus sebagai sarjana.

Marwan juga menambah kelas TK sebanyak dua kelas, dengan empat guru dan seorang petugas administrasi. Tak hanya itu, pejuang pendidikan ini mendirikan panti asuhan untuk merawat anak-anak yatim piatu dan terlantar. Saat ini, ada 15 anak yang diasuhnya di panti asuhan tersebut serta 42 anak di luar panti yang diasuh melalui santunan bulanan.

“Sejak saya menerima apresiasi SATU Indonesia Awards dua tahun lalu, banyak sekali partai yang mengajak saya ikut jadi calon di DPRD,” ujar Marwan sembari menyatakan bahwa dia akan terus fokus untuk pendidikan di kampung halamannya. “Alhamdulillah perkembangannya sekolah kami sangat pesat sekali dan minat anak-anak untuk bersekolah semakin tinggi dibanding sebelumnya untuk mencapai cita-cita mereka di perguruan tinggi.”

Kisah Maharani: Satu pohon Gaharu senilai Rp 50 juta

Sebagai petani pohon gaharu, binaan Maharani sudah tersebar ke wilayah lain di Indonesia seperti Kalimantan Tengah, Merauke, Biak, dan Ambon. Ia berbagi ilmu mengenai teknik budidaya gaharu, serta cara pemeliharaan dan pembuatan bibitnya.

Di Kalimantan Tengah, misalnya, ia akan melatih sekitar 50 petani mengenai injeksi kayu gaharu. Forum Petani Pecinta Gaharu bentukannya kini sudah mencatat 250 orang anggota. Dengan adanya forum ini, rekan-rekan petaninya dapat berkomunikasi lebih baik antarsesama petani dan menjadi lebih sejahtera dari segi ekonomi karena memiliki akses informasi harga kayu gaharu di pasaran.

Satu pohon gaharu siap panen berusia 5-7 tahun dapat dijual senilai Rp 50 juta, yang dibutuhkan oleh para industry parfum dunia. “Indonesia baru memasok 10% dari bahan baku parfum dunia. Oleh sebab itu inilah salah satu andalan ekspor masa dating yang bisa mensejahterakan petani,” ujar Maharani, yang menyelesaikan S3 di bidang pertanian ini.

Para peserta diskusi sepakat untuk mengembangkan pohon gaharu bernilai ekonomi tinggi ini di berbagai daerah. “Insya Allah saya akan membantu membudidayakannya,” tambah Maharani.

Kisah Amilia Agustin: Ratu Sampah Sekolah 

Dari Bandung, kini Amilia melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Bali. Wanita muda yang peduli lingkungan ini senantiasa terdorong untuk melakukan perubahan di mana pun ia berada. Dimulai dari program Go to Zero Waste School yang digagasnya beberapa tahun lalu, kini Amilia membentuk komunitas di Bali yang diberi nama Udayana Green Community untuk mengatasi masalah lingkungan dengan  harapan melibatkan banyak anak muda untuk berperan aktif. Lewat komunitas ini, ia dan teman-temannya sudah melakukan beberapa kegiatan seperti pengolahan sampah kertas dan kain perca, sosialisasi diet plastik, transplantasi dan perawatan karang, penanaman dan perawatan mangrove, serta pengelolaan bank sampah.

Kisah Mansetus Kalimantan Balawala: Sepeda Motor Untuk Bidan Desa 

Bermula dari Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS), Mansetus (Mans) fokus pada penyediaan jasa sepeda motor bagi petugas kesehatan, termasuk bidan, di Larantuka, Nusa Tenggara Barat.

Bersama 11 oang temannya, Mans memberikan transportasi gratis bagi para bidan yang membantu untuk proses kelahiran, sehingga tingkat kematian ibu-ibu hamil berkurang drastis melalui program tersebut.

Program gagasannya ini meliputi pelayanan kesehatan bermotor, pelatihan, pengembangan bengkel. Sejak 2013, Mans menginisiasi program advokasi buruh migran mengingat wilayah kerja YKS merupakan daerah basis buruh migran yang rentan terhadap kasus HIV/AIDS. Program tersebut dilakukan di Kabupaten Lembata dengan tiga desa sasaran, yakni Desa Dulitukan, Desa Tagawiti, dan Desa Beutaran.

Bersama keempat insan kreatif muda yang peduli ini, satu demi satu program SATU Indonesia Award berusaha menyebarkan virus kepedulian yang menginspirasi generasi muda Indonesia untuk memberikan bakti terbaiknya bagi satu nusan, satu bangsa, Indonesia tercinta. (WAW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here